Cinta Pertama Di Jabal Rahmah

Cinta Pertama Di Jabal Rahmah
Rempong


__ADS_3

Aina tergelak, "What? terombang-ambing nggak jelas? kok kaya masa depan aja sih Mas."


"Ya iya, ini nanti bisa mencetak masa depan kita lhoo Na," Aina tersenyum mendengar penuturan Mas Hisyam. Masa depan yang seperti apa sih Mas, hihi. Perihal ganti baju saja serempong ini ternyata.


"Udah ya, aku mau kembaliin baskom ke dapur dulu ya Mas." Hisyam mengangguk. Di dapur Aina memasak nasi agak lembek karena Mas Hisyam sedang sakit, Aina juga membuat sup ayam, mumpung Mas Hisyam tertidur.


Setelah semuanya matang, Aina menuangkan nasi dan sop ke dalam mangkuk agar mudah didinginkan. Aina membawa makanannya dengan nampan ke kamar. Aina lalu membangunkan Mas Hisyam.


"Mas, bangun, makan dulu biar nggak lemes, nanti habis itu makan obat yah." Aina menggoyang-goyangkan tubuh suaminya. Mas Hisyam membuka matanya perlahan.


"Na, Mas lagi nggak mau makan, mulutnya nggak enak,"ucap Mas Hisyam lirih.


Aina menggeleng, "Nggak boleh, pokoknya harus makan."


"Tapi Na?"


"Nggak ada tapi-tapian Mas, sebelum sayang sama Aina, harus sayang sama diri sendiri dulu, ngerti kan? kalau Mas sakit, Aina sedih, nggak tega." Aina akhirnya mengeluarkan jurus merayu pada suaminya agar mau makan.


"Berarti kalau Mas udah sayang sama diri sendiri, Mas boleh dong sayang sama kamu Na." Aina menatap suaminya. Ampun deh Mas Hisyam, lagi sakit malah jadi bahas perasaan.


Aina mengangguk, "Makan dulu yah?"


"Lauk apa?" tanya Mas Hisyam.


"Sop ayam, biar seger." Aina mengambil semangkuk sop hangat yang ada di atas nampan."


"Mas maunya mie ayam." Aina membelalakkan matanya. Permintaan Mas Hisyam membuatnya ingin sekali mencubit hidung mancungnya dengan sangat keras agar si empunya sadar dirinya sedang sakit.


"Mas lagi sakit, apa lagi nyidam sih? mintanya aneh-aneh." Aina dan Hisyam saling tatap.


"Nggak mungkin dong Mas nyidam, kamu nanti yang bakalan Mas bikin nyidam." Celetukan Mas Hisyam membuat pipi Aina merona seketika. Ngomong apa Mas Hisyam ini, ewita saja belum, bagaimana bisa nyidam.


"Udah nggak usah aneh-aneh." Aina menyuapkan sesendok sup ke mulut Mas Hisyam. Mas Hisyam mengangguk-angguk merasakan enaknya sup buatan Aina.


"Mas janji kalau kamu nyidam, bakalan Mas beliin apa yang kamu mau." Aina menatap suaminya. Kenapa jadi panjang ini bahas nyidam-nyidam.


Aina menyuapkan nasi dan sup lagi ke mulut Mas Hisyam, "Lagi sakit, pikirin sembuh dulu Mas."

__ADS_1


"Iya iya, galak banget kaya Umi." Aina malah tergelak. Suaminya saat sakit memang sangat manja sekali, mungkin karena itu juga Umi galak jika Mas Hisyam sakit.


"Na, makannya jangan banyak-banyak yah." Aina mengangguk, tapi ia terus saja menyuapi Mas Hisyam hingga tandas. Setelah itu Aina memberikan air minum untuk suaminya. Mas Hisyam meneguknya hingga habis juga.


"Na kok sampai habis sih." Aina tersenyum, "Udah sih Mas, sup nya udah terlanjur masuk di perut."


"Curang, Mas mau tidur ya Na." Aina menggeleng, Aina lalu mengambil obat di tas nya.


Mas Hisyam mengernyitkan dahinya, "Na, Mas nggak bisa minum obat."


"Masa udah gede nggak bisa minum obat sih." Aina membuka bungkus obat yang tadi ia beli di apotik. Obat penurun panas.


"Beneran Na, Mas nggak bisa." Aina melirik suaminya lalu tergelak.


"Serius Mas?" Mas Hisyam mengangguk. Aina menepuk dahinya.


"Kalau Makan dimsum segede itu masuk, ketelen, kenapa obat nggak bisa masuk, cuma kecil segini,"ucap Aina.


"Dimsum kan enak, kalau obat kan pahit Na, rasanya bikin mau muntah." Dari kecil Hisyam memang tidak bisa makan obat. Bahkan sangat tidak suka dengan bau obat sekalipun.


Aina dengan telaten merendam obatnya ke dalam sendok yang berisi air, "Yang pahit tak mesti harus dimuntahkan, dan yang manis tak mesti harus ditelan. Seperti takdir jodoh ini." Aina menutup mulutnya sambil menahan senyum.


"Ya iya, dulu kita menolak takdir pernikahan kita, kita merasa takdir ini begitu pahit, tapi kepahitan ini nggak mesti kita muntahkan, siapa tahu nanti suatu saat kita bisa saling menerima, begitu juga dengan manisnya cinta pada gebetan kita sebelumnya, itu juga tidak bisa kita telan semau kita, belum tentu juga gebetan kita jadi jodoh kita, mungkin saja hanya menjadi pemanis sesaat di kehidupan kita." Mas Hisyam menggenggam tangan Aina lalu mengelusnya. Mas Hisyam faham dengan ucapan Aina.


"Na, Mas nggak suka obat." Mas Hisyam memasang wajah melas di depan Aina. Aina menggoyang telapak tangannya tanda dirinya tidak setuju dengan Mas Hisyam.


"Na."


"Mas."


Aina lalu menyodorkan obat ke mulut Mas Hisyam, Mas Hisyam menggeleng. Aina menghembuskan nafasnya dengan kasar. Kenapa memberikan obat pada suaminya ini bagaikan menyuapi obat pada balita. Mas Hisyam sungguh terlalu.


"Mas ...." Aina meletakan sendok yang berisi obat terlebih dahulu. Ia lalu duduk mendekat di sebelah Mas Hisyam. Aina membelai pipi Mas Hisyam. Aina lalu mengecup lembut bibir suaminya. Mas Hisyam menatap Aina dengan tatapan sendu. Sore ini Aina benar-benar menggodanya, tapi apalah daya dengan ketidakberdayaan ini.


"Minum obatnya yah." Mas Hisyam seketika langsung mengangguk. Aina buru-buru mengambil sendok yang berisi obat, tidak lupa mengucap basmalah lalu menyuapkannya ke mulut Mas Hisyam. Aina lalu memberikan air minum untuk Mas Hisyam. Lega rasanya, akhirnya Mas Hisyam minum obat juga, walaupun dengan segala tipu daya sekuat tenaga, ternyata Mas Hisyam serempong itu jika sedang sakit.


"Alhamdulillah, Mas Hisyam pinter banget sih." Ucapan Aina barusan begitu menggelitik hatinya sendiri. Mas Hisyam usianya sudah tiga puluh tahun, tapi saat sakit, ia harus diperlakukan layaknya anak balita.

__ADS_1


Mas Hisyam tersenyum, "Kamu pinter banget ngerayunya, Umi aja kalah."


"Emang yah?" Mas Hisyam mengangguk.


"Nanti kalau Mas sudah sehat, rayu kaya tadi lagi yah?" Mas Hisyam benar-benar ngawur.


"Sehat-sehat memangnya mau tetep minum obat juga?" ucap Aina sambil terkekeh.


"Mau, kalau dirayu kaya tadi tapi."


"Genit ih." Saat Aina akan beranjak dari duduknya, Hisyam menarik lengan Aina, hingga Aina terduduk kembali di sebelahnya. Padahal Aina ingin merapikan bekas makan dan bekas obat dan membawanya ke dapur.


"Temenin Mas dulu di sini." Hisyam memeluk Aina, kepalanya ia sandarkan di bahu Aina, anehnya Aina tidak menolak.


"Mas, aku mau beresin itu dulu." Aina menunjuk ke arah nakas.


"Biarin aja, kamu tadi udah ganggu tidur Mas, jadi sekarang kamu harus tanggung jawab." Aina mengerutkan dahinya. Aina fikir membangunkan Mas Hisyam ya biar Mas Hisyam makan terus minum obat demi kesehatannya. Eh Aina malah jadi salah, dasar Mas Hisyam saja yang ingin cari-cari kesempatan.


"Terus aku harus gimana Mas?" Hisyam menggeser tubuhnya, ia lalu menyuruh Aina duduk naik di atas ranjang, kaki nya selonjor. Hisyam lalu menjadikan paha Aina sebagai bantal.


"Dielus Na kepala Mas." Ya ampun, sakitnya Mas Hisyam lebih rempong dari bayi yang sakit. Aina pun menuruti perkataan suaminya. Ia membelai perlahan rambut suaminya. Hisyam lalu menatap perut rata Aina.


"Na, Mas mau perut kamu di isi, jangan rata begini." Aina bingung dengan perkataan suaminya. Bukankah laki-laki lebih senang jika istrinya langsing.


"Gimana bisa makan kalau Mas begini," ucap Aina.


"Bukan di isi nasi Na, tapi di isi dede bayi." Aina yang semula menatap Mas Hisyam, kini mendongakkan kepalanya, Aina mesam mesem mendengar perkataan Mas Hisyam. 


☘️ Bersambung ☘️


.


.


.


.

__ADS_1


(Jiah, minta perutnya di isi biar nggak rata. Tenang mas Hisyam, nanti klo Aina sudah beranak pinak, bakalan menggelembung terus nggak kempes2, tapi isinya seblak, cilok, batagor, es cendol, pete, jengkol, nasi sebakul 🤣)


__ADS_2