Cinta Pertama Di Jabal Rahmah

Cinta Pertama Di Jabal Rahmah
Terombang-ambing


__ADS_3

Saat Aina dan Hisyam ingin pulang karena sudah waktunya jam pulang kantor, Mas Hisyam terlihat lemas. Sepertinya Mas Hisyam memang kelelahan. Aina menempelkan punggung tangannya di dahi Mas Hisyam, benar saja, dahi Mas Hisyam begitu panas.


"Mas kamu sakit, aku aja yang nyetir yah?" tanya Aina meminta persetujuan Mas Hisyam terlebih dahulu.


Mas Hisyam melirik Aina, "Emang kamu bisa Na?" Aina langsung mengangguk. Mas Hisyam dan Aina lalu keluar menuju parkiran. Mas Hisyam memberikan kunci mobilnya pada Aina. Aina menyetir mobil dengan sangat hati-hati. Mas Hisyam duduk sambil memejamkan matanya.


Aina juga tidak lupa untuk mampir dulu ke apotik untuk membeli obat turun panas untuk suaminya. Sesampainya di rumah, Aina langsung memapah suaminya yang terlihat sangat lemas sekali.


Aina merebahkan Mas Hisyam di atas kasur. Aina melepaskan sepatu dan kaos kaki suaminya. Setelah itu ia mengambil kaos bersih, serta celana pendek milik suaminya. Aina memasak air hangat, setelah mendidih, Aina masukan ke dalam baskom lalu ia tambahkan dengan air dingin agar suhu air menjadi hangat.


Aina membawa baskom berisi air hangat ke kamarnya, ia menatap Mas Hisyam yang tengah memejamkan matanya. Aina bingung, ia tidak tega membangunkan Mas Hisyam yang kelelahan juga sedang sakit.


Aina memberanikan diri membuka kancing kemeja Mas Hisyam satu persatu. Sampai di batas perut, Aina meneguk salivanya. Ini pertama kalinya Aina melihat tubuh suaminya di depan mata, sangat dekat, tanpa busana. Bersih dan berotot. (Uwowwww 🤣🤣)


Aina terpaku memandangi keindahan yang ada di depan matanya. Halal baginya, namun malu untuk mengakuinya. Aina menyentuh dada Mas Hisyam perlahan sambil memejamkan matanya. Dada Mas Hisyam benar-benar terasa panas.


Mas Hisyam membuka matanya perlahan, lalu menggenggam jemari Aina yang menempel di dada Mas Hisyam. Aina tersadar akan hal itu, saat tangannya ia tarik, Mas Hisyam malah semakin erat menggenggam.


"Mas, kamu lagi sakit, jangan macam-macam deh." Aina mengingatkan Mas Hisyam bahwa Mas Hisyam kini tengah demam.


"Mas cuma satu macam Na, nggak punya kembaran," ucap Hisyam dengan nada suara yang terdengar begitu lemas.


"Ya udah lepasin, aku mau lap badan Mas, mau aku ganti, apa Mas sendiri aja deh yah." Eh Mas Hisyam malah menggeleng. Tua tapi manja.🤣


Mas Hisyam melepaskan genggamannya, Aina lalu membuka baju Mas Hisyam. Kini tubuh Mas Hisyam terpampang nyata di depan Aina.


Aina mengambil washlap yang ada di dalam baskom, memerasnya, Aina mulai mengelap tubuh Mas Hisyam secara perlahan. Mas Hisyam memperhatikan gerak-gerik Aina. Mas Hisyam semakin mengagumi gadis kecilnya ini karena begitu perduli padanya.


Walaupun dari segi umur, Aina terbilang masih sangat muda, tapi dirinya tahu betul cara memperlakukan suami dengan baik.


Selesai mengelap tubuh suaminya dengan washlap, kini Aina mengelap lagi dengan handuk kering. Setelah itu Aina memasang baju di tubuh Mas Hisyam. Aina lega, tugas yang membuatnya deg-degan akhirnya selesai juga. Ketika Aina ingin membawa baskom dan washlap ke dapur, Hisyam menahan tangan Aina.

__ADS_1


"Na, gantiin celana nya juga,"ucap Hisyam tanpa rasa malu. Aina membelalakkan matanya. Wajahnya memerah.


"Jangan ngawur ih, aku nggak mau Mas." Aina kini membelakangi Mas Hisyam karena malu.


"Kan celana Mas juga kotor Na, nanti gatel gimana?" Aina menghadap Mas Hisyam, "Mas cuma demam, bukan nggak bisa jalan, jadi ganti sendiri."


"Tapi Mas bener-bener lemas Na, kali ini aja kok, lagian juga kita kan sudah suami istri, nggak masalah kan kalau gantiin celana." Mas Hisyam memang paling pintar memutar-mutar pikiran Aina.


"Nggak ah, malu ih, itu nanti aku jadi ngeliat apa yang tidak seharusnya aku lihat Mas, jangan ngaco." Saat itu Hisyam ingin sekali tertawa, sayangnya tubuhnya sangat lemas.


"Halal Na, dilihat juga nggak dosa." Tuh kan Mas Hisyam memang paling bisa.


"Mas, emang harus yah?" Aina merengek agar Mas Hisyam berusaha menggunakan celana sendiri saja.


Mas Hisyam mengangguk, "Nanti gatel Na, kan ini seharian buat kerja."


Benar sih apa kata Mas Hisyam. Aina menghirup nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan-lahan.


Hisyam menyebut pusakanya dengan sebutan Dicky, kata **** itu berasal dari bahasa inggris, cari saja sendiri artinya.🤣


Aina kembali masuk ke dalam kamar. Aina meletakan baskom air hangatnya di atas nakas, ia tidak langsung membuka celana suaminya, dirinya membuka lemari terlebih dahulu, lalu mengambil kacamata hitam yang ia punya. Setelah itu ia memakainya sebagai antisipasi agar matanya tidak cidera melihat sesuatu yang sakral.


Hisyam mengernyitkan dahinya melihat kelakuan istrinya, ingin sekali tertawa, tapi lagi-lagi tertahan karena tidak memiliki tenaga.


Aina perlahan melucuti celana suaminya, namun matanya entah melihat kemana. Namun sesekali juga melirik ke arah sana karena penasaran. Hati dan pikirannya benar-benar sedang berperang, hatinya tidak ingin melihat, tapi pikirannya ngebet sekali ingin melihat.🤣 Nasib.


Aina lalu mengelap paha suaminya, turun ke betis, lalu turun ke telapak kaki. Hisyam juga menahan hasratnya, andai saja dirinya sedang tidak sakit, mungkin saat itu juga ingin 'memakan' Aina saat itu juga.


"Mas, dalemannya buka sendiri, aku benar-benar nggak mau lhoo buka yang itu, nih lap sendiri juga bagian yang itu." Aina memberikan washlapnya pada Mas Hisyam.


"Jangan setengah-setengah dong Na." Aina memicingkan matanya. Mas Hisyam ini suka ngadi-ngadi kalau nyuruh nih ya.

__ADS_1


"Mas, Aina ambilin gunting nih." Kini Hisyam yang memicingkan matanya. Tangannya otomatis langsung menutupi si Dicky. 


"Iya iya." Hisyam akhirnya membersihkan sendiri area paling gagah yang ada pada dirinya. Cari aman, dari pada digunting sama Aina, cuma ada satu-satunya, di toko tidak tersedia, kan bahaya.


"Sudah Na." Selesai membersihkan si Dicky, Mas Hisyam meminta tolong Aina untuk memakaikan celananya yang bersih.


"Pakai sendiri Mas." Aina memberikan celana pendeknya pada Mas Hisyam.


"Dalemannya mana Na?" Mas Hisyam hanya menerima celana pendek saja.


"Udah pakai itu saja sih Mas, kan nggak kemana-mana."


Mas Hisyam menepuk dahinya, "Nggak gitu juga Na, rasanya nggak enak, terombang-ambing nggak jelas nanti."


Aina tergelak, "What? terombang-ambing nggak jelas? kok kaya masa depan aja sih Mas."


"Ya iya, ini nanti bisa mencetak masa depan kita lhoo Na," Aina tersenyum mendengar penuturan Mas Hisyam. Masa depan yang seperti apa sih Mas, hihi.


☘️ Bersambung ☘️


.


.


.


.


.


(Terombang-ambing kaya perasaanku padamu yang terus di PHP in🤣)

__ADS_1


__ADS_2