Cinta Pertama Di Jabal Rahmah

Cinta Pertama Di Jabal Rahmah
Makan Siang


__ADS_3

Setelah melaksanakan salat Dzuhur, Hisyam bergegas menuju kampus Aina. Ia ingin menjemput Aina lalu makan bersama Aina di kantornya. Bekal dari Aina akan Hisyam makan bersama Aina di kantor nanti.


Sesampainya di kampus Aina, Hisyam segera menghubungi Aina. Aina pun langsung menuju gerbang kampus. Namun langkahnya terkejar oleh Kak Rasyid. Aina yang memang mungil, tidak bisa menang saat Kak Rasyid mengejarnya. Akhirnya Aina pasrah saat Kak Rasyid sudah berada di sampingnya.


"Na, Pulang?" tanya Kak Rasyid. Biasanya Kak Rasyid akan mengajak Aina untuk duduk di cafe depan kampus. Berdiskusi tentang perkuliahan dan tentunya tentang perasaan juga.


Aina mengangguk, "Iya Kak, Kakak juga mau pulang?"


Kak Rasyid menggeleng, "Kakak mau ngopi dulu di depan kampus."


Aina menundukan kepalanya. Mendengar jawaban Kak Rasyid, rasanya hatinya begitu sakit. Biasanya itu tempat mereka berdua mengobrol, bercanda ria. Tapi sekarang sudah tidak bisa lagi. Aina harus menjaga marwahnya sebagai seorang istri. Walaupun hanya istri sesaat untuk Mas Hisyam.


"Mau ngopi?" tanya Kak Rasyid. 


Aina menggeleng, "Mau langsung pulang Kak, itu sudah dijemput." Aina menunjukan mobil sedan berwarna hitam di sebrang jalan.


"Mari Kak." Aina melangkahkan kakinya lebih cepat. Kak Rasyid terdiam memandangi Aina yang dijemput oleh suaminya. Terlihat seorang laki-laki tampan, membuka kaca jendela mobilnya sambil melambaikan tangan ke arah Aina.


Aina bergegas masuk ke dalam mobil suaminya. Setelah duduk ia langsung memegangi dadanya. Rasanya jantungnya masih belum normal, degupnya masih terasa kencang.


"Apa itu laki-laki yang kamu ceritain?" celetuk Mas Hisyam. Aina mengangguk.


"Masih ganteng Mas lah Na." Aina menatap tajam ke arah Mas Hisyam, tidak percaya dengan Mas Hisyam yang begitu percaya diri.


"Dih, pede boros." Eh Mas Hisyam malah tergelak.


"Ganteng juga Kak Rasyid." Hisyam melirik Aina, 


"Ganteng juga suamimu Na, ih nanti Mas belikan kacamata." Aina mengernyitkan dahinya, tumben nih Om Tukri mengucap dirinya sebagai suami.


"Ya ya ya, terserah Mas deh, yang penting Mas seneng." Mas Hisyam tersenyum penuh kemenangan. Mas Hisyam lalu membawa Aina menuju kantornya.


"Na, mau makan apa? mumpung belum sampai kantor, Mas sih makan bekal dari kamu." tanya Mas Hisyam.


Aina berfikir sejenak, "Mau nasi kebuli Mas." Mas Hisyam mengangguk. Aina tersenyum, gini nih enaknya punya suami baik. Apapun dituruti.


Hisyam dan Aina mampir dulu di restoran yang menjual nasi kebuli. Aina lalu memesannya. Setelah mendapatkannya, mereka berdua lalu kembali lagi ke mobil dan bergegas menuju kantor Hisyam.


***

__ADS_1


Sesampainya di kantor Hisyam, Hisyam lalu menggenggam tangan Aina. Aina terkejut dengan perlakuan manis suaminya.


"Mas kok digandeng? malu Mas?" Aina merengek agar Mas Hisyam melepaskan genggamannya.


"Udah, nurut aja, di sini banyak buaya betina, Mas takut,"tutur Mas Hisyam. Tangannya masih setia menggandeng Aina, walaupun banyak pasang mata yang melihat mereka dengan penuh tanya.


Aina mengernyitkan dahinya, "Ya kalau ada buaya betina, Mas pakailah jurus kucing garong, atau nggarangan mencari mangsa," ucap Aina sambil terkekeh. Mas Hisyam tidak menjawab lagi, ia hanya melirik Aina sekilas.


Sampai juga Aina dan Hisyam di depan lift. Saat lift terbuka, Hisyam dikejutkan dengan wanita cantik yang ada di dalam lift. Citra si cantik jelita, sexy sepanjang masa, mencinta Hisyam dari dahulu kala, namun selalu penolakan yang ia terima, walaupun sudah mandi kembang tujuh rupa untuk memikat pujaan hatinya. Nyatanya tetap saja, diTOLAK. Mungkin kembangnya harus sejuta rupa biar mantul.


"Eh, Pak Hisyam," sapa Citra, si Bunga kantor. Citra dijuluki bunga kantor karena parasnya yang bisa membius para kucing garong yang ada di kantor ini kecuali Hisyam.


"Ya Citra." Citra melirik wanita mungil yang digandeng gebetannya itu.


"Ini siapa Pak?" Citra memberanikan diri menanyakan wanita yang digandeng laki-laki incarannya itu.


"Sepupu," Celetuk Aina.


"Istri,"jawab Hisyam bersamaan dengan Aina. Citra bingung. Jawaban mana yang benar.


Hisyam merangkul bahu Aina lalu merapatkan ke tubuhnya, "Ini istri saya, namanya Aina."


"Ah, bapak jangan bercanda dong," Celetuk Citra.


"Ah saya nggak percaya gosip Pak."


"Itu nggak gosip, ini beneran istri saya, nggak percaya?" tanya Hisyam. Dan Citra pun menggeleng cepat.


Hisyam mengeratkan lagi cengkramannya di bahu Aina, lalu ia langsung mengarahkan wajah Aina agar menghadap wajahnya. Seketika itu juga, Hisyam mengecup kening Aina. Hal itu membuat Citra terperangah.


Aina pun sama terkejutnya, mulutnya menganga, ia tifak percaya Mas Hisyam akan menciumnya di depan orang lain, ya walaupun hanya ciuman di kening. Tapi itu kan hal yang spektakuler.


"Mas?" Aina melirik suaminya.


"Iya sayang," jawab Mas Hisyam sambil tersenyum manis. Aina merasa aneh, Mas Hisyam ini sedang kesurupan atau bagaimana.


Citra akhirnya terpaksa percaya, ia langsung buru-buru keluar dari lift saat pintu lift terbuka. Setelah itu Hisyam malah mengerlingkan sebelah matanya.


"Makasih ya udah bantu Mas." Aina bingung tidak mengerti, membantu apa memangnya.

__ADS_1


"Mas katanya nggak ada kontak fisik, pelanggaran itu namanya." Aina protes pada Hisyam.


"Iya maaf, itu harus dilakukan karena terdesak." Hisyam menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya sebagai simbol permintaan maafnya.


"Itu tadi siapa memangnya?" tanya Aina penasaran.


"Itu salah satu buaya betina yang ada di kantor ini."


Aina mengernyitkan dahinya. Buaya betina secantik itu, dan Mas Hisyam menolaknya. Aina jadi pemasaran, wanita yang Mas Hisyam cintai itu seperti apa, sampai yang model bunga kantor saja, Mas Hisyam tidak mau.


***


Akhirnya sampai juga di lantai di mana terdapat ruangan kerja Hisyam. Aina dan Hisyam berjalan keluar dari lift. Mereka berdua lalu masuk ke dalam ruangan Hisyam.


Aina sempat tertegun dengan desain ruang kantor suaminya. Manly sekali, temboknya bercat abu-abu campur putih dengan bufet dan lemari warna hitam.


Aina lalu duduk di sofa, ia menata makanannya. Mas Hisyam memberikan wadah bekal yang ia bawa tadi pagi. Aina juga menata bekal Hisyam di meja. 


"Mas, galon minuman di mana?" tanya Aina. Hisyam langsung menunjukkannya. Aina lalu mengambil botol minum yang ada di tasnya, setelah itu mengisi penuh dengan air minum.


Mereka berdua makan bersama, Aina melihat Mas Hisyam begitu lahap memakan bekal yang ia masak.


"Mas, mau cobain ini nggak?" Aina menawarkan nasi kebuli pada suaminya. Hisyam mengangguk. Aina langsung menyuapi  Mas Hisyam dengan tangannya.


"Enak ya Na?" Aina mengangguk.


"Mas Mau lagi Na," ucap Mas Hisyam, refleks Aina langsung menyuapi Mas Hisyam lagi.


Mereka menghabiskan makan siang mereka tanpa sisa. Aina dan Hisyam saling senyum. Makan berdua, ada adegan suap menyuapi, lalu minum satu gelas untuk berdua. Kok jadi sweet sih.


☘️ Bersambung ☘️


.


.


.


.

__ADS_1


Intermezzoo:


Menurut mak San, perempuan itu memang paling suka diperlakukan dengan baik, karena perempuan itu kodrat nya berperasaan lembut. Emak kalau jadi Aina, gampang banget itu jatuh cintanya, Hisyam nya baik, bukan dijodohkan ala-ala beda kasta, banyak duitnya lagi. Wah itu poin pentingnya, duit, dasar emak emak🤣


__ADS_2