Cinta Pertama Di Jabal Rahmah

Cinta Pertama Di Jabal Rahmah
Nasihat Adrian


__ADS_3

Banyak pasang mata yang melihat Hisyam tidak seperti biasanya membawa tempat bekal lucu warna biru motif kartun tsum-tsum. Aina memang suka ngadi-ngadi ini, membelikan kotak bekal untuk suaminya malah yang bergambar kartun imut ini. Tapi ya sudah lah, Hisyam tidak menghiraukan orang-orang yang ada disekitarnya.


Karyawan di Kantor ini sepertinya percaya dengan berita desas desus jika direkturnya telah menikah. Mereka juga berargumen jika bekal itu dari istri Hisyam. 


Hisyam langsung masuk ke dalam ruangannya. Lalu meletakan wadah makannya di atas meja kerjanya. Ia duduk lalu menyalakan leptopnya. 


Adrian datang mengucapkan salam tanpa mengetuk pintu. Langsung nyelonong seperti biasa. Tempat kerja Adrian memang satu ruangan dengan Hisyam karena memang Adrian sekretaris pribadi Hisyam.


Pandangan mata Adrian  tertuju pada wadah bekal lucu di atas meja Hisyam. Adrian menghampiri Hisyam terlebih dahulu lalu mengetuk-ngetuk wadah makan bergambar kartun Tsum-tsum itu.


Adrian tergelak, "Siap-siap gemuk pokoknya udah punya bini mah." Hisyam hanya melirik Adrian sekilas. Tapi memang benar, sejak Adrian menikah, Hisyam perhatikan tubuh Adrian semakin berisi, apalagi di bagian perutnya. Pokoknya berubah jadi bapakable banget.


"Kenapa begitu yah?" celetuk Hisyam.


"Ya berarti s*su nya cocok," jawab Adrian sambil tergelak. 


"Bukannya kamu nggak minum susu ya, kan katanya alergi s*su sapi." Hisyam memang benar-benar belum mengerti maksud Adrian.


Adrian berdecak, "Hih, heran deh, nggak pinter-pinter banget tapi jadi bos."


Hisyam mengernyitkan dahinya, apa hubungannya bos dengan s*su serta kepintaran.


"Ini s*su surga, jangan pura-pura deh,"ucap Adrian sambil terkekeh. Adrian lalu menunjuk ke arah dadanya sendiri.


Hisyam menepuk dahinya, "Gila dasar." Jadi teringat sesuatu di balik baju tidur Aina semalam. Hisyam menggeleng lalu kembali fokus ke layar leptop yang ada di depannya. Tiba-tiba ada kertas melayang mengenai tubuhnya. Tentu saja ulah Adrian.


"Ssstttt .... Ssttt, semalam berapa ronde?" Tanya Adrian sambil terkikik sambil menutup mulutnya.


"Nggak ada," jawab Hisyam ketus. Kenyataannya memang tidak ada, Hisyam dan Aina sepakat untuk tidak ewita. 

__ADS_1


"Kamu demen sama cewe kan Syam, curiga ih, takut demennya model-model lusinta lusa." Mendengar jawaban Hisyam yang tidak melakukan malam pertama di umur Hisyam yang sudah 30 tahun menjomblo, Adrian sedikit curiga.


Hisyam melempar pulpen ke arah Adrian, "Sembarangan, normal lah, kalau aku belok, kamu udah jadi korbannya." Seketika Adrian malah tergelak. Benar juga sih, jika Hisyam melenceng dari kodratnya, pasti Adrian yang akan pertama menjadi korban. Setiap hari satu ruangan dengan Adrian.


"Buktiin dong," ledek Adrian. Hisyam melirik Adrian, "Buktiin gimana?"


"Hamili istri mu lah." Hisyam mendengus kesal. Adrian semakin ngadi-ngadi nih. Hisyam menarik nafasnya lalu menceritakan hal yang sebenarnya terjadi pada pernikahannya.


"Aku sebenernya ada kesepakatan dengan Aina, kita berdua menikah demi keluarga, jadi kita sepakat untuk tidak saling menyentuh,"ucap Hisyam. Adrian pun terkejut mendengarnya. Adrian mengurungkan niatnya menyalakan leptopnya. Sepertinya pekerjaan hari ini akan diawali dengan curhatan Hisyam.


Adrian malah menghampiri Hisyam, duduk di depan meja Hisyam.


"Gimana-gimana tadi, kurang faham nih." Hisyam mendengus kesal, ia kembali mengulang perkataannya.


Adrian terkekeh, "Aku sih nggak yakin kalau kamu kuat, iya sih sehari dua hari kuat, tapi seminggu, dua minggu, sebulan, apa masih kuat?"


Pikiran Hisyam menerawang jauh, ia teringat jika di rumah Aina selalu mengenakan pakaian pendek.


"Berisik deh ah, bikin pusing malah ih curhat sama kamu." Adrian tergelak, "Lagian kenapa sih? Udah sih, masalah cinta, nanti lama-lama juga cinta."


"Aku masih cari gadis kecilku dulu,"ucap Hisyam, hal ini membuat Adrian berdecak. Adrian kesal dengan Hisyam yang masih sibuk mencari hal yang tidak pasti.


"Belajarlah menerima takdir yang menimpa diri kita. Yakinlah bahwa setiap takdir Allah untuk kita selalu baik, apapun bentuk takdir itu. Takdir yang baik, tentu baik untuk kita. Takdir yang nampak tidak menguntungkan buat kita, ternyata ada yang Allah 'paksakan' untuk kita yang tidak kita sadari saat itu. Yakinlah bahwa Allah melihat yang terbaik untuk kita." Adrian menasehati Hisyam demi kebaikan Hisyam. Adrian ingin Bos nya move on dari cinta pertama yang tidak jelas keberadaannya.


Hisyam menganggu, "Bener juga sih, ih salut nih sekarang makin bijak," ledek Hisyam.


"Harus dong, udah jadi bapak-bapak harus semakin bijak biar rumah tangga adem ayem. Oh ya itu istrimu udah baik banget bawain bekel segala,"ucap Adrian sambil tersenyum karena melihat wadah bekal bergambar kartun Tsum-tsum yang di bawa bos nya sangat berbanding terbalik dengan karakter Hisyam yang tegas di kantor. 


"Iya dia memang baik, ini dasi aja dia yang pasangin." Hisyam melihat dasinya sambil tersenyum.

__ADS_1


"Tuh, udah baik begitu, jangan sia-siakan deh, apalagi di mubadzirin. Nggak disentuh sama sekali" Adrian menutup mulutnya lalu beranjak dari tempat duduknya menuju meja kerjanya.


Hisyam kembali fokus menatap layar leptopnya. Tapi sekilas tiba-tiba ia teringat Aina. Apakah Aina di kampus sedang berduaan dengan kakak tingkatnya itu. Hisyam juga mengingat kembali kejadian-kejadian ketika serumah dengan Aina. Benar kata Adrian, apakah dirinya bisa menahan diri, karena saat di rumah Aina selalu mengenakan pakaian pendek.


Hisyam mengambil ponselnya lalu mengirim pesan pada Aina. Hisyam menanyakan Aina sedang apa? Lalu pulang jam berapa.


Aina yang sedang melihat temannya sedang presentasi di depan kelas tiba-tiba saja merasakan jika ponsel yang ada di dalam tasnya bergetar. Aina lalu meletakan tas nya di pangkuannya, ia lalu melihat ponsel yang ada di dalam tasnya. 


Aina melihat ada pesan WhatsApp masuk dari Mas Hisyam. Aina lalu membaca pesan itu. Aina mengernyitkan dahinya.


"Pertanyaan macam apa ini, kan tahu kalau aku lagi kuliah, ya lagi belajar lah, masa lagi gali sumur." Gumam Aina dalam hati.


Aina lalu membalasnya, Aina membalas jika dirinya sedang belajar dan akan pulang Dzuhur nanti. Hisyam yang mendengar ponselnya bergetar langsung meraihnya, ia tersenyum ketika melihat ada balasan dari istrinya. Hisyam pun membalas lagi bahwa dirinya akan menjemput Aina dzuhur nanti dan mengajaknya makan siang.


Aina tidak menghiraukan lagi getaran ponselnya. Ia fokus mendengarkan temannya yang sedang presentasi.


Selesai jam mata kuliah yang pertama, Aina berpamitan pada sahabatnya jika ia ingin ke toilet. Aina bergegas ke toilet. Aina juga sambil membalas pesan Mas Hisyam di sana. Aina mengiyakan ajakan makan siang Mas Hisyam. Lumayan kan ada yang traktir.🤭


Keluar dari toilet saat Aina ingin kembali menuju kelasnya, Aina di kejutkan dengan suara sapaan dari Kak Rasyid.


"Aina ..."


Aina membalikan tubuhnya dan melihat Kak Rasyid tepat di belakangnya.


"Tolong jangan menghindar lagi dari Kakak ..." ucap Kak Rasyid dengan mimik muka melas. Ucapan Kak Rasyid membuat Aina pilu, tapi ia bingung harus berbuat apa.


☘️ Bersambung ☘️


(Readers semua sudah tau dong kata yang ada simbol *, soalnya klo ga pke * pasti ga lulus review, pelanggaran🤭 walaupun maknanya berbeda)

__ADS_1


Jangan lupa like komen dan Vote.


__ADS_2