Cinta Pertama Di Jabal Rahmah

Cinta Pertama Di Jabal Rahmah
POV Alaina


__ADS_3

Sudah beberapa bulan aku menjalani biduk rumah tangga dengan Mas Hisyam dan setelah malam "itu" kita akhirnya sepakat untuk menjadi sepasang suami istri pada umumnya, semua perjanjian di awal dihapuskan, kita berdua kembali menata rumah tangga kita dengan sewajarnya, bahkan sudah mulai saling mencintai satu sama lain.


Kini sudah 3 bulan sejak kejadian malam itu, jangan tanya, sekalinya merasakan enaknya, Mas Hisyam hampir setiap malam memintanya. Harap maklum yah.🤭


Sudah 3 Bulan juga sejak kejadian si mentel alias Anggita mencoba merebut Mas Hisyam dariku tapi yang jelas aku lawan, dan hampir setiap hari Anggita ini menjadi hawa panas dalam hatiku karena sering sekali memanas-manasi aku dengan hal-hal yang membuatku emosi. Dasar wanita tidak tahu diri.


Dengan sikap Anggita yang seperti itu akhirnya aku jadi sering uring-uringan pada Mas Hisyam, yang jelas aku takut mas Hisyam kecantol dengannya yang cantik mantuliti. Aku memang kalah jauh soal fisik, tapi soal akhlak, aku tidak mau yah bersaing dengannya.


Aku sering mengutarakan kecemburuanku di depan mas Hisyam. Terkadang mas Hisyam tidak meladeni rasa cemburuku. Sejak mencintainya, aku jadi sedikit posesif. Ya begitulah kehidupan rumah tangga tidak selalu berjalan mulus. Ada saja hal-hal yang menimbulkan pertengkaran dalam rumah tangga. Bahkan, masalah kecil bisa menjadi biang keributan dan penyebab sepele suami istri bertengkar.


Kata Amih, membangun bahtera rumah tangga ituĀ  seperti Berlayar di lautan, kadangkala bertemu ombak ombak kecil dan adakalanya bertemu dengan badai, sehingga kesiapan dan persamaan tujuan antara Nahkoda dan awak kapal mampu mengimbangi hantaman badai sehingga kapal bisa berlabuh di pelabuhan.


Berumah tangga bagaikan mengarungi lautan lepas menuju satu pulau impian. Tiada lautan tak berombak dan tiada samudra tanpa badai. Jikalah nahkoda arif dan bijak memandu, bisa membaca kompas, mengetahui gejala alam dan badai, mengukur kemampuan kapal, tidak memuat beban melebihi kapasitas, membagi tugas dengan baik kepada seluruh anggota, niscaya mereka kan sampai ke pulau idaman dengan selamat.


Jika nahkoda tidak faham mengemudi, membaca arah angin, menghindari badai maupun karang, alamat kapal kan segera tenggelam.


Kata Amih pada tahun-tahun awal inilah justru biasanya ujian pernikahan dari kesetiaan dan cinta dari masing-masing pasangan akan diuji. Benar sekali, entahlah saat aku mulai begitu mencintai mas Hisyam tiba-tiba saja Rasyid malah semakin gencar mendekatiku, begitu juga dengan Anggita yang gencar mendekati suamiku.


Financial oke, mertua dan ipar pun oke, malah di uji orang ketiga. Tapi aku sadar, dunia ini memang tempatnya ujian.


Hari ini tumben sekali mas Hisyam tidak meneleponku untuk makan siang bersama, entah lupa, atau terlalu sibuk bekerja. Aku akhirnya berinisiatif untuk mengunjungi kantor mas Hisyam.


Sesampainya di kantor mas Hisyam, bertepatan dengan jam istirahat kantor. Karyawan berhamburan menuju kantin ada juga yang makan di luar. Aku langsung saja menuju ruangan mas Hisyam.


Aku mengetuknya terlebih dahulu lalu masuk ke dalam. Aku melihat suamiku sedang memegangi pelipisnya. Matanya fokus tertuju pada beberapa berkas. Saking fokusnya, mas Hisyam sampai tidak menyadari kedatanganku.


Mas Adrian menghampiriku lalu bercerita jika perusahaan sedang tidak baik-baik saja belakangan ini. Mas Adrian berpesan agar aku lebih baik pulang saja karena dari tadiĀ  emosi mas Hisyam sedang tidak stabil.

__ADS_1


Ah pantas saja sudah tiga hari ini mas Hisyam selalu sibuk bekerja sampai larut malam sekalipun di rumah. Ternyata perusahaan sedang ada masalah. Entahlah kenapa mas Hisyam belum mau bercerita denganku. Tapi kata mas Adrian aku tidak perlu khawatir, semuanya pasti akan baik-baik saja.


Aku menghampiri mas Hisyam, mendekat ke arahnya. Berkas yang mas Hisyam baca terhalang oleh bayanganku. Mas Hisyam langsung menengadah.


"Ya Allah Na, maaf, mas nggak sadar kamu ada di sini," ucapnya. Aku tersenyum padanya, lalu mengulurkan tanganku. Karena kebiasaan aku mencium punggung tangan mas Hisyam ketika bertemu.


"Mas, aku pulang saja yah, mas lagi sibuk banget," usulku. Mas Hisyam tanpa ragu mengangguk, lalu meminta maaf dan bercerita sedikit jika ada masalah keuangan dalam perusahaannya.


Aku mengangguk mencoba memahami lalu memberi semangat pada suamiku. Sebelum aku pulang, aku berencana membelikan makanan terlebih dahulu untuk suamiku. Aku tidak ingin mas Hisyam terlalu memforsir tenaga dan pikirannya sampai lupa makan.


Saat sudah berada di lantai bawah, aku terlebih dahulu masuk ke dalam toilet karena ingin buang air kecil. Sesampainya di toilet, aku mendengar suara seseorang sedang berbicara dengan nada berbisik-bisik.


Toilet saat itu sepi, karena karyawannya sedang istirahat. Aku menghentikan langkah kakiku ketika nama suami ku menjadi bahan perbincangan.


Aku berjalan-jalan mengendap-endap mencari sumber suara. Aku menemukannya di toilet paling ujung. Akupun masuk ke dalam toilet yang ada di sebelahnya tanpa menutup pintu, kebetulan pintunya hanya tertutup separuh. Aku kembali menajamkan telingaku, ternyata bukan sedang berbisik, melainkan sedang telfonan.


(Pak Hisyam tidak akan tahu, karena aku punya teman IT terbaik di kampusku. Dia juga tidak akan mencurigai aku, tenang aja, tapi jangan lupa bayarannya harus dua kali lipat, aku mau facial nih, mau shoping-shoping juga, ingat jangan sampai lupa transfer, kamu dapat bermilyar-milyar bu, masa saya cuma dapat puluhan juta doang tapi telat transfer) ucap wanita yang ada di dalam kamar mandi.


Dadaku tiba-tiba nyeri, ya Allah, siapakah wanita yang ada di dalam sini. Ingin sekali aku mencabik-cabiknya. Wanita itu mengakhiri panggilannya. Aku yang berdiri di belakang pintu berharap wanita itu tidak mengetahui keberadaanku.


Saat wanita itu sudah keluar, aku yang tadinya ingin buang air kecil akhirnya aku tahan, aku langsung mengendap-endap keluar dari toilet juga. Alangkah terkejutnya ketika aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, ternyata wanita yang ada di dalam toilet tadi adalah Anggita. Mahasiswi magang yang sudah berani-beraninya berbuat curang di dalam perusahaan suamiku.


Aku langsung berlari menuju ruangan mas Hisyam, tidak jadi buang air kecil, tidak jadi membeli makan juga, masalah ini sudah sangat urgent menurutku.


Sesampainya di sana, aku juga langsung masuk ke dalamĀ  tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Mas Hisyam sedikit terkejut, apalagi aku datang dengan nafas tersengal-sengal.


"Na, kamu kenapa?" tanya mas Hisyam khawatir.

__ADS_1


"Mas aku mau tanya, Anggita itu magang di bagian mana?"


"Sekarang dia sudah nggak magang lagi, udah resmi bekerja di sini, karena kebetulan ada karyawan yang risegn." Jawaban mas Hisyam membuatku terkejut, kenapa mas Hisyam tidak cerita soal ini. Apakah mas Hisyam begitu senang Anggita menjadi karyawan di perusahaan ini.


"Mas kenapa mas nggak cerita?"


"Tidak semua hal harus diceritakan Na, dia tidak penting." Jawaban Mas Hisyam membuatku lega.


"Dia bekerja di bagian mana Mas?"


"Keuangan, sesuai jurusan kuliahnya."


Aku semakin terkejut, sepertinya felling ku benar, Anggita dan seniornya lah yang mencoba korupsi di perusahaan ini.


"Mas, coba deh kamu periksa dia dan teman-temannya." Aku mencoba memberikan usulan pada mas Hisyam.


Mas Hisyam memijat pelipisnya, "Jangan bawa-bawa cemburu kamu ke dalam masalah kerjaan saya Na, kamu jangan buat saya lebih pusing," ucap Mas Hisyam sedikit meninggikan suaranya.Ā 


"Mas tadi tuh di toilet aku denger Anggita lagi telfonan sama ...."


"Cukup, mending kamu keluar dari sini deh, kamu jangan nambahin beban."Ā 


Aku memaku, perkataan mas Hisyam benar-benar menyakiti hatiku. Bahkan mas Hisyam tidak mau mendengarkan ceritaku. Mas Adrian langsung berlari menghampiriku, lalu mengajakku keluar dari ruangan. Mas Adrian menasehatiku agar aku tidak ambil hati atas perkataan mas Hisyam.Ā 


Oh tidak bisa mas, itu sangat menyakitkan bagiku.


ā˜˜ļø Bersambung ā˜˜ļø

__ADS_1


(Mangap yee, emak san lg sibuk nih. dede albi lg kurang sehat)


__ADS_2