
...Typo bertebaran, belum ngopi nihš...
"Mas, maunya kamu." Wajah Mas Hisyam semakin mendekat ke wajah Aina. Aina memejamkan matanya. Bibir mereka kini sudah menyatu di bawah guyuran air dari shower. Rasanya dingin-dingin empuk.š¤ Si Dicky tiba-tiba menggeliat manja, terbangun dari tidur nyenyaknya.
Aina terkejut ketika pahanya menyentuh sesuatu di bawah sana. Aina yang hendak melepaskan ciuman suaminya langsung dicegah oleh Hisyam. Hisyam lalu memeluk Aina dengan erat hingga Aina lupa diri. Hisyam mencium Aina lalu menggendong Aina dengan kondisi masih ciuman. Hisyam melepaskan ciumannya ketika sudah sampai di depan ranjang. Hisyam meletakan Aina di atas kasur.
Aina membuka matanya, Aina menatap Hisyam yang kini sudah berada di atasnya dalam keadaan basah juga. Mereka berdua sudah tidak perduli dengan kondisi kasur yang jadi ikut basah, mereka sudah terlanjur dikuasai hasrat yang membara.
"Na, jangan sedih lagi, apa yang terlihat tidak sama dengan apa yang kamu fikirkan, maaf yah, bukannya menjelaskan, Mas malah cium kamu. Na, kedepannya Mas akan menciummu dan menjebak kesedihanmu di bibir Mas, agar tangismu cukup Mas yang memilikinya." Duh kata-kata Mas Hisyam benar-benar sweet, seketika Aina luluh. Aina tersenyum manis, Mas Hisyam juga ikut tersenyum.
"Yang paling penting dalam hubungan adalah kepercayaan, yang akan memunculkan sebuah kesetiaan. Setia memang dibutuhkan ketika kamu menemukan orang yang baik dan mampu membuat hati luluh. Kamu berhasil meluluhkan hati Mas, membawa cinta Mas, kalau kamu pergi atau Mas yang pergi hanya akan membawa kehancuran untuk kita berdua. Jadi meskipun melihat seseorang yang dulu pernah singgah di hati, tapi cinta ini hanya untuk istri Mas tercinta". Netra Aina dan Hisyam saling beradu. Aina menetralkan jantungnya yang berdegup lebih kencang dari biasanya.Ā
Aina senang mendengar pengakuan Mas Hisyam yang kini sudah mulai mencintainya.
"Bertemu denganmu adalah takdir, menjadi teman hidupmu juga sebuah takdir, tetapi jatuh cinta padamu, aku tidak bisa mengendalikannya." Mas Hisyam semakin mendekat ke wajah Aina. Sepertinya siang ini akan ada penyatuan diantara keduanya.
"Aina, Mas cinta sama kamu," bisik Hisyam di telinga Aina. Aina memejamkan matanya, hatinya berdesir mendengar kata cinta dari suaminya.
"Na, apa Mas boleh? boleh melakukannya?" tanya Mas Hisyam sedikit gugup. Aina dengan entengnya mengangguk pasrah. Hisyam tersenyum penuh kemenangan karena istrinya juga menginginkannya.
Hisyam mengambil selimut yang ditata rapi di atas kasur. Hisyam menutupi tubuhnya juga tubuh istrinya. Sebelum melakukannya Hisyam tidak lupa berdoa terlebih dahulu. Hisyam pun perlahan mulai memberikan nafkah batin pada istrinya.
Walaupun di tengah pergulatan mereka, Aina sempat meringis kesakitan, tapi dengan jurus rayuan maut sang suami, akhirnya si Dicky berhasil silaturahmi ke tempat tinggal yang sesungguhnya.š¤£
__ADS_1
Selesai menikmati acara buka segel bujang dan perawan. Mereka berdua terkulai lemas, menatap langit-langit kamar. Aina dan Hisyam tidak menyangka akan terjadi hal ini hari ini. Ini pasti sudah skenario yang terbaik dari Allah. Keduanya tadinya belum ikhlas dengan perjodohan yang terjadi, akhirnya hari ini mereka membuktikan bahwa perjodohan tidak sehoror cerita orang-orang. Cinta bersemi seiring berjalannya waktu. Cinta bersemi karena seringnya bertemu.
Sekuat apapun kita menolak dan berikrar untuk tidak akan jatuh cinta, bahkan sempat berfikir suatu saat akan berpisah jika Tuhan sudah berkehendak bersatu, mereka tidak akan bisa berbuat apa-apa.
Ada Tuhan yang Maha Membolak-balikkan Hati, jika cinta sebegitu rumit, jika cinta sebegitu absurd, jika cinta sebegitu aneh dan membingungkan, jika cinta berliku-liku, jika cinta menghadirkan kecewa lalu kehilangan, dan jika cinta sudah tidak berpihak lagi, tetap teguhkanlah cinta itu di atas agamaMu.Ā
"Sayang makasih ya, maafkan Mas, tadi terlalu memaksa." Aina mengangguk, argh rasanya dibawah sana begitu perih dan cenad-cenud.
"Mas, Mas sudah mengambil hal berharga dari aku, tolong jangan tinggalin aku." Aina menatap suaminya sambil mengusap perlahan pipi suaminya. Mas Hisyam seketika langsung mengangguk.
"Mas cinta kan sama aku? Mas nggak jadi nyesel kan nikah sama aku?" Aina ingin meyakinkan kembali cinta suaminya padanya.
Mas Hisyam tersenyum, "Takdir tidak pernah salah dan aku tidak pernah menyalahkan pernikahan ini."
Setelah meyakinkan Aina, Mas Hisyam juga menceritakan pertemuannya dengan Anggita sebenarnya mereka bertemu bertiga dengan Bayu. Tapi waktu itu Bayu sedang pamit ke toilet jadi Mas Hisyam terlihat berdua dengan Anggita.
Mas Hisyam tadinya tidak ingin bertemu dengan Anggita, tapi Mas Hisyam tidak enak hati karena sudah bertahun-tahun Bayu membantu pencarian gadis kecil yang sempat ia sukai. Demi menghormati Bayu, Mas Hisyam akhirnya menemui Anggita untuk sekedar basa basi.
"Tapi yang aku tidak sudah kamu bohong sama aku Mas," ucap Aina mengerucutkan bibirnya. Andai saja Mas Hisyam jujur, ya Aina jelas tidak akan mengizinkannya sih.š¤£
"Iya Maaf, Mas nggak akan ulangi lagi," ucap Mas Hisyam. Ia lalu mencium kening Aina dengan lembut.
"Mas mulai saat ini kita harus saling terbuka yah," ucap Aina. Wajah Mas Hisyam langsung terlihat sumringah.
__ADS_1
"Ya ampun Na, kamu ketagihan ya?" ledek Mas Hisyam. Wajah Aina langsung memerah, Aina mengira Mas Hisyam sepertinya salah faham dengan perkataanya.
"Mak ... maksud aku bukan itu Mas, ya Allah, mesum terus ih pikirannya," celetuk Aina. Hisyam lalu memeluk pinggang istrinya lalu menciumi pipinya. Ah rasanya masih belum puas, ingin mengulang lagi tapi kasihan pada Aina.
"Mas mau setiap di kamar kita terbuka seperti ini, tidak ada penghalang apapun, hanya selimut yang menjadi penutup." Mas Hisyam mulai ndusel-ndusel lagi ke bagian leher Aina. Bulu kuduk Aina seketika meremang.
"Mas, maksud aku bukan itu, maksud aku tuh terbuka berterus terang, saling cerita, bukan terbuka yang ini." Aina menunjuk tubuh Mas Hisyam.
"Yang ini yang mana sayang." Hisyam semakin gencar meledek istrinya. Aina semakin melambung tinggi ketika suaminya memanggilnya dengan panggilan sayang.
"Mas geli ih, Mas dengerin aku nggak sih?" Mas Hisyam menghentikan aksinya. Wajahnya lucu sekali, seperti mengharapkan sesuatu.š¤
Mas Hisyam mengangguk, "Iya Mas ngerti, oh ya Na, si Anggita itu nanti mau magang di kantor Mas."Ā Aina langsung terkejut, baru saja merasakan manisnya cinta, tapi seketika sudah dikuasai rasa takut yang melanda. Aina takut dengan istilah waspadalah 'suami itu kalau tidak diambil Tuhan ya diambil pelakor'.
Aina terdiam, Hisyam lalu menyuruh Aina menatapnya. AinaĀ pun menatap suaminya.
"Mas tau, pasti kamu sedang khawatir, kamu takut kan Mas selingkuh, berpaling?" Aina langsung mengangguk.Ā Kini Aina meletakan kepalanya di dada suaminya. Hisyam mengusap kepala Aina dengan lembut.
"Na, perselingkuhan itu terjadi jika keduanya memang sama-sama mau, kamu tidak perlu mengkhawatirkan Mas, yang perlu kamu lakukan adalah berdoa agar hati Mas dijaga oleh Allah, karena Allah lah yang Maha membolak-balikan hati manusia." Aina mengangguk tapi dalam hatinya tetap khawatir.
***Bersambung***
(Beuh, mana cuaca lagi syahdu, eh adegannya begitu. Lee Dong wook mana? sini temenin emakš¤£)
__ADS_1