
Aina menyiapkan sarapan yang ia masak di meja makan. Hisyam memperhatikan Aina dengan seksama. Walaupun Aina masih berumur 20 tahun, tapi menurut Hisyam, Aina sudah cukup baik menjadi seorang istri. Mau bangun pagi, ribet memasak. Walaupun belum mencintai suaminya tapi Aina tetap memperlakukan suaminya dengan baik, apalagi kalau sudah cinta nanti.
Aina lalu mengambilkan nasi untuk suaminya. Aina melihat kebiasaan ini dari Amih dan Abinya. Lalu Aina mengambilkan lauknya juga. Ada telor dadar. Tumis brokoli dan wortel, serta ikan goreng. Hisyam biasanya hanya sarapan kopi dan roti saja, tapi kali ini ia harus terbiasa sarapan nasi dan beberapa jenis lauk pauknya.
"Banyak banget Na,"Celetuk Hisyam.
"Kata Amih, kerja di kantor itu berat, jadi biar semangat, harus sarapan yang banyak." Hisyam mengangguk-angguk saja mendengar jawaban istrinya.
Mereka lalu sarapan bersama. Selesai sarapan Hisyam merapikan meja makan, lalu mencuci piring di westafel, Aina merapikan dapur. Itulah kesepakatan diantara keduanya. Tidak ada asisten rumah tangga, jadi mereka harus mengerjakan pekerjaan rumah dengan cara bekerjasama.
Hisyam lalu masuk kembali ke dalam kamar untuk mandi. Ia sudah mulai aktif bekerja kembali hari ini. Masalah bulan madu, Hisyam dan Aina sudah memikirkan alasan yang cocok untuk menundanya.
Aina masuk juga ke dalam kamar, ia menyiapkan baju suaminya. Hisyam yang baru saja keluar dari kamar mandi begitu terkejut melihat Aina ada di dalam kamar.
"Na, keluar dulu, Mas mau ganti baju." Aina melirik suaminya yang hanya memakai handuk sebatas lutut lalu menyilangkan kedua tangan di dadanya. Aina malah tergelak.
"Mas, ngapain mesti begitu, lagian nggak bakalan aku terkam. Ya kali kucing lebih kuat dari pada Singa, kan nggak mungkin,"ucap Aina sambil sesekali melirik suami tampannya itu. Jantungnya berdesir melihat Mas Hisyam telanjang dada. Aina dag dig dug, tapi juga gengsi untuk menunjukan rasa kagumnya.
Setelah menyiapkan baju untuk suaminya. Aina lalu keluar dari kamar. Ia menuju dapur lagi untuk menyiapkan bekal untuk Hisyam. Bekal makanan untuk dibawa ke kantor. Tidak hanya makanan saja, Aina juga mengupas buah-buahan dan meletakannya di kotak bekal lainnya.
Selesai menyiapkan bekal, Aina kembali masuk ke dalam kamar. Terlihat Hisyam sedang berdiri di depan kaca sambil mengoles pomade dirambut hitamnya. Setelah itu menyisirnya dengan rapi.
Saat Hisyam hendak meraih dasinya. Aina melarangnya. Aina menggandeng Hisyam sampai di tepi ranjang. Lalu ia naik ke atas ranjang dan memasangkan dasi suaminya.
Hisyam mesem manis. Aina melihat suaminya yang senyum-senyum sendiri.
"Mas kenapa?" tanya Aina. Tangannya masih sibuk memasang dasi.
"Apa harus posisi kaya gini ya masang dasinya,"ucap Hisyam sambil terkekeh.
__ADS_1
"Ya habis Mas tinggi banget sih, kan Aina nggak bisa kalau nggak naik ke atas kasur gini Mas." Kali ini Hisyam malah tergelak.
"Belajar pakai dasi dari mana?" Aina melirik suaminya. Maksud suaminya apa sih. Kan waktu sekolah SMP, SMA juga sudah terbiasa memakai dasi.
"Ya kan waktu sekolah aku pakai dasi Mas, jadi aku bisa lah." Hisyam mengangguk, ia kini tengah memperhatikan wajah istrinya yang mungil nan bersih. Menurut Hisyam, Aina ini gadis yang baik hati juga baik sikapnya. Beruntung laki-laki yang dicintai Aina.
Selesai memasangkan dasi, Aina turun dari ranjang. Hisyam mengajak Aina berangkat bersama ke kampus. Aina akhirnya ganti baju karena subuh tadi sudah mandi. Hisyam menunggu Aina di ruang TV.
Aina yang sudah siap bergegas menghampiri suaminya, ia mengajak suaminya untuk berangkat ke kampus sekarang.
Aina mengambil tempat bekal, lalu memberikannya pada suaminya.
"Mas, ini jangan sampai ilang tempatnya." Hisyam menerima kotak bekal dari Aina.
"Nggak perlu repot gini Na." Aina menggeleng.
"Nggak repot kok, kan cuma masuk-masukin aja ke kotak. Di makan yah." Hisyam mengangguk sambil tersenyum. Istri kecilnya begitu perhatian padanya.
***
"Kenapa?"tanya Hisyam.
"Tangan kamu Mas." Hisyam mengangkat tangannya lalu langsung Aina raih, Aina kecup punggung tangan suaminya.
"Assalamualaikum." Aina buru-buru keluar dari mobil Hisyam dengan perasaan malu. Hisyam melongo melihat tingkah Aina yang mencium punggung tangannya.
Aina berlari menuju kelasnya. Tapi baru saja sampai Aula kampus, Aina berpapasan dengan Kak Rasyid. Aina menghentikan larinya, ia jalan perlahan, Aina melirik Kak Rasyid sambil mengangguk. Setelah itu Aina berlari kembali.
"Na ..." Panggilan dari Rasyid tidak Aina ladeni. Aina ingat ia sudah memiliki suami, sekalipun ia memiliki komitmen dengan Rasyid, tapi menurut Aina komitmen itu bisa diteruskan nanti setelah Aina sudah tidak menjadi istri Mas Hisyam.
__ADS_1
Sesampainya di kelas Aina duduk, lalu meletakan tasnya. Ia terdiam beberapa saat mengenang Kak Rasyid sebelum pernikahannya dengan Mas Hisyam terjadi. Biasanya Aina akan diantar sampai kelas, ia akan mengobrol terlebih dahulu dengan Kak Rasyid. Hanya begitu saja padahal. Tapi dulu Aina sangat bahagia.
Lamunannya tiba-tiba ambyar ketika ketiga sahabatnya datang mengagetkannya. Tangan Ayu yang nakal bahkan langsung masuk ke belakang jilbab Aina.
"Wah, basah nih." Ketiganya lalu tergelak. Aina mendengus kesal.
"Memangnya kenapa kalau basah?" Tanya Aina sok polos.
"Berarti semalam sudah ewita dong?" bisik Ayu. Aina langsung melotot. Aina yang menikah, tapi kenapa sahabatnya yang begitu semangat membahas ewita sih.
"Gimana rasanya? sakit? gelay? apa gimana, awal mulanya gimana?" Febri mulai memborbardir Aina dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak islami itu. Ya sekalipun Aina melakukannya, Aina juga tidak akan menceritakannya.
Aina menonyor dahi Febri, "Kawin dulu sana biar tau jawabanya." Ayu dan Sheila tergelak. Febri mengelus dahinya.
"Pelit, nggak mau berbagi." Febri mengerucutkan bibirnya.
"Itu nggak buat dibagi-bagi Marimar,"jawab Aina.
"Hisyam baik kan Na?" tanya Sheila. Aina langsung mengangguk. Aina bercerita jika tadi malam Hisyam membantunya mengerjakan tugas. Sahabat-sahabatnya langsung tercengang. Hisyam juga membantu Aina mencuci piring selesai makan.
"Duh Gusti, Abi kamu nemu laki begituan di mana sih Na, udah ganteng, pinter, pengertian lagi." Otak Febri mulai treveling, membayangkan jika ia juga mendapatkan jodoh seperti Hisyam.
"Abi emang paling pinter pilihin jodoh, nggak kaleng-kaleng pokoknya,"ucap Ayu.
Aina tersenyum, yang diucapkan Ayu memang benar. Aina lalu melanjutkan ceritanya lagi tentang pengalaman rumah tangga yang baru dilaluinya beberapa hari ini. Eh kok Aina jadi bersemangat sih ceritain Mas Hisyam.🤭
***
Hisyam akhirnya sampai juga di kantor, tangan kanannya menenteng bekalnya dan tangan kirinya menenteng tas kerjanya. Saat ia berjalan masuk ke dalam ruangannya, banyak sepasang mata yang memperhatikannya. Ini memang pertama kalinya Hisyam membawa bekal ke kantor.
__ADS_1
☘️Bersambung☘️