Cinta Pertama Di Jabal Rahmah

Cinta Pertama Di Jabal Rahmah
Album Foto


__ADS_3

"Mas lagi nyindir aku?"


Mas Ardan malah terkekeh, "Kamu tersindir? berarti merasa dong?"


"Sudah ih sana Mas Ardan sana jagain Amih, tadi katanya minta dibuatin kopi, kok malah ke dapur sendiri," ucap Aina sambil mendorong lengan mamasnya.


"Ketahuilah Na, sejatinya hidup adalah ujian. Jangan pernah merasa masalah hidupmu akan terus berkubang lama tanpa ada solusi. Jadikan masalah sebagai guru berharga dalam kehidupan, dengan begitu kamu lebih tangguh lagi dalam mengayuh bahtera rumah tangga." Mas Ardan tidak mau pergi ternyata. Aina faham akan sikap mas Ardan yang tiba-tiba menasehatinya, pasti karena mas Hisyam menceritakan masalahnya pada mamasnya itu.


"Air mata Aina sudah banyak tumpah Mas," ucap Aina sambil mengaduk kopi.


Mas Ardan menghela nafas, "Tak ada manusia yang bisa menampik masalah dalam hidupnya. Karena sejatinya masalah akan terus ada hingga manusia tersebut meninggalkan dunia. Untuk itu tak perlu sedih dan putus asa berkepanjangan menangisi masalah dalam rumah tangga. Cobalah menerima dengan lapang dan lalui dengan penuh keikhlasan. Sejatinya masalah adalah sesuatu yang senantiasa hadir menghiasi hidup kita. Terus tanamkan dalam benakmu bahwa setiap masalah itu punya ujung dan memiliki solusi. Jangan biarkan pikiran negatif datang sehingga membuatmu merasa semakin terpuruk dengan masalah yang ada." Aina melirik Mas Ardan, diantara ketiga kakaknya, mas Ardan memang yang paling dewasa dalam berfikir dan yang paling dekat dengan Aina. Walaupun mas Ardan bukan Anak pertama.


"Ya nanti Aina pikirkan lagi, sekarang belum mau banyak bicara sama mas Hisyam. Aina masih sebel," Aina mengerucutkan bibirnya.


Mas Ardan terkekeh, "Tanamkan dalam hati dan pikiran bahwa masalah yang datang bukan untuk dihindari, melainkan dihadapi dengan pikiran yang tenang. Setiap ujian hidup selalu menyisakan hikmah di baliknya. Maka dari itu, petik hikmah terbaik dari setiap masalah yang kamu lalui dan jangan bersikap putus asa dalam menghadapinya. Beri ruang dalam hati dan pikiranmu untuk mencerna tindakan terbaik dalam menghadapi kemelut yang ada dalam rumah tanggamu. Tetaplah berani menghadapinya."


"Aku bukan menghindar mas, tapi waktu itu mas Hisyam yang bilang ingin memulangkan Aina. Perasaan aku saat itu takut, cemas." Ah rasanya begitu meresahkan hati ketika mengingat hal itu.


"Aina jangan tiru hal itu, kamu pasti lebih faham kenapa Hisyam berkata demikian. Coba untuk tetap tegar dan tidak tergesa-gesa dalam menyelesaikan masalah dalam rumah tangga. Yakinlah bahwa semua yang kamu cemaskan akan sirna. Ingatlah, ketika rasa tergesa-gesa hadir dalam benakmu, kamu akan semakin kalut dan mengambil tindakan gegabah dalam menyelesaikan masalahmu. Kalau sudah begini, bukan tidak mustahil bahtera rumah tangga akan menjadi korban sehingga rumah tangga harmonis yang diimpikan pun sirna. Jadilah penyabar dalam menghadapi setiap ritme kehidupan."


Aina terdiam, apa yang dikatakan mas Ardan memang banyak benarnya. Lumayan memberi kekutan untuk Aina.


Mas Ardan kembali berkata bahwa tak bisa dipungkiri, Manusia adalah makhluk yang lemah dan tidak bisa berdiri sendiri tanpa bantuan Sang Maha Pencipta. Begitu juga dalam menghadapi kemelut dalam rumah tangga, jangan pernah ragu melibatkan pemilik jagat raya ini sebagai tempat bersandar. Curahkan dan minta pertolongan pada-Nya dengan sepenuh hati. Yakinlah, Tuhan tak kan pernah tidur dalam mengawasi hamba-Nya, termasuk mendengarkan keluh kesahmu. Karena itu berprasangka baiklah kepada-Nya. Intinya jika menghadapi masalah, jangan lupa libatkan Allah untuk dimintai petunjuk menyelesaikan masalah yang sedang dilalui, jangan sampai tergiur dengan bujuk rayu syetan.


Kopi sudah jadi, sepanjang membuat kopi Aina terus saja mendengarkan nasihat-nasihat dari mas Ardan. Aina membawa dua kopi untuk suami dan kakaknya dan satu teh manis hangat untuk Amih.


"Lama banget Na," ucap Amih.


"Tuh, gara-gara mas Ardan khotbah di dapur," jawab Aina. Mas Ardan malah tergelak.


"Kalian ini selalu saja gaduh." Amih melirik ke arah mas Ardan dan Aina.

__ADS_1


"Mih, ini di minum, biar nggak lemes." Amih menerima teh hangat dari Aina lalu menyesapnya perlahan.


"Yang lain kemana Dan?" tanya Amih pada Ardan.


"Yang lain ke pasar Mih, beli keperluan pengajian nanti malam," jawab Mas Ardan.


"Mih, kenapa di sini tidak di pajang foto-foto keluarga?" tanya Hisyam. Aina mengernyitkan dahinya, kenapa tiba-tiba suaminya menanyakan hal demikian.


"Oh, nggak boleh sama almarhum Abi, Syam, tapi Amih punya album foto kok, hanya Amih simpan, nggak Amih pajang," jawab Amih. Amih lalu menyuruh Aina agar mengambilkan album foto keluarga di bufet ruang tamu.


Aina bergegas menuju ruang tamu lalu mengambil album foto keluarganya. Aina menyerahkannya pada suaminya.


"Makasih Na," ucap Hisyam. Aina mengangguk.


"Ardan, antar Amih ke dalam kamar lagi ayo, Amih mau istirahat lagi, lemas rasanya." Ardan langsung memapah Amih menuju kamar.


***


Aina duduk di gazebo berdua dengan suaminya. Mas Hisyam mulai membuka-buka album foto milik keluarga Aina. Saat mas Hisyam membuka foto-foto umrah Aina dan keluarga, Hisyam membelai foto kecil Aina. Ia jadi teringat kembali kejadian 20 tahun yang lalu.


"Kamu dari kecil sampai dewasa cantiknya nggak berubah ya Na," ucap mas Hisyam. Aina terdiam, Aina sudah terbiasa digombali mas Hisyam.


"Ini foto kamu pas kamu kelas berapa Na?" tanya Hisyam menunjukan foto Aina dan neneknya saat di Mekah.


"Masih kecil banget, aku juga lupa, ya dilihat aja, kayaknya itu belum sekolah atau mungkin kelas 1 SD," jawab Aina.


Mas Hisyam terkekeh, "Dari kecil sampai sedewasa ini juga ngambekannya nggak berubah." Aina lagi-lagi terdiam mendengar ucapan suaminya.


"Na, apa Mas boleh bertanya?"


"Tanya apa?"

__ADS_1


"Lihat foto ini?" Mas Hisyam menunjukan foto Aina dan keluarganya saat berada di jabal rahmah.


"Apa kamu ingat ketika ada anak laki-laki seusia mamas-mamasmu menghampiri kamu?" Aina mengernyitkan dahinya. Ah kejadian umrah itu sudah sangat lama, waktu itu Aina juga masih kecil. Aina mencoba untuk mengingat-ingat kejadian waktu itu.


"Coba diingat-ingat lagi sambil melihat wajah Mas," ucap Hisyam. Aina langsung melihat wajah suaminya.


Mas Hisyam lalu berceloteh menirukan perkataan Aina waktu di jabal rahmah dulu.


"Adam dan Hawa bertemu di sini, aku dan Mamas juga bertemu di sini, nanti kalau besar Mamas jadi menikaan sama aku, kaya itu lhoo yang di film pengeran sama princes."


"Apa itu menikaan?"


"Itu lhoo menikaan, yang kaya di film berbie, pakai gaun princes bagus sekali, terus mereka berdansa."


"Allah mengabulkan doamu Aina, istriku." Hisyam menatap Aina lekat-lekat. Air mata keluar begitu saja dari sudut mata Hisyam.


☘️ Bersambung ☘️


.


.


.


.


Intermezzoo:


Emak baca komentar kalian lucu-lucu deh, walaupun emak ga bales, tapi emak selalu membaca komen kalian lhoo.


Di episode kemarin ada yg komen, biarin aja jangan maafin dulu, nunggu suami sadar dulu, dikasih pelajaran dulu biar jera🤭

__ADS_1


Btw, udah 8 tahun emak san menjalani biduk rumah tangga, dan yang mak san lihat nih, suami itu klo bkin kesalahan bukannya memperbaiki, justru akan muncul kesalahan yang sama part berikutnya 🤣 sampai akhirnya kita sebagai istri kebal sendiri, sabar dg sendirinya🤣. kembali lagi, menggapai surga memang ya begitulah, ngeri ngeri syedep🤣


__ADS_2