Cinta Pertama Di Jabal Rahmah

Cinta Pertama Di Jabal Rahmah
Ikhlas


__ADS_3

Saat Aina dan sahabat-sahabatnya sedang menuju kelas, tiba-tiba Kak Rasyid memanggil Aina. Aina yang sudah tahu suara Kak Rasyid tidak memperdulikan panggilan Kak Rasyid. Aina pura-pura tuli. Hal ini membuat Febri dan Sheila merasa bingung dengan sikap Aina, biasanya jika ada Kak Rasyid, Aina mendadak heboh, kalau tidak ya salah tingkah.


Rasyid berlari menghampiri Aina karena merasa panggilannya diabaikan. Setelah tepat berada di depan Aina dan sahabat-sahabatnya. Aina pun berhenti berjalan. 


"Na, Kakak mau bicara." Rasyid melirik sahabat-sahabat Aina, dan tentunya mereka tahu kode dari Rasyid. Mereka langsung berjalan terlebih dahulu menuju kelas.


"Na maafkan aku, aku semalam tidak bisa datang karena ...." 


"Sudahlah Kak, Aina sudah tidak perlu alasan apa-apa lagi, Aina sudah pasrah, kisah kita berakhir sampai di sini. Aina fix akan dijodohkan." Belum sempat Rasyid memberi tahu alasan yang membuatnya tidak hadir, Aina sudah menyela pembicaraan Rasyid. Bagi Aina memang alasan Rasyid sudah tidak diperlukan karena Aina sudah menyetujui perjodohan dengan laki-laki pilihan Abi.


"Na, kamu bisa tolak perjodohan itu Na, Kakak janji kalau kakak lulus, kakak sudah bekerja, kakak akan temui orangtua kamu, saat ini kakak belum punya apa-apa, kakak malu." Rasyid tetap berusaha menjelaskan alasan kenapa dirinya tidak bisa datang malam itu.


Aina mencebikan bibirnya, "Kalau kakak nggak bisa, kakak nggak usah menyanggupi dong, aku malu sama Abi, padahal Abi cuma mau lihat kakak, nggak nyuruh Kakak buat nikahin Aku, Abi cuma mau tau, laki-laki mana yang menyayangi putrinya, tapi kakak ingkar janji, kakak sudah ingkar janji, jadi nggak perlu janji apa-apa lagi sama Aina."


"Na, Kakak sebentar lagi lulus, Kakak ditawari beasiswa S2 di sini sekaligus jadi dosen di sini Na, Nanti kalau kakak sudah jadi dosen, kakak bakal temui Abi kamu." Rasyid masih terus saja berusaha meyakinkan hati Aina.

__ADS_1


"Please Kak, kita nggak usah merangkai masa depan sampai sejauh itu, jangankan menunggu sampai Kakak lulus, terkadang hari esok saja takdir bisa berubah, jangan bicarakan masa depan jika pada akhirnya aku nggak ada di sana." Aina berlari menuju kelasnya, matanya mulai berkaca-kaca. Pertama kali jatuh cinta, pertama kali pula dipatahkan oleh cinta, jadian belum, tapi rasanya cukup menyakitkan.


Sheila dan Febri serta Ayu melongo ketika melihat Aina duduk di sebalah mereka dengan mata memerah dan berkaca-kaca. Sheila lalu menghampiri Aina, mengelus lengan Aina. Mereka tidak menanyakan apa masalah Aina, Mereka begitu pengertian, membiarkan Aina tenang terlebih dahulu. Setelah tenang, Aina menceritakan satu per satu perihal perjodohannya, ingkar janji Rasyid dan keputusan terakhir.


Sheila menghela nafasnya sambil mengelus punggung Aina, "Sabar ya, jangan terlalu berat memikirkan cinta karena masalah percintaan adalah hal yang mengandung misteri. Kita tidak akan pernah tahu bagaimana semua akan dimulai dan berakhir. Yang pasti, tetaplah percaya bahwa nanti akan ada cinta lain yang lebih baik sedang menunggu di masa depan."


"Eh eh Na, siapa tahu nanti calon suami kamu ganteng, kaya, soleh," celetuk Febri. "Aku sih kalau dijodohin sama yang ganteng, pasrah, mau banget,"sambungnya lagi. Ayu langsung menonyor kepala Febri.


"Ih, apaan sih Yu, kamu juga pengen kan sama yang ganteng-ganteng,"ucap Febri. 


"Mau lah, siapa sih yang nggak mau." Kali ini giliran Febri yang menonyor Ayu. Ya elah, malah jadi tonyor-tonyoran dah. Sembarang banget emang mereka berdua. Itu kepala sudah difitrahin woy.


"Ih, nggak apa-apa lagi Na, jadi nanti berasa di mong-mong, malah enakan sama orang dewasa, aku juga gitu sama Mas Dewa," ucap Sheila. Sheila memang satu-satunya yang sudah memiliki kekasih. Kekasih Sheila sudah bekerja, usia mereka terpaut 5 tahun. Sedangkan Aina, 10 tahun, berasa kaya Om nya deh.


"Masa sih?" Aina mengerutkan dahinya. "Beda 10 tahun, pantesnya jadi Om aku harusnya Shel," sambung Aina.

__ADS_1


"Dih Om Om juga yang penting ganteng terus tajir nggak apa-apa Na," celetuk Febri. Memang yah di otak Febri hanya ada tajir dan ganteng. Nggak munafik sih, semua wanita pasti mendamba yang demikian.


"Kapan kalian dipertemukan?" tanya Ayu penasaran.


"Besok," jawab Aina. 


"Foto yah, jangan lupa difoto ganteng apa nggak gitu." Febri terkikik.


Aina mengangguk, "Doain yah, aku sudah pasrah."


"Terus Rasyid gimana?" tanya Ayu.


Aina mengendikan bahunya, "Entahlah."


Menurut Aina, Jika benar-benar menyelami keabstrakan cinta, maka berbahagialah bersama keindahannya dan tegarlah bersama kepedihanannya. Cinta itu tak harus memiliki, namun mengasihi. Sebab cinta yang tulus adalah merelakan bukan memaksakan.

__ADS_1


☘️ Bersambung ☘️


(Besok Alaina ketemu sama babang Hisyam Gaes, kasih votenya dong, like nya jangan lupa juga🥰)


__ADS_2