Cinta Pertama Di Jabal Rahmah

Cinta Pertama Di Jabal Rahmah
Cemburu


__ADS_3

Aina memiringkan tubuhnya juga. Hisyam terdiam, saat ini di depan matanya bukan lagi lengan Aina, tapi dada Aina, apa Aina sedang menggodanya?


"Kenapa sih menggoda Mas disaat Mas sedang tidak berdaya begini Na?" Aina mengernyitkan dahinya, tidak faham dengan apa yang diucapkan suaminya.


"Goda gimana sih Mas, tadi kan Mas yang mau meluk aku, kok jadi aku yg jadi tersangka penggoda sekarang." Mas Hisyam lalu menunjuk dada Aina menggunakan matanya. Aina langsung sadar bahwa dirinya tidak menggunakan apa-apa di balik bajunya.


Aina refleks menutup muka Mas Hisyam menggunakan telapak tangannya. Saat Aina ingin beranjak dari tempat tidur karena ingin ke kamar mandi, Hisyam menahannya, ia lalu memeluk Aina dengan arat agar Aina tidak kemana-mana.


"Mas nggak bakalan nakal, Mas juga lagi sakit." Aina menggoyangkan tubuhnya agar pelukan Mas Hisyam terlepas, tapi malah Mas Hisyam mencengkeramnya lebih erat.


"Jangan banyak bergerak, nanti Mas bisa khilaf, sudah sekarang waktunya tidur." Aina akhirnya pasrah, ia membiarkan suaminya memeluknya sepanjang malam.


Saat tengah malam benar saja, suaminya mengigau, meracau tidak jelas. Aina sampai terbangun lalu menatap wajah suaminya. Aina membelainya perlahan sambil merapalkan doa agar hatinya luluh untuk laki-laki yang ada di hadapannya.


Hingga pagi hari Aina telaten merawat Mas Hisyam. Saat adzan subuh, Mas Hisyam terbangun dalam kondisi tubuh yang sudah enakan, hanya masih lemas saja. Di sampingnya sudah tidak ada Aina, namun Hisyam bisa menebak jika Aina kini sedang berada di kamar mandi. Suara gemercik dari kamar mandi terdengar begitu nyaring. Aktivitas Aina di subuh hari adalah mandi.


Selesai mandi, Aina keluar dari kamar mandi sudah berpakaian daster rumahan seperti biasanya. Rambutnya digelung menggunakan handuk karena masih basah. Hisyam selalu disuguhkan pemandangan seperti ini setiap hari. Hisyam berharap suatu saat bisa satu siraman bersama, eh pagi-pagi pikiran sudah los dol. 🤣


Aina menghampiri Mas Hisyam, meletakan telapak tangannya di dahi suaminya.


"Alhamdulillah udah adem Mas, mau ke kamar mandi? Aina bantu yah." Hisyam mengangguk, Aina yang sebenarnya sudah berwudlu rela berwudlu lagi demi suaminya. Aina membantu memapah Mas Hisyam ke kamar mandi.


"Mas, sebelum nikah juga Mas kalau sakit begini?" Mas Hisyam mengangguk.


"Umi yang urus semuanya," celetuk Mas Hisyam. Aina mengangguk mengerti.


Aina hanya mengantarkan Mas Hisyam sampai depan pintu kamar mandi.


"Kamu nggak ikut masuk aja sih," ledek Mas Hisyam. Aina mengerucutkan bibirnya lalu mencubit lengan suaminya.

__ADS_1


"Sekalian kenalan sama si Dicky." Mas Hisyam tergelak, sedangkan Aina mengerutkan dahinya, tidak mengerti dengan ucapan Mas Hisyam.


"Dicky siapa Mas?" Aina penasaran.


Mas Hisyam tersenyum, "Adik Mas lah." Mas Hisyam lalu menutup pintu kamar mandinya, hal ini membuat Aina jadi penasaran siapa sih Dicky, bukannya Mas Hisyam tidak memiliki adik. Ah sudah lah.


Saat Mas Hisyam sedang di kamar mandi, ponsel Mas Hisyam berdering. Aina melihat nama yang tertera di ponsel nama Mas Hisyam atas nama Bayu. Aina mengabaikannya, tapi penelfon itu terus saja berusaha menelfon Mas Hisyam.


Aina akhirnya memberanikan diri mengangkatnya, Aina takut ada hal penting yang mendesak. Baru saja Aina angkat, suara di sebrang sana sudah ngebebel tiada henti.


[Lama banget sih Syam angkatnya, sampai harus 3 kali dulu baru diangkat, gimana nanti jadi nggak ketemuan sama Anggita, aku sih yakin dia itu wanita yang kamu cari-cari selama ini]


Deg ...


Hati Aina mendadak nyeri. Masih pagi sekali, berharap mendapat rejeki Ilahi, tapi yang ada mendapat nyeri hati. Aina segera memutus sambungan telfonnya. Aina lalu meng off kan ponsel Mas Hisyam. Aina duduk di tepi ranjang.


Siapa Anggita. Apa gadis itu yang Mas Hisyam pernah ceritakan, cinta pertamanya. Aina memegangi dadanya. Kenapa terasa sakit, apakah Aina memang sebenarnya sudah mulai ada rasa terhadap Mas Hisyam. Aina terus saja meracau dalam hati, jarinya *******-***** sprei. Aina sampai tidak menyadari jika Mas Hisyam kini sudah ada di depannya, menyuruhnya untuk segera berwudlu lagi.


"Na, kok lama." Pintu kamar mandi diketok Mas Hisyam, Aina terbangun lagi dari lamunannya. Aina segera berwudlu, lalu salat berjamaah bersama suaminya.


Selesai salat, Aina menuju dapur, Hisyam merasa aneh dengan sikap Aina, padahal semalam Aina baik-baik saja, masih bercanda, masih tersenyum, kenapa pagi ini diam saja.


Karena masih lemas, Hisyam tidak ikut ke dapur bersama Aina, ia merebahkan dirinya di atas kasur lagi. Hisyam ingin melihat jam di ponselnya, Hisyam mengernyitkan dahinya, karena ternyata ponselnya dalam mode off, padahal Hisyam merasa baterai ponselnya tidak habis.


Hisyam mengambil charger ponselnya, dan benar saja baterainya masih 50 persen. Hisyam lalu mencabut kembali charger nya, ia segera mengaktifkan ponselnya. Saat sudah aktif, ada beberapa panggilan dan pesan dari beberapa teman dan rekan bisnisnya. Hisyam membalasnya satu persatu.


Selesai memasak Aina menyajikan masakannya dalam piring. Pagi ini Aina hanya memasak bubur ayam. Kandungan air dalam bubur bisa menggantikan cairan yang hilang saat demam. Tidak lupa juga Aina juga menyiapkan sendok untuk merendam obat penurun panas. Jika Aina tahu dari awal kalau Mas Hisyam sangat susah meminum obat, Aina akan membeli bodrexin saja agar tidak susah payah membujuk bayi lapuknya itu.


Saat Aina masuk kamar, Mas Hisyam ternyata sudah terlelap lagi. Aina membangunkan Mas Hisyam agar sarapan terlebih dahulu, setelah sarapan Mas Hisyam boleh tidur kembali. Mas Hisyam bangun lalu duduk bersandarkan difan. Aina mulai menyuapi Mas Hisyam sedikit demi sedikit.

__ADS_1


"Mas nggak usah kerja dulu yah, lagi sakit gini, biar cepet pulih, jadi besok bisa kerja lagi." Aina ingin Mas Hisyam benar-benar sehat seperti sedia kala agar bisa menjalankan aktivitas seperti biasanya.


"Nggak tau nanti Mas, Mas ada janji soalnya." Aina menatap Mas Hisyam. Aina kembali berguman dalam hatinya, apakah Mas Hisyam akan menemui wanita itu, apakah sebegitu berartinya sampai sedang sakit pun Mas Hisyam tetap akan menemuinya.


"Terserah Mas." Aina lalu meletakan mangkuknya di atas nakas, biarlah Mas Hisyam makan sendiri, Aina lalu keluar dari kamar. Hisyam melongo melihat tingkah Aina yang sedang merajuk. Tumben Aina merajuk.


"Na, Na," Mas Hisyam turun dari tempat tidurnya lalu mengejar Aina yang saat itu ternyata keluar menuju dapur untuk membersihkan dapur.


"Na, kamu marah?" tanya Mas Hisyam. Aina mengendikan bahunya. Aina berusaha bertanya dalam hatinya apakah dirinya sedang cemburu atau sedang mengkhawatirkan suaminya karena sedang baru saja demamnya turun tapi nekat keluar.


"Na, Mas ada urusan penting, sebentar doang kok." Hisyam berusaha menjelaskan pada Aina.


"Terserah Mas, lagian juga nanti aku berangkat kuliah, jadi terserah Mas mau di rumah atau pergi," ucap Aina.


Hisyam menghembuskan nafasnya dengan kasar, "Na, cuma sebentar. Nanti Mas janji bakal langsung balik lagi ke rumah."


"Kan aku udah bilang Mas, terserah Mas." Mas Hisyam sempat terkejut karena Aina sedikit meninggikan suaranya. Aina langsung menutup mulutnya, ia lepas kontrol. Mas Hisyam mendekat, menghampiri Aina, lalu memeluknya dengan erat. Aina bingung dengan perlakuan Mas Hisyam, menyempatkan waktu di kala sakit untuk menemui wanita lain, tapi juga memeluknya dengan penuh kehangatan. Apa maksudnya ini Mas?


ā˜˜ļøBersumbangā˜˜ļø


.


.


.


.


(Emak pepret kamu ya Syam, tadi katanya ingin segayung berdua, eh sekarang malah mau ketemu sama cwe lain. Kenapa begitu? coba jelasin apa kurangnya Aina?)

__ADS_1



__ADS_2