Cinta Pertama Di Jabal Rahmah

Cinta Pertama Di Jabal Rahmah
Mengkhawatirkan Mas Hisyam


__ADS_3

"Kan aku udah bilang Mas, terserah Mas." Mas Hisyam sempat terkejut karena Aina sedikit meninggikan suaranya. Aina langsung menutup mulutnya, ia lepas kontrol. Mas Hisyam mendekat, menghampiri Aina, lalu memeluk istrinya dengan erat. Aina bingung dengan perlakuan Mas Hisyam, menyempatkan waktu di kala sakit untuk menemui wanita lain, tapi juga memeluknya dengan penuh kehangatan. Apa maksudnya ini Mas?


Aina melepaskan pelukannya, Aina ingin bersiap-siap ke kampus. Aina memesan ojek online terlebih dahulu. Ia memilih naik ojek dari pada menggunakan mobil suaminya. Hisyam nampak bingung dengan sikap istrinya yang mendadak dingin padanya. Bagi Hisyam kenapa wanita sulit sekali ditebak.


Hisyam menghampiri Aina. Ia melihat Aina tengah merapikan tas kuliahnya.


"Na, kamu kenapa? Maafin Mas kalau punya salah, kalau kamu nggak izinin Mas pergi, Mas nggak akan pergi deh," ucap Mas Hisyam. Aina langsung berbalik menatap Mas Hisyam. Apakah benar suaminya tidak akan pergi.


Aina berjalan menghampiri suaminya, "Aku cuma khawatir, walaupun yang merasakan sakit bukan aku, tapi aku nggak mau Mas merasakan sakit, bukan aku yang nggak mau direpotkan, tapi rasanya aku tuh cuma nggak mau lihat Mas nggak berdaya." Bukan hanya itu saja yang Aina khawatirkan sebenarnya. Tapi ya sudahlah, cukup Aina saja yang tahu.


"Iya, maafin Mas, Mas memang bandel, kamu jangan marah lagi ya," ucap Mas Hisyam sambil mengusap kepala Aina. Aina tersenyum senang bukan karena usapan kepala, tapi karena Mas Hisyam diam di rumah, tidak menemui si Anggita itu. Aina jadi bertanya-tanya apakah dirinya sedang cemburu.


"Sebelum pulih, nggak boleh kemana-mana, aku udah pesan ojek online Mas, jadi Mas di rumah aja yah nggak usah antar, kalau Mas boring, nanti aku telfon Umi biar kesini nemenin Mas," ucap Aina. Aina yakin suaminya pasti bosan, biasa di kantor sibuk, di rumah hanya berdiam diri pasti sangat membosankan.


"Hati-hati ya Na," pesan Mas Hisyam. Aina mengangguk. Aina akan berusaha pulang cepat jika jam perkuliahan sudah selesai.


Ponsel Aina berdering, ternyata ada pesan dari abang gojek yang sudah berada di depan rumah Aina. Aina akhirnya berpamitan pada suaminya, setelah itu keluar rumah ditemani Mas Hisyam.


***


Sesampainya di depan kampus, Aina langsung masuk ke dalam. Di lobby, Aina berpapasan dengan Kak Rasyid yang tengah berbincang sangat antusias sampai tergelak dengan Kak Suci, mahasiswi seangkatan Kak Rasyid. Aina hanya melirik sekilas ke arah Kak Rasyid, begitu pula dengan Kak Rasyid yang melirik Aina sekilas.


Semalam Rasyid benar-benar kecewa dengan Aina, Rasyid yakin Aina sudah melanggar janji untuk tidak menyukai suaminya. Tapi nyatanya, telfon semalam benar-benar membuat rasyid cemburu. Rasyid sengaja mendekati Suci yang sudah lama menyukainya, demi membuat Aina cemburu juga. Rasyid ingin Aina merasakan apa yang ia rasakan.


Aina masuk ke dalam kelas, di kelas tumben sekali ketiga sahabatnya sudah berkumpul, biasanya mereka yang paling akhir datang ke kelas. Ayu melihat Aina begitu gelisah, Ayupun menghampiri Aina yang baru saja duduk.


"Na, kelihatannya cape banget gitu," tanya Ayu. Sheila dan Febri juga ikut menghampiri Aina.


"Iya nih cape banget, pegel-pegel rasanya," jawab Aina. Sheila lalu memijat bahu Aina.


"Jangan-jangan habis ewita sampai beronde-ronde," celetuk Febri. Sheila dan Ayu tersenyum sambil menatap mulutnya, mereka berharap ada kemajuan di keluarga Aina dan suaminya.


"Haduh, masih pagi, jangan bahasnya begituan, boro-boro ih,"

__ADS_1


"Terus kenapa Na, lesu banget hari ini, nggak kaya biasanya?"


Aina menghembuskan nafasnya dengan kasar, bagaimana tidak lesu, bukan tentang Mas Hisyam yang sakit, bukan juga tentang Kak Rasyid yang jalan berdua dengan Kak Suci, tapi tentang wanita lain, wanita yang ada di masa kecil Mas Hisyam.


"Mas Hisyam lagi sakit," jawab Aina. Walaupun itu bukan jawaban yang sesungguhnya.


"Ya ampun, laki sakit bini sampai galau begini," goda Febri sambil mencolek dagu Aina.


"Hemm, Mas Hisyam itu kalau sakit manjanya ampun-ampunan, nggak mau makan, mesti dirayu dulu, minum obat nggak bisa langsung diminum harus direndam dulu, tidur ngigo terus, gimana nggak lemes coba," ucap Aina. Ketiga sahabatnya bukannya prihatin malah tertawa. Mereka tidak menyangka jika Mas Hisyam yang macho itu minum obatnya harus direndam terlebih dahulu.


"Untung istrinya Aina, coba kalau Ayu, bisa di sentil itu Mas Hisyam," ledek Febri. Ayu langsung menonyor kepala Febri sambil mesem.


Obrolan mereka terhenti ketika bel masuk sudah berbunyi. Mereka segera duduk di bangkunya masing-masing, karena dosen jam pertama sudah masuk ke dalam kelas.


***


Adzan Dzuhur berkumandang, Aina dan sahabat-sahabatnya menuju mushola kampus terlebih dahulu melaksanakan kewajiban sebagai muslim. Selesai salat mereka ke kantin makan siang.


Saat Aina dan yang lainnya sedang mencari bangku kantin yang kosong, sorot mata Aina tertuju pada Kak Rasyid dan Kak Suci yang tengah makan berdua. Aina segera mengalihkan pandangannya. Padahal di sebelah bangku Kak Rasyid ada bangku kosong yang cukup untuk berempat, tapi Aina pura-pura tidak melihat.


Mereka memesan makan terlebih dahulu, sambil menunggu mereka mengobrol kembali. Ayu mulai heboh karena mendapat info grup jika Bu Riri tidak masuk di jam terakhir, Bu Riri hanya memberikan tugas lewat email ketua kelas.


Febri mengajak sahabatnya untuk pergi ke toko buku membeli buku untuk tugas Pak Hanan. Aina teringat jika dirinya akan berjanji pulang cepat. Tapi Aina juga membutuhkan buku itu. Aina berinisiatif menelfon ibu mertuanya untuk menemani Mas Hisyam sebentar di rumah.


"Eh sebentar, aku mau telfon Umi dulu yah, soalnya tadi udah janji mau pulang cepet, kan Mas Hisyam lagi sakit." Ketiga sahabat Aina mengangguk. Kak Rasyid ikut melirik Aina karena suara Aina terdengar jelas di telinganya.


Aina mengambil ponselnya lalu segera menelfon Umi nya. Umi langsung mengangkat telfon Aina.


Assalamualaikum Umi.


^^^Waalaikumsallam, Na.^^^


Maaf Umi, Aina merepotkan Umi, Umi, Aina boleh minta tolong tidak?

__ADS_1


^^^Tolong apa Na?^^^


Mi, di rumah Mas Hisyam sedang sakit, Aina sedang kuliah, Aina takut Mas Hisyam butuh sesuatu, Aina akan cepat pulang kok Mi.


Disebrang sana Umi mengernyitkan dahinya. Padahal baru saja Umi bertemu Hisyam di kantor tadi.


^^^Hisyam sakit? tadi Umi ke kantor, karena ada sesuatu penting yang tertinggal di rumah, jadi Umi ke kantor menyerahkan berkas pentingnya Abi. Tadi ketemu Hisyam di sana. Hisyam kelihatan sehat Na.^^^


Aina melongo, bingung mau menjawab apa, suaminya tidak menepati janjinya akan diam di rumah saja untuk memulihkan tubuhnya.


Oh ya sudah Mi, padahal semalam itu demem, Aina sudah melarang untuk tidak ke kantor dulu, takut belum pulih Mi.


^^^Iya, Hisyam memang bandel Na.^^^


Ya Udah ya Mi, Maaf Mi, Aina ganggu, Assalamualaikum.


^^^Eh, engga, Waalaikumsallam Na.^^^


Aina terdiam sejenak. Apakah Mas Hisyam benar-benar di kantor, atau ke kantor untuk alasan menemui gadis yang dikatakan temennya itu?


☘️ Bersambung ☘️


.


.


.


.


Intermezzoo:


Sorry strawberry, emak telat update, lagi kurang duit, eh maksudnya kurang sehat. Butuh duit, eh butuh vitamin koh biar kuat menghadapi kenyataan kalau nggak punya duit, eh maksudnya menghadapi lemes ini🤣🤣🤣

__ADS_1


Udah udah udah, jangan adu nasib di komentar🤣



__ADS_2