
Aina dan Hisyam menuju pusat perbelanjaan, Aina mengambil troli lalu Hisyam yang mendorongnya. Bagaikan pasangan yang harmonis yah. Tapi mereka memang tidak sedang bertikai, mereka hanya perlu waktu untuk menerima takdir saja.
Aina menuju tempat buah-buahan, ia mengambil beberapa buah, lalu ke tempat kebutuhan pokok lainnya. Aina tersenyum, ternyata menjadi seorang istri itu rupa-rupa warnanya seperti ini. Aina juga membeli beberapa sayur.
"Yakin bisa masak Na?" tanya Hisyam yang melihat Aina begitu bersemangat mengambil sayuran.
Aina mengangguk, "Mas Hisyam nggak percaya sih? besok Aina masakin sarapan sama Aina bawain bekal yah? nanti kita beli wadah bekal di sana."
Hisyam menggoyangkan telapak tangannya,"Nggak usah Na, Mas bisa beli di luar." Aina tidak menanggapi lagi, ia malah kembali mengajak Mas Hisyam menuju kotak tempat makan. Aina begitu girang melihat beberapa wadah kotak makan yang begitu lucu. Aina lalu mengambil 3 kotak makan untuk ganti-ganti.
Setelah selesai berbelanja begitu banyaknya, Aina dan Hisyam segera mengantri di kasir. Di Kasir ada perempuan cantik yang begitu anggun, rambutnya curly panjang tergerai berwarna sedikit coklat dengan balutan dres selutut warna peach. Cantik banget pokoknya, Aina aja yang perempuan melihatnya dengan penuh kagum.
"Hisyam..." Panggilnya, dan Mas Hisyam langsung menengok ke arah sumber suara. Setelah tahu siapa yang memanggilnya, Mas Hisyam tiba-tiba merangkul bahu Aina dan itu membuat Aina terkejut.
"Mas, apaan sih." Aina berusaha melepaskan, tapi Hisyam malah semakin erat merangkul. Hingga wanita itu datang menghampiri Mas Hisyam, namun wajahnya tiba-tiba sendu.
"Hisyam, iya bener ini kamu, eh tumben kesini? ini siapa? keponakan?" tanya Mbak cantik yang kini sudah berdiri di depan Aina dan Hisyam.
Et dah Mbak'e apa aku seimut itu, sampai dikiran ponakan Mas Hisyam.
"Ini istri Aku Nov," jawab Mas Hisyam sambil tersenyum. Aina melongo, ini pertama kalinya Mas Hisyam mengakuinya sebagai istri di depan orang lain. Mas Hisyam kesambet memedi supermarket apa ini.
Nova lalu mengulurkan tangannya, menjabat tangan Aina, Aina tersenyum manis lalu menerima jabatan tangan Nova.
"Nova ..."
"Aina ..."
"Kok kamu nikah aku nggak diundang Syam?" tanya Nova pada Mas Hisyam.
"Kemarin baru akad, rencananya nanti akan digelar resepsi bulan berikutnya, yang terpenting sudah sah dulu, biar bebas, ya kan Sayang." Mas Hisyam melirik Aina dan Aina langsung menanggapi nya dengan anggukan serta senyuman gugup. Fix Mas Hisyam kesambet. Aina terus saja meracau dalam hati jika Mas Hisyam ini kesambet.
__ADS_1
"Selamat yah."
"Makasih, aku antri dulu yah Nov." Mas Hisyam lalu mengajakku untuk maju menuju kasir. Novi mengangguk dengan senyum yang dipaksakan.
Setelah membayar semua belanjaan, Mas Hisyam dan Aina memutuskan untuk pulang saja karena belanjaan mereka lumayan berat. Beras, minyak itu yang membuat berat, Aina tidak mau membawa beras dan minyak sambil mengitari Mall, pasti sangat merepotkan.
Didalam mobil Aina menanyakan kenapa Mas Hisyam mengatakan pada Nova bahwa Aina istrinya. Mas Hisyam malah terkekeh, katanya biar Nova tidak terobsesi lagi padanya. Herman deh sama Mas Hisyam, wanita secantik itu, malah ditolak. Tapi kriteria orang memang beda-beda sih, tapi ya Aina tidak habis pikir saja, Nova yang begitu cantik saja Mas Hisyam tidak mau, apalagi dirinya di masa depan. Ah sudahlah.
***
Sesampainya di rumah, Aina dan Hisyam membawa barang belanjaan mereka ke dapur. Aina merapikan belanjaannya ke dalam tempatnya. Sementara Hisyam masuk ke dalam kamar karena ingin memeriksa pekerjaan kantornya.
Aina mulai menggunakan dapurnya untuk yang pertama kali. Aina memasak siang ini, kebetulan rencana makan siang di Mall tadi gagal, jadi Aina memasak di rumah saja untuk makan siang.
Aina menumis sayur pokcoy yang dicampur dengan sosis dan bakso serta brokoli. Lalu Aina menggoreng kerupuk dan bakwan seafood sebagai teman tumis pokcoynya. Selesai memasak, Aina memanggil Mas Hisyam yang ada di kamar lalu mengajaknya makan bersama.
"Mas, makan yuk, Aina udah masak lhoo." Tanpa menjawab, Hisyam langsung mematikan leptopnya, setelah itu Hisyam dan Aina menuju meja makan. Hisyam menatap menu makanan yang ada di meja makan. Hisyam tidak pemilih dalam hal makanan, bujangan ini sudah terbiasa makan apa saja asal kenyang.
"Aku tuh kalau diginiin tiap hari nanti lama-lama baper lhoo Na," ucap Mas Hisyam sambil mencomot bakwan yang ada di depannya.
"Ya biarin sih, baper juga udah nikah inih, dari pada dibikin baper tapi nggak dinikahin." Aina tergelak, itu sih kisahnya dengan Kak Rasyid.
(Otor kesindir😭)
"Kenapa sih baik banget sama Mas?" tanya Hisyam yang sudah menghabiskan dua bakwan seafood yang ternyata begitu cocok di lidahnya.
"Ya jadi manusia sudah kewajibannya kan Mas baik sama siapa aja, apalagi Mas suami aku, katanya kita akan menjalani hubungan itu dengan baik kan, sampai waktunya nanti tiba kita berpisah." Hisyam sedikit tertohok dengan ujung kalimat yang Aina katakan. Hisyam menanggapinya dengan anggukan. Setelah itu makan masakan Aina sampai tandas.
Aina tersenyum ketika melihat suaminya menghabiskan makanan yang ia masak. Rasanya ada kebanggaan tersendiri. Tidak sia-sia Aina selama ini membantu Amih memasak di dapur.
"Enak Mas?" Mas Hisyam langsung mengacungkan jempolnya. Mas Hisyam hendak membawa piring kotornya ke wastafel tapi Aina cegah.
__ADS_1
"Biar aku aja Mas, sekalian mau beres-beres dapur juga." Eh Mas Hisyam malah menggeleng lalu mengambil piring kotor Aina juga.
"Kamu sudah masak, jadi bagianku cuci piring Na." Mas Hisyam lalu menuju wastafel dan mencuci piring bekas makannya dan Aina.
Aina menatap punggung Mas Hisyam, "Kenapa Mas Hisyam juga baik banget," gumam Aina lirih.
Mas Hisyam bahkan mencuci peralatan dapur yang digunakan untuk masak Aina. Sementara Aina mengelap bagian dapur yang terkena cipratan minyak.
"Aku suka lihat Umi dan Abi saling bantu Na, kata mereka itulah kemesraan yang sesungguhnya dalam berumah tangga," celuk Mas Hisyam disela-sela dirinya mencuci piring.
Aina tersenyum, "Maksud Mas berarti Mas juga mau mesra-mesraan sama Aina gitu," ucap Aina sambil terkekeh.
"Dih, mulai deh, pede nya keluar dari sarangnya,"ucap Mas Hisyam. Selesai mencuci piring, Mas Hisyam lalu kembali lagi ke kamar. Aina yang sudah selesai merapikan dapur juga ikut masuk ke dalam kamar.
Aina memiliki beberapa tugas yang harus ia selesaikan, karena mulai besok ia sudah mulai kuliah kembali, agar teman-teman yang lain tidak curiga dirinya sudah menikah. Hanya tiga sahabatnya dan Kak Rasyid tentunya.
Aina dan Mas Hisyam saling fokus mengerjakan tugas masing-masing. Mas Hisyam dengan pekerjaannya, Aina dengan tugas kuliahnya.
Aina melirik Mas Hisyam karena ia ingin bertanya, ada satu soal yang Aina kurang mengerti.
"Mas, Mas tau ini nggak?" Mas Hisyam melirik Aina lalu mendekat ke Aina.
Mas Hisyam mengangguk lalu mencoba mengetikan sesuatu, disaat tubuh Mas Hisyam berada begitu dengan Aina, Aina merasakan aroma maskulin di tubuh Mas Hisyam.
Wanginya bikin jantung Aina jedag jedug. Mas Hisyam lalu menerangkan soal yang Aina tidak paham, Eh Aina bukannya melihat layar leptop, ia justru melihat gerakan bibir Mas Hisyam yang begitu lihai menerangkan. Seketika otak Aina pengen banget di siram pake air sekolam. Biar bersih dari pikiran kotor. Haduh kenapa sih Mas Hisyam ganteng parah. Aina jadi gagal fokus.
*Bersambung*
(Mangap ya belum bisa double up, di rumah lagi rame, ada adik, ponakan dari adik, ponakan dari kakak, dah kaya asrama pkoknya 🤣 lg berperan ganda, di panggil yayu, budhe, tante, ibu)
__ADS_1