
...*Typo Bertebaran*...
Mas Ardan menghampiri Aina yang belum selesai menelfon.
"Na, Abi udah nggak ada," ucap Mas Ardan.
Aina memaku menatap mas Ardan. Aina lalu menatap ponselnya, Aina memutus panggilan telfon dari suaminya. Rasanya sudah tidak perlu lagi membagi kesedihan dengan Mas Hisyam. Karena yang akan didapat hanya kemarahannya.
"Abi...." Teriak Aina. Aina langsung memeluk mas Ardan. Aina menumpahkan semua kesedihannya lewat tangis.
Hisyam terkejut mendengar suara Ardan memberikan kabar duka, namun saat ingin bertanya pada Aina, panggilan telfonnya terputus. Hisyam menjadi gusar. Ia langsung menelfon salah satu kakak Aina.
Hisyam dibuat terkejut ketika mendengar kabar dari Arka jika mertuanya meninggal dunia. Rasanya penyesalan begitu besar dalam diri Hisyam karena sudah emosi dengan Aina. Hisyam tidak bisa mengontrol amarahnya dengan baik ketika permasalahan menumpuk datang dalam hidupnya.
Hisyam merasa begitu bodoh karena tidak bisa mengendalikan amarahnya. Hati-hati dengan
marah, karena marah merupakan bencana yang merusak akal. Ketika hati dalam kondisi lemah, maka setan dan bala tentaranya melakukan serangan.
Pada saat manusia marah, maka setan mempermainkan melalui kemarahannya itu, sebagaimana anak kecil yang mempermainkan bola.
Marah juga merupakan salah satu senjata setan untuk membinasakan manusia. Dengan cara ini, setan akan lebih mudah mengendalikan manusia untuk berbuat hal buruk. Ketika seseorang marah, ia bisa dengan mudah mencaci maki, mengucapkan kalimat buruk, bercerai, bahkan saling membunuh.
Hisyam mengambil kunci mobilnya, ia yang sebelumnya sudah menanyakan rumah sakit tempat mertuanya dirawat langsung saja bergegas menuju rumah sakit.
***
Mas Ardan menuntun Aina masuk ke dalam ruang rawat inap. Abi terlihat sudah tebujur kaku. Amih terdiam menatap Abi sambil mengelus pipi Abi. Ah rasanya Aina tidak kuat melihat pemandangan ini. Aina kembali memeluk mas Ardan dan menangis sejadinya di pundak mas Ardan.
__ADS_1
Aina tau ketiga kakaknya juga pasti sangat sedih, hanya saja mereka merasa jika lelaki itu harus bisa menguatkan, tidak boleh ikut menangis, walaupun pasti rasanya begitu sesak menahan tangis.
Amih tidak meneteskan air mata sedikitpun. Amih terus saja mengelus pipi Abi sambil mengucapkan tunggu Amih di surga ya Bi. Cinta Abi dan Amih benar-benar hanya maut yang mampu memisahkan.
Aina ingin sekali memiliki kisah cinta seperti Amih. Hingga maut memisahkan.
Amih adalah seorang ibu, yang telah menjalani kehidupan berumah tangga hampir kurang lebih selama 40 tahun. Hidup dengan suami yang mencintainya dan keempat anaknya yang tulus dalam menerimanya. Bahagia sekali, bercengkerama setiap harinya dengan memandangi wajah-wajah mereka yang sarat penuh makna. Tidak ada hal yang paling indah bagi Amih, selain mendengarkan celotehan mereka setiap waktu. Jika ada satu yang tak nampak dari pandangannya—sehari saja—rasa rindu menyeruak menyesakkan dadanya. Jika tidak nampak didepan mata, setidaknya nampak dalam layar ponselnya.
Amih menganggap dirinya sendiri bagaikan seekor burung. Suami dan tiga orang anak laki-lakinya bak sayap yang mendorongnya untuk bisa terbang. Sementara anak perempuannya bak sepasang mata yang menjadi penyeimbang di kala pandangannya akan kehidupan mulai pudar. Baginya, mereka sangat berarti. Melebihi segala apapun yang Amih punya.
Sayangnya, kini Amih tak lagi menjadi seekor burung yang sempurna. Kekuatannya untuk terbang telah berkurang. Tak sekuat dulu, tak seelok dulu. Kepakkan sayapnya yang semula melebar memenuhi angkasa, kini tertelungkup tidak bergerak. Ya, Abi (satu sayapnya) telah kembali menghadap-Nya. Meninggalkan dirinya dan keempat anaknya dengan sejuta kenangan dan pengorbanan. Amih tahu, kembalinya Abi pada Sang Kuasa adalah hal terbaik. Namun tetap saja, Amih terluka.
Aina melepaskan pelukannya, Aina menghampiri Amih, Amih kini memeluk Aina. Mas Ardan dan mas Arman menunduk, sedangkan mas Arman sedang mengurus kepulangan jenazah Abi.
Selesai melakukan admistrasi, jenazah Abi sudah boleh dibawa pulang. Sebelum pulang, mas Hisyam datang ke rumah sakit. Mas Hisyam langsung menghampiri Aina, tapi Aina hanya terdiam tidak mengucapkan sepatah katapun. Aina lelah, lelah menangis.
Hisyam akhirnya mengalah, ia mengendarai mobilnya sendirian menuju rumah mertuanya.
Sesampainya mobil ambulan di rumah, ternyata sudah banyak warga yang datang melayat walaupun saat itu masih pukul tiga dini hari. Abi Abdullah memang terkenal sebagai sosok yang baik.
Proses pemakaman akan dilaksanakan setelah salat subuh. Aina duduk disebelah Amih, di depan jenazah Abi. Aina menatap Abi dengan penuh cinta, ini akan menjadi hari terakhir Aina melihat Abi di dunia ini.
Tanpa terasa, air mata Aina kembali membasahi pipinya. Aina sangat mengagumi sosok Abi dalam hidupnya.
Abi ialah sosok hebat yang tak kenal lelah. Bekerja banting tulang demi keluarganya. Lelaki kuat yang menjadi sandaran di tengah rapuhnya seorang wanita. Abi juga menjadi cinta pertama bagi Aina, yang mampu mengerti perasaan putrinya tanpa harus dijelaskan.
Abi, terkadang bersikap keras lagi tegas. Tapi itulah caranya dalam mendidik dan mendisiplinkan anaknya. Dalam hidup, ayah mengajarkanku untuk menjadi seorang wanita yang kuat dan membuatku mengerti akan kerasnya kehidupan yang sebenarnya.
__ADS_1
Abi tak memanjakan Aina, tetapi juga tak mengacuhkan Aina. Perkataan demi perkataannya menjadi dorongan tersendiri bagi Aina. Keberadaannya menciptakan rasa aman, yang selalu mejadi pendengar dan pemberi solusi dalam setiap kegundahan.
Abi tentu menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Terutama anak perempuannya. Karena sampai kapanpun seorang anak perempuan akan selalu menjadi putri kecil kesayangannya. Abi tak akan pernah membiarkan siapa pun melukai hati putrinya. Tapi disaat hati Aina terluka, Abi malah pergi untuk selamanya.
Sehingga menjadikan Abi sebagai satu-satunya lelaki yang tak pernah menyakiti hati anak perempuannya. Tak heran, jika ia dijadikan acuan putrinya dalam membangun kehidupan.
Di sebelah Aina ada Amih yang terus saja berdzikir agar hatinya tenang. Amih tidak ingin sedih berlebihan, Amih ingin berusaha ikhlas, karena Amih faham, segala yang hidup pasti akan menemui ajal pada waktunya.
***
Jenazah Abi dimandikan oleh mas Arka, mas Ardan dan mas Arman, serta mas Hisyam juga. Setelah itu di solati, di imami oleh mas Arka, sebagai anak tertua.
Suatu hari Abi pernah berpesan, jika beliau meninggal, Abi ingin yang mengurus segala keperluan jenazahnya adalah anak-anaknya, apalagi Abi memiliki tiga anak laki-laki. Yang memandikan, yang mengimami salat jenazahnya, yang menggotong kerandanya sampai seterusnya.
Setelah salat subuh dan mensalati jenazah Abi Abdullah, kini saatnya Abi Abdullah dimakamkan. Pemakaman tidak terlalu jauh dari rumah Aina, masih di dalam komplek pemukiman.
Aina menuntun Amih untuk mengantar Abi ke peristirahatan terakhirnya. Amih masih saja terdiam, sambil terus berdzikir.
Sesampainya di tempat pemakaman, jenazah Abi mulai di makamkan. Aina merenungi apa yang ia lihat, bahwa setiap yang bernyawa pasti akan bertemu dengan ajalnya.
Kematian orang yang dicintai adalah pengingat bagi kita. Bagaimanapun, hidup adalah persiapan untuk harimu akan bertemu dengan Sang Pencipta. Mungkin hari ini kita masih di sini, tapi besok belum tentu. Maka, jalanilah hidup ini dengan benar.
☘️☘️ Bersambung ☘️☘️
(😭😭😭 Sedih banget ih part ini)
(Emak baca komen2 kalian disini, kesel sama ucapan mas Hisyam, nyakitin banget ya mak🤣 eh tapi lebih nyakitin mana sama ucapan suami ketika di tanya "Uang yang kemarin habis buat apa aja?"🤣🤣🤣)
__ADS_1