Cinta Pertama Di Jabal Rahmah

Cinta Pertama Di Jabal Rahmah
Cemburu


__ADS_3

Aina mengangguk, "Rambut aku kotor ya keramas dong."


Ketiga sahabatnya langsung menepuk dahi, "Yah..." serempak. Aina tergelak mendengar kekecewaan dari sahabatnya.


"Doain aku yah, semoga aku sama mas Hisyam langgeng," ucap Aina dengan penuh pengharapan. Ketiga sahabatnya langsung mengaamiini lalu tersenyum.


"Hemm, bau-bau udah nggak perawan nih ya, Sel, Yu," ucap Febri. Aina langsung meraup wajah Febri. Wajah Aina langsung memerah.


"Cius Na?" tanya Sheila. Aina mengangguk lalu menutupi wajahnya.


"Alhamdulillah, akhirnya." Ketiganya lalu merangkul Aina. Sahabat-sahabat Aina memang berharap Aina langgeng dengan suaminya. Semua orang pasti berharap hanya menikah sekali seumur hidup. Begitu juga sebenarnya dengan Aina.


"Kayanya sebentar lagi kita bakal punya ponakan lucu," celetuk Febri. Rupanya ketiga sahabat Aina juga sangat antusias berharap Aina secepatnya memiliki momongan.


"Udah, udah, udah ada dosen tuh," ucap Aina. Aina merasa lega bisa terhindar dari ledekan sahabat-sahabatnya.


***


Di kantor, Hisyam bersikap begitu ramah pagi ini. Hisyam akan tersenyum pada semua karyawan yang berpapasan dengannya. Saat memasuki ruangan kerjanya, ia langsung menyapa Adrian dengan ceria.


"Wih, habis menang tender ya Bos, senyum terus, gigi kering tuh Bos," ledek Adrian.  Hisyam malah tersenyum lagi. Adrian mengernyitkan dahinya.


"Ini lebih mantap dari pada tender," ucap Hisyam.


"Apaan sih Bos? cewe itu? ketemu?" tanya Adrian. Adrian mengatakan seperti itu ya karena kemarin Hisyam membahas masalah gadis kecil di masa kecilnya itu.


Hisyam menggeleng, "Kemarin sempat ketemu sih, malah sekarang mungkin sedang diurus di bagian personalia, dia mau magang di sini. Tapi bahagiaku bukan karena itu."


Adrian terkejut, ia tidak menyangka jika Hisyam akan menerima dengan mudah wanita itu magang di tempat kerjanya.


"Cius dia magang di sini? jangan cari api bos, hati-hati, ingat-ingat juga sudah nikah." Adrian yang merupakan sahabat baik Hisyam hanya berusaha mengingatkan sahabatnya.


"Iya aku ngerti kok, kemarin aku udah minta maaf sama Bayu, sama gadis itu juga, jika selama ini aku hanya ingin tau kabarnya saja tidak lebih, tapi gadis itu meminta sedikit pertolongan ku, ya sudah, magang kan hanya 3 bulan, waktu yang sebentar."


"Terus yang bikin bos bahagia apa?" Adrian masih penasaran rupanya.


"Aku udah ... aku sama Aina sudah ..." Hisyam memberi isyarat menggunakan bahasa tangannya bahwa dirinya sudah melakukan hubungan suami istri.


Terlihat wajah Adrian terkejut namun sumringah mendengar penuturan Hisyam.


"Alhamdulillah, si bos ternyata normal juga," ledek Adrian. Hisyam langsung melempar pulpen ke arah Adrian.


"Sembarangan, normal lah, kalau nggak normal, kamu sudah jadi korban pertama aku," ucap Hisyam. Adrian langsung tergelak, jijay binggo.


"Gimana rasanya."


"Ngefly, ah tau begitu dari awal-awal yah nggak usah gengsi." Hisyam jadi membayangkan lagi kejadian kemarin siang, ah rasanya mendadak kangen Aina.

__ADS_1


Adrian tergelak, bosnya begitu terus terang, tapi Adrian sangat bersyukur akhirnya Hisyam memilih keputusan yang tepat, yaitu mempertahankan istrinya.


"Inget, udah awok-awok, berarti sudah bisa diberi gelar pria sejari. Salah satu sikap yang dijunjung tinggi oleh lelaki sejati adalah berkomitmen penuh terhadap hubungan. Jika dia sudah berkomitmen menjalin hubungan dengan seseorang, maka dia akan berusaha sampai titik darah penghabisan untuk mempertahankan jalinan, inget bos, jangan mudah tergoda." Hisyam mengangguk-angguk.


Dalam dunia perumah tanggaan, Adrian jelas lebih berpengalaman. Hisyam harus banyak-banyak belajar dari Adrian.


"Tanggung jawab adalah sifat mutlak dari seorang lelaki sejati. Laki-laki akan benar-benar bertanggungjawab terhadap hal yang sudah ia perbuat. Ia akan mengambil risiko dan mempertanggungjawabkan apa yang sudah ia katakan atau lakukan. Karena itulah seorang laki-laki sejati tak akan sembarangan mengumbar janji, dan ia akan menepati apa yang telah ia ucapkan. Segala tindakannya selalu dilandaskan pada logika, dan menghindari mengambil keputusan saat sedang marah. Tanggungjawab sudah merawani istri mu Bos." Lagi-lagi Hisyam mengiyakan ucapan Adrian. Pagi-pagi malah bahas rumah tangga.


"Harus memiliki visi, misi, dan tujuan hidup yang jelas. Pria sejati juga paham akan dirinya sendiri, jangan asal-asalan," sambung Adrian.


"Wokeh ajudan, terimakasih untuk nasehatnya, eh, pantes juga kamu Yan jadi penasehat pernikahan," ledek Hisyam. Adrian terkekeh, "Bisa aja."


Membahas tentang rumah tangga membuat Hisyam kangen dengan Aina. Hisyam lalu mengirim pesan untuk Aina agar nanti siang selesai kuliah Hisyam ingin Aina pulang dulu ke kantornya, menemaninya bekerja.


Begitulah rasanya jatuh cinta, maunya terus berdekatan. Tidak ingin jauh, sehari terasa sewindu. Ah mirip lagu.🤭


***


Siang harinya setelah Aina selesai kuliah, Aina langsung bergegas menuju kantor suaminya. Aina juga merindukan mas Hisyam. Cinta keduanya sedang bersemi-seminya, wajar jika setiap detiknya selalu dilanda rindu.


Sesampainya di kantor suaminya, Aina terlebih dulu mengetuk pintu ruangan suaminya sebelum masuk. Hisyam yang mendengar pintu terketuk langsung mempersilahkan masuk.


Saat Aina membuka pintu ruang kerja suaminya, Aina tertegun, ada Anggita sedang duduk di depan meja kerja suaminya. Hati Aina bergejolak, antara cemburu dan marah, kenapa wanita itu ada di sini.


Aina melirik meja kerja mas Adrian, Aina bernafas lega karena mas Adrian ternyata ada di meja kerjanya. Aina tidak rela jika suaminya berduaan dengan wanita yang ada di depannya saat ini. Wanita yang katanya dari masalalu Mas Hisyam.


"Sini Na." Hisyam melambaikan tangannya pada Aina agar Aina mendekat.


Anggita menatap Aina, "Maaf Mbak kok kaya pernah lihat yah."


"Perkenalkan Anggita, ini istri saya," ucap Mas Hisyam. Anggita langsung melongo, terlihat sekali ekspresinya begitu terkejut.


"Istri saya, adik kelas kamu di kampus." Aina lalu menjabat tangan Anggita.


"Aina ..." ucap Aina memperkenalkan diri.


"Anggita ..."


"Ya sudah, saya mau makan siang dulu sama istri saya." Anggita langsung mengerti, ia lalu pamit keluar dari ruangan bosnya.


Aina duduk memasang wajah masam, wajahnya mulai memerah, Aina benar-benar diliputi rasa cemburu. Seperginya Anggita, Aina langsung bertanya pada Hisyam kenapa bisa ada Anggita ada di ruangan ini. Aina mendadak meragukan cinta suaminya.


"Na, kamu meremehkan perasaan Mas?" kamu pikir Mas masih memikirkan perempuan lain? jangan suudzon ih." Hisyam tidak habis fikir Aina akan meragukan cintanya.


"Haduh, aku keluar ya mau makan dulu, silahkan dilanjut perangnya, jangan lupa di kunci," ucap Adrian yang langsung ngeloyor pergi dari hadapan Aina dan Hisyam.


"Aku juga nggak mau mas berpikiran buruk, tapi melihat dia di sini di ruangan ini, dia hanya magang, untung sekarang masih ada mas Adrian, coba kalau nggak ada, pasti kalian berduaan," ucap Aina begitu serius.

__ADS_1


"Ya Allah, Aina, kurangi cemburu kamu."


"Nggak."


"Kenapa nggak?"


"Ya karena aku tahu, dia itu pernah ada dibenak Mas selama bertahun-tahun, bagaimana aku nggak cemburu Mas. Aku takut Mas tidak bisa menjadi pecinta yang baik ketika Mas berhadapan dengan dia. Aku takut Mas jadi teringat lagi masa-masa Mas cari dia, aku takut Mas tergoda." Aina benar-benar mengeluarkan isi hatinya.


"Astagfirullah kamu terlalu berburuk sangka Na." Hisyam mengusap wajahnya dengan kasar.


"Ya bagaimana nggak buruk sangka, aku tau cerita Mas yang selama ini mencari gadis itu di masa kecil Mas."


"Itu sudah Mas anggap masalalu Na." Hisyam berharap itu sudah jawaban akhir, ia tidak ingin berdebat terlalu panjang.


Aina menatap suaminya, mendesah pelan, "Syukurlah ..."


"Terus kenapa kamu masih khawatir gitu?"


"Aku khawatir kalau Mas tertarik lagi sama dia, begitukah cara Mas mempertahankan rumah tangga? Begitukah cara Mas menyayangi aku?" tanya Aina.


"Walaupun kita dijodohkan, tapi Mas memperlakukan kamu dengan cara yang baik, Mas menikahi kamu, kita bahkan 'melakukan' itu karena sama-sama rela, Mas tidak memaksa selama ini," jawab Hisyam.


"Mas menikahi kamu, Mas menafkahi kamu, dan Mas melindungi kamu dengan hati dan tangan Mas, harus dengan cara apalagi biar kamu percaya," sambung Hisyam. Ia benar-benar ingin meyakinkan Aina bahwa Ainalah satu-satunya ratu dalam rumah tangganya.


Aina tertohok dengan ucapan suaminya, "Ya kalau Mas baik, aku juga bakal lebih baik Mas."


"Na, seandainya Mas bukan suami yang baik, kamu tetap harus jadi istri yang baik. Selamatkan pintu surgamu sendiri," ucap Mas Hisyam. Aina terdiam, dalam hatinya ia tersenyum karena beberapa kali Mas Hisyam mengisyaratkan bahwa Ainalah yang merajai hati Mas Hisyam.


☘️ Bersambung ☘️


.


.


.


.


Intermezzoo:


Suka kata-kata "Seandainya mas bukan suami yang baik, kamu harus jadi istri yang baik. Selamatkan pintu surgamu sendiri."


Walaupun suaminya buruk, surganya istri tetap pada ridho suami. Susah di nalar kadang, tapi itulah perintah gusti Allah. Nggak bisa di ganggu gugat.


Ilmu tertinggi dari seorang wanita bukanlah saat ia hafal 30 juz, tapi saat mampu mendapatkan ridho suaminya, pintar menyenangkan suami, pandai menenangkan suami, ibunda Khadijah tidak hafal hadist satupun, tapi Allah menyampaikan salam baginya atas sikap yang luar biasa pada Rasulullah.


Pasti banyak yang protes, suami kan suka gini gini gini gini. Ya itulah, mungkin di balik gini gini gini tadi, kalau kita sabar, disitulah ganjaran surganya buat istri2.

__ADS_1


__ADS_2