
"Mau tau?" tanya Hisyam. Aina mengangguk.
"Itu tuh harus praktek, nggak bisa dijabarkan dengan kata-kata." Seorang Hisyam Alrasyid mulai modus.😆😆😆
Aina memukul lengan suaminya, "Mesum ih, gara-gara hujan nih pasti, jadi mesum." Mas Hisyam hanya terkekeh. Cuaca hujan yang dingin membuat Hisyam tidak mampu mengendalikan diri untuk tidak meledek Aina. Terlebih Aina saat ini mengenakan daster rumahan selutut. Kulit istrinya yang bersih begitu memancarkan aura kecantikan yang alami.
Mereka kembali makan sampai tandas. Aina mengelap bibirnya dengan tisyu, Aina juga membantu mengelap bibir Mas Hisyam dengan tisyu. Mas Hisyam menghembuskan nafasnya dengan kasar karena tingkah Aina selalu memancing jiwa kelaki-lakiannya.
Saat sedang duduk bersila di bawah, daster Aina sudah tersingkap sampai tengah pahanya. Aina cuek anteng tanpa memikirkan apapun.
"Na, dasternya kenapa pendek banget sih." Aina melirik dasternya. "Biasanya juga pakai ini, lagian juga kita di rumah cuma berdua Mas. Kamu nafsu yah."
Hisyam meremas rambutnya, "Ngledek nih ah, Mas normal Na."
Aina terkekeh, "Katanya Mas nggak bakal nyentuh aku, hayo lupa yah."
"Tapi kalau kamu pakai begitu ya Mas bisa pusing kepala Na,"ucap Hisyam sambil memijat pelipisnya. Tingkah biji ketumbar membuatnya sakit kepala. Kepala bawah kepala atas.
Aina tergelak, "Itu sih urusan Mas Hisyam." Aina lalu berdiri, ia hendak merapikan piring dan gelas. Hisyam juga ikut berdiri, Hisyam merangkul pinggang Aina, lalu merengkuh Aina dalam pelukannya.
Aina terkejut dengan sikap suaminya. Aina melotot dan menggeleng, tapi Hisyam menutup mulut mungil Aina dengan jari telunjuknya.
"Katanya mau tau yang beneran ciuman itu seperti apa." Hisyam mengerlingkan satu matanya. Entahlah Hisyam mulai goyah dengan perjanjian yang ia buat gara-gara daster rumahan yang selalu Aina pakai membuat hasrat kelaki-lakiannya muncul ke permukaan.
Hisyam menatap manik mata Aina dengan tatapan teduh. Dirinya ingin membuat Aina senyaman mungkin. Aina juga entahlah kenapa bisa menerima begitu saja perlakuan manis dari suaminya. Aina seperti orang pasrah seketika, seakan tulang persendiannya lemas tak berdaya.
Wajah Hisyam semakin dekat dengan wajah Aina. Hisyam sudah memposisikan bibirnya semakin dekat dengan bibir Aina. Saat sudah saling menempel, keduanya memejamkan mata, menikmati kenikmatan yang baru pertama mereka rasakan.
Aina mencengkeram lengan Mas Hisyam ketika Mas Hisyam menggigit kecil bibir bawah Aina agar Aina membuka mulutnya. Aina pun refleks membuka mulutnya sehingga lidah Hisyam bisa bebas masuk ke dalam mulut Aina serta mengeksplore semua yang ada di dalamnya.
__ADS_1
Aina dan Hisyam begitu menikmati pengalaman pertama mereka. Bahkan saat nafas mereka sudah terengah-engah dan melepaskan pagutannya, mereka kembali mengulangi pagutannya hingga tiga kali.
Hisyam berfikir, ciuman saja begitu nikmat, apalagi serangkaian lainnya. Ingin sekali Hisyam mengangkat tubuh Aina dan membawanya ke kamar. Tapi Hisyam tidak ingin terburu-buru.
Saat sedang asyik melanjutkan ciuman, tiba-tiba bel berbunyi. Hisyam dan Aina terkejut. Mereka langsung melepaskan pagutan mereka. Hisyam melepaskan pelukannya lalu Aina langsung berdiri dan merapikan dasternya yang sedikit berantakan. Aina mengusap bibirnya menggunakan tisyu karena bekas saliva mereka.
Hisyam menepuk dahinya, "Haduh, siapa sih ganggu aja," celetuknya. Hisyam melihat ke arah bawah, barang berharga miliknya sudah berdiri kokoh bak panglima yang siap menjelajahi medan tempur. Hisyam lalu berpamitan ke toilet terlebih dahulu. Aina mengerti. Aina juga langsung berlari ke kamar lalu mengambil gamis, memakainya, tidak lupa juga mengenakan jilbab instan. Aina bergegas ke depan membukakan pintu.
Saat pintu terbuka, ternyata yang datang Amih dan Umi. Mereka mengucapkan salam, Aina pun menjawabnya lalu mempersilahkan Amih dan Umi duduk.
"Amih kangen kamu Na." Amih memeluk Aina. Setelah itu Umi yang giliran memeluk Aina.
"Ya Allah Mih, Mi, kan lagi hujan, tinggal telfon aja, biar nanti Aina yang ke rumah Amih sama Abi, sama Umi juga," ucap Aina.
"Kenapa emangnya? Amih ganggu pengantin baru yah," ledek Amih. Wajah Aina langsung bersemu merah.
"Yang sudah hatam mah gitu ya, ngledek-ngledek." Amih dan Umi tertawa.
"Di kamar mandi Mi, nanti Aina panggilin yah, sekalian buatin minum. Tadi kita habis makan mie, hujan-hujan gini seger makan mie, sini Mih, Mi, di ruang TV aja, biar bisa sambil nonton TV." ucap Aina. Ia lalu menggandeng Amih dan Umi ke ruang televisi. Aina merapikan gelas dan mangkuk bekas mie. Aina menuju dapur, membuatkan teh manis hangat untuk orang tuanya.
Sembari menunggu air mendidih, Aina memanggil suaminya di kamar, memberitahu jika Amih dan Umi ada di ruang televisi. Ternyata Mas Hisyam masih di kamar mandi. Aina mengetuk pintu kamar mandi.
"Mas, ada Amih sama Umi." Aina sedikit meninggikan suaranya agar terdengar oleh Mas Hisyam. Mas Hisyam hanya menjawab iya dari dalam.
Aina akhirnya keluar kamar lagi, ia menuju dapur, membuatkan teh hangat untuk Ibu dan mertuanya. Selesai membuat teh, Aina menuju ruang TV.
"Mi, Mih, minum dulu, anget nih." Aina meletakan nampannya di meja.
Amih dan Umi tersenyum, mereka memandangi sekeliling rumah Aina dan Hisyam.
"Kamu betah di sini Na?" tanya Amih sambil menyesap teh hangatnya.
__ADS_1
Aina mengangguk, "Betah Mi."
"Hisyam baik kan sama kamu Na?" tanya Umi.
"Baik banget kok Mi."
"Baik dong Mi, sama orang lain aja baik, apalagi sama istri sendiri," celetuk Hisyam yang sedang berjalan ke ruang TV.
Aina mengernyitkan dahinya melihat Mas Hisyam terlihat seperti habis mandi dengan rambut setengah basah.
Mas Hisyam menghampiri Umi lalu mencium punggung tangannya, setelah itu mencium punggung tangan Amih juga. Mas Hisyam duduk di sebelah Aina, lalu merengkuh bahu Aina agar Aina duduk sedikit merapat di tubuhnya.
Aina mengikuti keinginan suaminya karena saat ini sedang berada di depan Umi dan Amih. Mereka lalu berbincang seputar rumah tangga mereka berdua, saling puji saling ledek, mereka juga membahas tentang kuliah Aina juga.
Satu jam sudah Amih dan Umi mengobrol. Adzan Magrib berkumandang, Amih, Umi, Aina serta Hisyam salat Magrib terlebih dahulu. Setelah salat, Amih dan Umi berpamitan pulang, Umi meminta supir yang tadi mengantar mereka berdua untuk menjemput.
Setelah Amih dan Umi pulang, Hisyam mengajak Aina untuk menemui Pak RT sambil berjalan kaki. Sebagai warga baru, Hisyam dan Aina harus melapor pada RT setempat untuk proses pendataan.
"Mas, tadi kok mandi lagi? Nanti mana keramas lagi," celetuk Aina.
"Ya mandi lah, tadi tuh nanggung banget, cuma bisa bikin sakit kepala."
Aina mengernyitkan dahinya. "Maksudnya apa sih Mas?"
"Hanya laki-laki yang bisa merasakannya Na."
☘️ Bersambung ☘️
.
.
.
(Haduh, makin hari dua sejoli ini makin membuat emak gleser gleser, tadinya mau praktek juga sama paksu, eh nggak jadi, emak san lagi sariawan, gegara setiap hari kepentok gundulnya dede Albiruni, mengini koe lhoo Na🤣)
__ADS_1