Cinta Pertama Di Jabal Rahmah

Cinta Pertama Di Jabal Rahmah
Fitting baju akad


__ADS_3

Aina langsung masuk ke dalam mobil Hisyam. Hisyam juga ikut masuk, tidak ada yah adegan uwu seperti pasangan lain, laki-laki yang membukakan pintu mobilnya untuk perempuan. Disini adegan itu tidak ada. Hisyam dan Aina sama-sama saling cuek.


Sebelum melajukan mobilnya, Hisyam kembali menggunakan kacamata hitamnya karena siang ini lumayan panas. Matahari sangat cerah, namun tak secerah hati Aina yang paginya saling berjanji dengan Rasyid, eh siangnya malah duduk berdua dengan si Om tengil.


Tapi melihat Hisyam yang menggunakan kacamata


hitam serta kemeja yang di gulung sesiku membuat Aina sedikit melupakan ketampanan pujaan hati yang selama ini selalu terngiang-ngiang dipikirannya. Ini yang di depan mata lebih coll dan beuh, gantengnya nggak kaleng-kaleng nih anaknya Umi Khadijah.


Jenggotnya dan kumisnya tipis-tipis, hih pasti menggelikan jika. Aina segera menghentikan pikiran kotornya, apa-apaan sih otak, kenapa mikirnya nggak islami gini saat melihat Om tengil. Aina menggeleng pelan lalu menepuk dahinya.


Hisyam melirik Aina karena tingkah Aina yang begitu aneh, tiba-tiba geleng-geleng, terus tepuk jidat.


"Kenapa?"tanya Hisyam.


"Nggak apa-apa Mas?" Aina tersenyum.


"Udah makan belum?"


Aina menggeleng, "Belum, tadi mau makan bareng temen-temen tapi nggak jadi." 


"Nanti habis fitting baju kita makan." Aina mengangguk.


Sesampainya di butik, Hisyam memarkirkan mobilnya lalu keluar terlebih dahulu. Seperti tadi, Hisyam membuka pintu untuk dirinya sendiri, begitu juga Aina. Hisyam berjalan terlebih dahulu. Sedangkan Aina jauh di belakangnya karena langkah kaki Hisyam bagai raksasa, Aina yang mungil jelas tertinggal.


Saat hendak memasuki pintu butik ternyata disana ada anjing yang tengah berjaga di depan pintu. Aina yang ingin masuk malah di endus-endus, rok nya di gigit-gigit. Aina jadi ketakutan, apalagi Hisyam sudah terlebih dulu masuk.


"Mas, Mas Hisyam, Mas Hisyam tolongin Aina." Hisyam yang mendengar teriakan Aina langsung berlari keluar. Hisyam malah tertawa saat melihat Aina tengah dikerjai anjing pemilik butik. Dasar tengil memang Mas Hisyam.


"Mas, kenapa malah ketawa, Aina takut Mas," Hisyam kira Aina bercanda, ia malah kembali masuk ke dalam butik tanpa menghiraukan Aina. Aina memicingkan matanya, sungguh tidak habis pikir calon suaminya itu tidak menolongnya. Andaikan didekat sini ada ironman atau ultraman pasti Aina juga tidak akan meminta bantuan si tengil bujang lapuk itu. Menyebalkan.


Anjing itu terus menggonggong dan menari-narik rok Aina. Aina semakin takut, keringat dingin mulai bercucuran. Aina gemeteran, Aina benar-benar ketakutan, ia memiliki trauma di gigit anjing waktu SD dulu, hingga betisnya robek dan harus dijahit.


Aina mulai menangis sambil berteriak, tubuhnya masih gemetaran.

__ADS_1


"Mamas Ardan, Mamas Arman, Mamas Arka, tolong Aina. Ma ... Mas." Nafas Aina mulai tersengal-sengal. 


Melihat Aina yang tak kunjung masuk. Hisyam keluar lagi dari butik, ia terkejut ketika melihat kondisi Aina, Hisyam segera mengusir anjing itu. Ketika anjing itu pergi, Aina langsung berjongkok, kakinya terasa lemas. Hisyam semakin panik.


"Na, Na." Hisyam menggoyangkan tubuh Aina, Aina malah mendorong Hisyam dengan sisa tenaga yang ia miliki.


"Aina benci kamu Mas, Aina benci." Tangis Aina pecah. "Aina nggak ngerti kenapa nenek tega jodohin Aina sama laki-laki yang tidak bisa menjaga Aina dengan baik,"ucap Aina sambil sesenggukan. "Dunia ini nggak adil, takdir ini nggak adil, kita nggak usah fitting baju Mas, Aina akan membatalkan perjodohan ini, Aina benci Mas, Mas laki-laki yang tidak mampu menjaga wanita dengan baik." Ucapan Aina benar-benar menusuk hati Hisyam. Dalam lubuk hatinya ia begitu merasa bersalah.


Hisyam lalu merengkuh tubuh Aina, bingung harus berbuat apa, padahal melakukan hal demikan belum diperbolehkan.


"Maafkan Mas Na, Maaf, Mas nggak tahu kalau kamu ketakutan, Mas kira tadi kamu bercanda." Hisyam lalu memapah Aina masuk ke dalam butik lalu mendudukan Aina disalah satu sofa. Hisyam meminta air minum pada pegawai Butik.


Mbak Sani selalu perancang busana akad Hisyam dan Aina ikut terkejut melihat Hisyam memapah calon istrinya. Pegawai butik memberikan air miineral kepada Hisyam, Hisyam langsung membukanya lalu membantu Aina minum. Aina meneguknya sedikit demi sedikit.


"Dia kenapa Syam?" Tanya Mbak Sani sambil mengelus punggung Aina. Aina masih saja mengeluarkan air mata, hanya saja tidak sesenggukan seperti tadi.


Aina masih dalam pelukan calon suaminya, meletakan kepalanya di dada bidang Hisyam yang berbulu. Kehangatan dan kenyamanan pelukan Hisyam bagi Aina persis seperti pelukan Abi, mampu meredam gelisah dan amarahnya.


"Itu ditarik-tarik roknya sama anjing Mbak di depan." Mbak Sani terkejut, "Si Coki tau aja cewe cantik, main tarik-tarik, awas ya nanti."


"Makasih ya Na, udah maafin Mas." Aina kembali mengangguk. Ini si Om tengil kenapa jadi lembut banget sih, haduh Aina jangan sampai baper yah. Hisyam kembali membantu Aina minum. Aina meneguknya lagi. Setelah tenang, Mbak Sani langsung mengeluarkan kebaya yang sudah dirancangnya khusus Aina yang dipesan oleh Umi Khadijah.


"Mau cobain sekarang? Apa masih lemes?" Tanya Hisyam. Aina mengangguk, "Cobain sekarang aja."


Mbak Sani membawa Aina ke ruang ganti. Aina dibantu Mbak Sani memakai kebaya akad berwarna putih terlihat sederhana namun tampak mewah.


"Sabar ya Na, sabar kalau Hisyam itu emang gitu, cuek, makanya sampai umur 30 tahun masih jomblo, jomblo akut dia mah, nggak tau kenapa. Mbak ini sudah bekerja sama dengan Umi dari lama, Umi kalau bikin baju di sini, Mbak juga lumayan dekat dengan keluarga Umi, dan yang Mbak tau kalian dijodohkan kan? Pokoknya sabar aja, dia tuh gede badan doang, tapi kalau masalah peka terhadap perempuan, dia nol gede banget, nggak lulus," ucap Mbak Sani sambil terkekeh.


Aina baru tahu kalau Hisyam jomblo akut, lalu siapa yang Hisyam tunggu, yang katanya cinta pertamanya. Ih misterius.


Setelah selesai menggunakan kebayanya, Aina melihat dirinya di depan cermin. Aina merasa percaya diri lah jika harus bersanding dengan Om tengil itu. Nggak malu-maluin pokoknya kalau cuma buat digandeng keliling mall atau pergi ke kondangan. Walaupun tinggi badannya sedikit njomplang. Tapi wajar kan kalau wanita itu lebih pendek dari laki-laki.


Aina lalu keluar dari ruang ganti, ia memperlihatkan kebaya yang ia pakai pada Hisyam. Hisyam melongo melihat kecantika Aina, tapi ia gengsi untuk memujinya.

__ADS_1


"Cantik nggak Mas aku?" Tanya Aina.


"Hemm."


Aina mencebikan bibirnya,"Hih, bener-bener yah, bilang cantik gitu, hamm hemm doang. Apaan sih nggak ngerti." Aina kesal, ia lalu segera kembali lagi ke ruang ganti.


"Kamu cantik banget Na," gumam Hisyam lirih.


Aina udah pergi Syam, nggak bakalan denger, ngadi-ngadi lu ah.


"Gimana kata Hisyam Na?" Tanya Mbak Sani.


"Cuma dijawab Hemm." Aina lalu melepaskan beberapa kancing depan kebayanya.


"Astagfirullah, kebengetan banget itu ih." Aina malah terkekeh, " Ya begitulah Mbak, mau bilang cantik gengsi kali."


Di kampus banyak lelaki yang memuji kecantikan Aina, tapi calon suaminya sendiri malah cuek bebek wek wek. Apes.


☘️ Bersambung ☘️


.


.


.


.


Intermezzoo:


Author : Yah, emak san juga otaknya nggak bisa islami klo liat model modelan babang Hisyam, pengen nguyel2🤣


R: Inget Thor, udah punya lakik

__ADS_1


Author: Hih, klo lg lupa jgn d ingetin dong😝😝😝



__ADS_2