Cinta Pertama Di Jabal Rahmah

Cinta Pertama Di Jabal Rahmah
Pindah Rumah


__ADS_3

Sebulan setelah ijab kabul, Hisyam meminta izin agar Aina dibawa ke rumahnya, rumah yang sudah lama ia bangun. Semua anggota keluarga mendukung, memang sebaiknya setelah menikah itu harus bisa mandiri.


Alasan itu memang benar, tapi untuk Hisyam dan Aina bukan itu yang utama. Hisyam membawa Aina ke rumahnya agar mereka tidak harus pura-pura romantis di depan sesepuh di rumah. Dibayangkan saja sepertinya akan melelahkan.


Aina dan Hisyam memasuki rumah barunya. Rumah bernuansa cat putih itu tidak terlalu besar, ada taman kecil di depan halamanya. Aina berjingkrak-jingkrak karena cukup senang melihat bunga-bunga yang sedang bermekaran di sana.


"Mas, ini kamu yang nanem? tanya Aina. Hisyam menggeleng.


"Terus?" Tanya gadis mungil itu lagi.


"Itu tukang kebun yang setiap Minggu datang membersihkan taman dan rumah." Aina mengangguk tanda mengerti.


Hisyam lalu mengajak istrinya masuk ke dalam. Sebelum masuk ke dalam, Aina bernafas kuat-kuat, lalu menghembuskannya perlahan.


"Selamat datang dunia tipu-tipu," gumamnya. Aina lalu masuk ke dalam rumah bersama Hisyam. Hisyam menunjukan beberapa ruangan yang ada di rumah ini. Semua serba minimalis, sangat cukup untuk hidup berdua.


"Mas, kulkasnya masih kosong, nanti belanja yah,"ajak Aina yang langsung dijawab dengan anggukan oleh Hisyam. Aina mendengus pelan.


"Mas, kenapa sih angguk-angguk doang sama iya iya doang, lagi sariawan ya?" Hisyam melirik Aina lalu tersenyum kecil. Ngomong aja pelit, apalagi senyum. Padahal ganteng, kan jadi mubadzir itu ganteng.


Hisyam lalu mengajak Aina menuju kamar utama.


"Kita satu kamar aja, dibawah ranjang ada kasur gede kok Na, nanti kita gantian aja, sehari kamu di atas seharinya lagi di bawah." Aina mengangguk. Aina bales deh, coba enak nggak kalau ngomong panjang-panjang cuma dibales anggukan.


"Biar nggak repot kalau sewaktu-waktu orangtua kita berkunjung." Hisyam tidak mau mendadak harus ribet pindah kamar jika sewaktu-waktu orangtuanya datang. Terkadang mereka kan suka mengejutkan, contohnya saja perjodohan ini.


"Tapi Aina dijamin aman kan Mas?" ledek Aina. Hisyam melirik Aina, "Aman, Mas nggak demen sama anak kecil,"ucap Hisyam. Hisyam merasa dirinya sedang berdusta, 15 tahun yang lalu, ketika dirinya dicium oleh bocah kecil di jabal rahmah, hatinya langsung jatuh cinta. Dan sampai sekarang, Hisyam masih berharap, gadis kecil itu bisa ditemukan.


"Kok malah ngelamun Mas? ngelamun jorok yah? Aina lalu menyilangkan tangannya di depan dadanya. Hisyam langsung menyentil Aina.

__ADS_1


"Sembarangan." Aina tergelak. Mereka berdua lalu merapikan kamar mereka, memindahkan isi kopernya ke dalam lemari.


"Mas kenapa ngelamun terus sih, bunyi dong, "celetuk Aina. Rasanya sepi sekali, hanya berduaan, diam seribu bahasa lagi.


"Cerita dong, Aina gini-gini, yang kata Mas kecil-kecil begini tapi bisa jadi pendengar yang baik kok, cius." Aina mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya di depan Hisyam.


"Ayo dong ganteng, cerita, masa ganteng-ganteng beku sih, Aina siram nanti biar mencair." Aina mengerucutkan bibirnya.


"Na, takdir itu rupa-rupa warnanya yah," celetuk Hisyam. Aina malah tergelak, memangnya balonku ada lima. Segala pake kata rupa-rupa warnanya.


"Ya biar hidup lebih berwarna Mas." Hisyam mengangguk, "Kadang kaya mimpi tiba-tiba udah nikah sama kamu. Padahal Aku sebentar lagi menemukan gadis itu, rasanya pencarian selama 5 tahun ini berakhir sia-sia." 


Aina menatap suaminya, suaminya masih memikirkan gadis itu, sama seperti Aina yang masih memikirkan Kak Rasyid.


"Kayaknya masih mending kamu deh Mas, kalau aku, aku bingung besok gimana kalau ketemu sama Kak Rasyid." Aina sejenak merenung, saat dirinya kembali masuk kuliah, apakah ia sanggup jika berpapasan dengan Kak Rasyid. 


"Nggak tau, paling ya saling lirik doang, walaupun pernikahan kita ini tidak memiliki tujuan, tapi aku selalu berdoa, Ya Allah, jika memang aku adalah sebuah harap untuk kedua orangtuaku. Tolong tegakkan bahuku, kuatkan hatiku, agar mereka bahagia dengan harapan yang bisa aku wujudkan." Aina malah melow. Matanya sudah mulai berkaca-kaca.


"Udah ih jangan nangis Na, aku tuh nggak bisa liat cewe nangis." Aina lalu tersenyum simpul. Iya untuk apa ditangisi, toh semua sudah terjadi. 


"Terus kalau nanti gadis itu kembali, Mas akan sama dia kan?" tanya Aina. Hisyam bingung menjawabnya, semuanya masih abu-abu.


"Mungkin, kamu juga pasti nanti balik lagi kan sama gebetan kamu itu?" tanya Hisyam, dan kali ini Aina pun tidak bisa menjawab. Ia akan berusaha hidup menyesuaikan dengan alur yang Allah kasih. 


Obrolan pengantin baru yang paling absurd. Biasanya pengantin baru akan membahas bulan madu, makan malan romantis, dan pastinya bahas ewita endolita. Tapi lihat, Hisyam dan Aina malah bahas gebetan masing-masing tanpa rasa cemburu. Eh belum kali yah.🤭


Selesai merapikan lemari, Aina keluar dari kamarnya lalu merapikan dapur dan membersihkannya. Hisyam duduk di kursi dapur yang berbentuk mini bar itu.


"Tadi kamu minta kita belanja kebutuhan rumah juga sayur, memangnya kamu bisa masak Na?" tanya Hisyam. Hisyam meragukan si biji ketumbar apakah benar-benar bisa masak atau hanya bisa masak mie saja.

__ADS_1


"Bisa masak dong Mas, Aina kan anak perempuan satu-satunya, Umi mau nyuruh siapa lagi kalau masalah bantu-bantu dapur kalau bukan Aina, masa Mamas Ardan, yang ada nanti garam ketuker gula lagi." Aina terkekeh. Dan hal itu pernah terjadi. Aina jadi kangen rumah, padahal baru saja beberapa jam dari sana.


"Kalau nggak bisa masak, nanti aku sewa pembantu buat masak sama bersih-bersih semuanya,"ucap Hisyam. 


Aina menghampiri suaminya,"Nggak perlu Mas, aku biasa bersih-bersih, nyuci nyetrika kok, bantuin bunda. Nyuci juga ada mesin cuci kan? kalau nyetrika kan cuma baju kita berdua. Kata Umi semua itu dilakukan untuk mendapat ridho suami." Ah andaikan pernikahan ini penuh dengan cinta bersama orang tercinta. Tapi bagi Aina ridho suami itu tetap perlu.


Hisyam mengelus kepala Aina, "Oke lah, nanti Mas tambah uang dapur plus uang jajan kamu." Aina langsung senang bukan main. 


"Uang skincare juga biar Aina glowup Mas." Mas Hisyam terkekeh lalu mengangguk. Mereka berdua sama-sama baik, kenapa sih tidak belajar untuk sama-sama cinta juga.🤭


"Ya udah ayuk belanja." Aina dan Hisyam menuju kamar untuk berganti pakaian dan mengambil kunci mobil. Mas Hisyam menggunakan kemeja hitam dan celana hitam serta kacamata hitam. Haduh Aina sampai ngiler melihat penampilan Mas Hisyam yang begitu gagah. Tapi masih belum tembus ke hati Aina. Apa mungkin tembus lewat ginjalnya dulu. Ah pokoknya ikutin alurnya aja.


Setelah rapi mereka bergegas ke swalayan yang ada di dalam Mall. Aina mau keliling Mall terlebih dahulu setelah belanja Aina ingin makan di sana, nonton di sana dan main Timezone juga, mumpung ada bos besar yang mau bayarin.🤭


☘️Bersambung☘️


.


.


.


.


Intermezzoo:


R : THor kok ga inget sih si Aina sama Hisyam?


A : Kan Aina ketemu Hisyam waktu umur 5th, coba emak dsni apa masih ingat, d umur 5thn kalian ketemu siapa aja?🤣 Yg jatuh cinta itu Hisyamnya, ga bakal inget jg wajah kecil Aina udah berubah jd kiclong kek skrg🤭 Terus mereka itu menikah kan krn perjodohan wasiat dari nenek keduanya, dan nenek keduanya sudah nggak ada

__ADS_1


__ADS_2