Cinta Pertama Di Jabal Rahmah

Cinta Pertama Di Jabal Rahmah
Membujuk Aina


__ADS_3

Bayu mengangguk, Hisyam berpamitan pada Bayu dan Anggita, Hisyam beralasan ada urusan mendadak yang harus ia selesaikan secepatnya. Sebenarnya ada Bayu juga di restoran, hanya saja pas Aina datang, Bayu sedang di toilet.


Hisyam bergegas menuju parkiran, lalu buru-buru pulang ke rumahnya. Sebelum sampai rumah, Hisyam membelikan beberapa cemilan kesukaan Aina agar istrinya tidak merajuk.


Sesampainya di rumah, Hisyam langsung masuk menuju kamarnya, Aina ternyata tidak ada di sana. Hisyam lalu menuju dapur, tidak ada juga. Hisyam mengambil ponselnya. Saat ingin menelfon Aina, Hisyam terlebih dahulu membuka pesan WhatsApp dari Aina. Hisyam bernafas lega, ternyata Aina pulang ke rumah Amihnya.


Hisyam merogoh kunci mobil yang ia masukan ke dalam kantong celananya. Hisyam lalu bergegas menuju rumah mertuanya. Sebelum sampai rumah mertuanya, ia membeli buah tangan terlebih dahulu untuk mertuanya, tidak mungkin kan datang tanpa membawa apapun.


Sesampainya di rumah Amih, Hisyam mengucapkan salam sambil mengetuk pintu utama. Ternyata Aina yang membukakan pintu.


"Waalaikumsallam,"jawab Aina. Hisyam mengarahkan tangannya ke Aina agar Aina menciumnya. Aina pun mencium punggung tangan Mas Hisyam, walaupun dalam hatinya begitu gondok.


"Masuk Mas." Aina mengajak Mas Hisyam masuk ke dalam. Amih yang tahu menantunya datang langsung heboh. Mas Hisyam menghampiri Amih lalu mencium punggung tangan Amih.


"Na, buatkan minum suamimu Na," perintah Amih. Aina segera ke dapur membuatkan minum untuk suaminya. Hisyam dan Amih menuju ruang Tv, mereka berdua mengobrol di sana.


Aina datang sambil membawa teh manis hangat untuk suaminya.


"Siang-siang kok nggak dibuatin es teh manis aja lhoo Na," ujar Amih pada Aina. Aina melirik Mas Hisyam, "Mas Hisyam lagi kurang sehat Mi." Walaupun Aina sedang sebal dengan suaminya, tapi sebenarnya Aina tetap mengkhawatirkan kondisi Mas Hisyam.


"Hisyam lagi sakit kok malah pada main ini, istirahat harusnya," celetuk Amih.


"Udah sembuh kok Mih ternyata, Mas Hisyam juga sudah ngantor sudah ngeMall juga, iya kan Mas?" Aina tersenyum kecut ke Mas Hisyam. Mas Hisyam terlihat terkejut mendengar perkataan Aina.


"Lhoo, lagi sakit, istirahat di rumah saja, kan kantor ada yang handle biasanya." Amih mulai ceramah kalau sedang mengkhawatirkan anaknya.


"Ada yang lebih penting dari sakit Mih, yaitu nge Mall."  Aina langsung ngeloyor ke dapur hendak meletakan nampan. Amih melirikku dengan tatapan heran. Mas Hisyam juga melirikku dengan wajah tegang.


Hemm, gimana rasanya saat ini, deg-degan kan pastinya, cerocos Aina dalam hati. Amih melanjutkan mengobrol dengan Mas Hisyam. Aina yang sedang tidak berselera mengobrol dengan suaminya bergegas ke kamarnya setelah meletakan nampan.

__ADS_1


Bagi Aina Kejujuran sangat dibutuhkan dalam hubungan. Kejujuran akan memperkuat fondasi yang diperlukan untuk terus membangun hubungan tersebut. Tanpa kejujuran, hubungan yang dijalani kehilangan arti.


Melihat Aina yang tak kunjung datang ke ruang tv, akhirnya Hisyam menanyakan pada mertuanya Aina kenapa tidak kembali lagi ke ruang TV.


Amih yang juga tidak tahu akhirnya menyuruh Hisyam untuk pergi saja ke kamar Aina. Ini pertama kalinya Hisyam melihat kamar Aina, karena awalnya Hisyam tidak menyukai Aina, jadi tidak ingin berlama-lama di rumah Aina. Setelah menikah juga Hisyam tinggal di rumah orangtuanya, sebulan kemudian baru tinggal di rumahnya sendiri yang sudah disiapkan dari jauh-jauh hari sebelum menikah.


Saat ingin memasuki kamar Aina, Hisyam langsung memutar handle pintu kamar istrinya, untung saja tidak dikunci. Hisyam langsung masuk ke dalam. Kamar Aina minimalis, rapi, berwarna ungu muda, khas kamar perempuan.


Aina yang sedang duduk di ranjang langsung berdiri ketika melihat suaminya masuk.


"Ya Allah Mas, ketuk pintu dulu kek, atau ucap salam," celetuk Aina. Hisyam menghampiri Aina. Aina terkejut ketika Mas Hisyam memeluk pinggangnya.


"Kamu kenapa? marah sama Mas?" Hisyam mencoba menatap mata Aina, tapi Aina selalu mengalihkan pandangannya. Hisyam akhirnya memegang dagu Aina, lalu mengarahkan wajah Aina agar menghadap ke wajahnya. Aina mau tidak mau akhirnya menatap mata elang suaminya.


"Kenapa?" tanya Hisyam lagi. Aina menggeleng. Hisyam tidak mengerti dengan jawaban Aina. Hisyam langsung saja menyerang bibir Aina. Aina sempat terkejut namun akhirnya menikmati juga.


Arggh... kenapa perempuan selemah itu, diperlakukan semanis ini saja langsung luluh. Ayo sadarlah otak. Aina terus saja meracau dalam hati. Hisyam tersenyum karena Hisyam mengira Aina tidak benar-benar sedang marah padanya. Buktinya, dicium masih saja merespon, tidak menolak sama sekali.


"Mau apa Mas nyusul kesini, sana keluar, sebel sama Mas Hisyam," ucap Aina. Eh Mas Hisyam malah mengunci pintu kamar mandi. Ia menyalakan shower lalu memeluk Aina dan membawa Aina di bawah guyuran shower. Aina begitu canggung, apa ini yang disebut mandi berdua sepasang suami istri.


"Mas kenapa jadi mandi sih?" Aina memukuli dada Mas Hisyam.


"Biar hati kamu adem, lagi panas kan, Mas juga panas,  panas ngeliat marah kamu yang menggemaskan ini, siang-siang begini memang enaknya mandi, apalagi mandi berdua, kita belum pernah kan Na melakukannya, kata Adrian itu sangat mengasikan." Aina terdiam, kenapa jadi sampai sini permasalahannya. Kenapa ujungnya jadi di kamar mandi ini. Aina jadi nyesel ngambek.


Mas Hisyam memeluk Aina, mereka masih di bawah guyuran air dari shower.


Hisyam menatap wajah Aina, Hisyam memegang dagu Aina lalu mengarahkannya agar Aina menatapnya juga.


"Na, kita berdua sudah halal, apapun boleh kita lakukan, ternasuk bermesraan layaknya suami istri," ucap Mas Hisyam.  Aina memalingkan wajahnya.

__ADS_1


"Suami istri itu saling jujur, bukan seenaknya berbohong," celetuk Aina.


"Maaf Na, tapi ini semua tidak seperti apa yang kamu kira, Mas akan jelaskan semuanya, intinya tidak seperti apa yang kamu lihat." Mas Hisyam terus saja merayu Aina.


"Apa yang aku lihat? aku nggak ngeliat apa-apa," ucap Aina yang memang sengaja mengatakan demikian agar Mas Hisyam semakin gencar merayunya. Aina ingin melihat perlakuan Mas Hisyam ketika dirinya sedang marah.


"Mas tahu kamu lihat Mas di restoran, Na, Mas nggak berdua kok, ada teman Mas juga di sana." Mas Hisyam berusaha keras meyakinkan Aina.


"Tapi yang aku lihat kalian berdua," ucap Aina sambil berusaha melepaskan pelukan Mas Hisyam.  Namun Mas Hisyam tidak secuil pun melepaskan Aina.


"Mungkin saat itu teman Mas lagi ke toilet, Na tolong jangan salah faham."


"Mas, bukannya itu yang kamu mau yah, wanita itu ditemukan, berarti pernikahan kita cukup kan sampai disini," ucap Aina. Hati Aina sedikit sesak ketika mengucapkannya.


Mas Hisyam menggeleng, "Nggak Na, yang Mas mau sekarang kamu." Eh si Om Turki ini matanya memerah seperti ingin menangis. Aina menatap Mas Hisyam, Aina tidak menemukan kebohongan di mata Mas Hisyam.


"Mas, maunya kamu." Wajah Mas Hisyam semakin mendekat ke wajah Aina. Aina memejamkan matanya. Bibir mereka kini sudah menyatu di bawah guyuran air dari shower. Rasanya dingin-dingin empuk.🤭 Si Dicky tiba-tiba menggeliat manja, terbangun dari tidur nyenyak nya.


Bersambung....


.


.


.


.


.

__ADS_1


(Si Dicky nih kalau lagi ada orang berantem pasti suka ikut nimbrung, nggak suami Aina, nggak suami mak San, sama aja nih si Dicky🤣 Emak udah nulis dari kemarin, baru lulus rivew hri ini gaes)


__ADS_2