
Esok paginya seperti biasa keluarga Abdullah akan makan bersama di meja makan. Aina pagi ini tampak lesu, wajahnya tak seceria biasanya. Digoda Mas Ardan pun tak menghiraukan. Mas Ardan sampai gemas mencubit pipi Aina, tapi Aina tidak membalas.
"Mi, Aina lagi kenapa sih? Datang bulan yah?" Tanya Mas Ardan. Biasanya setiap pagi selalu bersilat lidah dengan adik kesayangannya tapi pagi ini Aina mogok bercanda.
"Bukan datang bulan Mas, tapi tamunya semalam nggak datang," ledek Amih. Ya memang benar kan, bahkan sampai pagi ini Kak Rasyid masih belum aktif ponselnya.
"Siapa?" Tanya Mas Ardan penasaran.
"Itu laki-laki yang Aina bicarakan itu, yang Aina suka itu, katanya berani menghadap Abi, tapi nyatanya. Padahal kalau mau menghadap Abi, Abi nggak bakal kok nuntut menikah sekarang,"jawab Abi Abdullah. Aina masih diam membisu. Ia sudah pasrah, semalam ia menunaikan salat tahajud dan memasrahan takdir jodohnya pada Allah.
"Sudah Bi, kasihan Aina." Mas Ardan walaupun jadi teman berantem Aina, tapi Mas Ardan kakak yang paling menyayangi Aina dari ketiga kakaknya.
"Justru karena Abi kasihan, jadi Abi ingin memberikan Aina yang terbaik. Semua ayah di dunia ini ingin yang terbaik untuk anak perempuannya, Ia ingin anak perempuannya mendapatkaan laki-laki yang terbaik melebihi dirinya meski ia sadar betul bahwa tidak ada laki-laki yang baik melebihi dirinya, namun ia tetap selalu berharap." Aina menatap Abinya, wajah Abi mulai keriput, harapan Abi hanya kebahagiaan Aina, Aina sungguh terharu dengan ucapan Abi.
Sosok ayah memang tidak selembut ibu dalam memberikan cinta dan kasih sayang pada anak perempuannya. Namun dengan kekakuannya serta apa adanya ia tetap mampu memberikan cinta dan kasih sayang pada anak perempuannya. Pada dasarnya semua ayah di dunia ini sama, jauh di dalam lubuk hatinya ia selalu menginginkan yang terbaik untuk anak perempuannya. Tidak terkecuali soal urusan cinta.
Ayah dan ibu memiliki peran penting masing-masih dalam tumbuh kembang anak-anaknya. Bila ayah menunjukkan dunia, ibu akan memberikan cara bagaimana untuk hidup di dunia. Jika ibu tampil dengan sosok lembut, ayah biasanya akan tampak memiliki karakter yang bijaksana dan penyayang.
__ADS_1
"Aina mau Bi, dijodohkan dengan pilihan Abi,"ucap Aina sambil melirik Abinya. Abi langsung tersenyum sumringah.
"Sungguh?" Aina mengangguk. Aina yakin Abi akan memilihkan pasangan yang tepat untuk Aina, Aina juga ingin membahagiakan Abi dengan menerima perjodohan ini. Masalah cinta urusan belakang deh.
"Alhamdulillah." Serempak mengucapkan Alhamdulillah terkecuali hati Alaina. Ini semua demi Abi.
"Besok kebetulan hari Minggu, Abi akan aturkan pertemuan kalian berdua nanti, eh tidak berdua, maksudnya kedua keluarga juga nanti. Abi mau di restauran timur tengah, mau makan nasi kebuli bareng-bareng sama keluarga Hisyam nanti." Wajah Abi benar-benar terlihat bahagia. Aina bahagia melihat Abi bahagia.
"Kamu beruntung dapet Hisyam Na, dia itu ganteng banget kaya opa opa Turki," celetuk Mas Arman kakak kedua Aina. Gini nih bapak-bapak kurang gahul. Opa itu dari Korea bukan dari Turki keles.
" Aina juga cantik, dia juga harusnya beruntung dong dapetin Aina," celetuk Aina. Amih langsung mengacungkan jempolnya pada Aina.
"Mi, Mas Ardan rese tuh, heran deh sama Mbak, kenapa mau sama Mas Ardan."
"Mamas kan ganteng, tanggung jawab, soleh, penyayang lagi."
"Pret ah." Perang mulut kembali di mulai, Aina sudah mau bergurau lagi, tidak seperti 10 menit yang lalu, diam membisu.
__ADS_1
Aina pasrah Gusti.
☘️ bersambung ☘️
.
.
.
.
Intermezzoo:
Pernah berencana, tapi kembali lagi, Tuhan penentu segalanya. Pernah berangan-angan begitu tinggi, tapi jangan lupa, Tuhan tetap menjadi penentu jalan kita.
Pernah pasrah seperti Aina dalam hal cinta karena sudah tidak percaya lagi dengan cinta, tapi Tuhan hadirkan cinta lewat tanganNYA. Indahlah pokoknya klo qt manut nurut sama skenario NYA.
__ADS_1
Kalian pernah pasrah apa?
Jangan bilang pasrah saat bersama pak suami🤣🤣🤣