
...Typo bertebaran...
Seperti biasa, pagi ini Aina sudah berkutat dengan bumbu-bumbu dapur serta penggorengan. Rambutnya tergerai setengah basah, tentu saja basah. Mas Hisyam sedang bersemangat membuat Hisyam junior.
Saat Aina tengah membuat nasi goreng, tiba-tiba mas Hisyam melingkarkan tangannya di perut Aina, hal ini membuat Aina sedikit terperanjat.
"Mas, kagetin aku aja," ucap Aina. Ia lalu menyingkirkan tangan suaminya yang menempel di perutnya, hal ini membuatnya susah fokus saat memasak.
"Masih pengen lagi Na," ledek Hisyam. Aina mengendikan bahunya. Kalau dituruti bisa tidak masuk kuliah dan mas Hisyam tidak masuk kerja ini.
"Mas, nggak ada kenyangnya ih."
"Ih, itu nggak bakal kenyang lah, kan bukan makanan." Mas Hisyam bisa saja menjawabnya.
"Sebentar lagi jadwal aku palang merah lhoo, Mas nanti galau lagi," ucap Aina sambil terkekeh. Mas Hisyam menaikan satu alisnya.
"Memangnya kalau palang merah biasanya berapa lama Na, jangan lama-lama lhoo yah."
Aina tergelak mendengar perkataan suaminya. Palang merah ya tidak bisa disetting sesuka hati kapan harus selesainya, ada-ada saja nih mas Hisyam.
"Seminggu sampai sepuluh hari Mas," jawab Aina. Mas Hisyam langsung menelan salivanya.
"Lama banget Na, haduh bisa jadi odol nanti." Aina mengernyitkan dahinya, apa maksud suaminya ini, apanya yang jadi odol.
"Hah, apanya yang jadi odol?" tanya Aina dengan polosnya. Mas Hisyam menepuk dahinya.
Mas Hisyam membisikan sesuatu pada Aina. Aina mendelik.
"Terus aku harus gimana dong Mas?"
Hisyam terkekeh, "Tenang, dalam ajaran agama kita kan tetap masih bisa memuaskan suami walaupun sedang berhalangan."
Mas Hisyam kembali membisikan cara memuaskannya. Mas Hisyam berkata dalam agama Islam, seorang suami tidak boleh berhubungan **** ketika istrinya sedang menstruasi. Menurut kesehatan pun, hal ini masih menuai pro dan kontra karena bisa memicu risiko penyakit menular.
Tapi interaksi dalam bentuk bermesraan dan bercumbu (selain di daerah antara pusar sampai lutut istri ketika haid) diperbolehkan dan hukumnya halal
A’isyah radhiyallahu ‘anha menceritakan:
Apabila saya haid, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruhku untuk memakai sarung kemudian beliau bercumbu denganku.
__ADS_1
Selain bercumbu, suami juga bisa melakukan mastrubasi asalkan dengan bantuan tangan sang istri.
Aina mengangguk, ada pelajaran baru yang baru saja Aina dapatkan dari suaminya. Demi mendapat ridho suaminya, Aina akan melakukan apapun selagi masih diperbolehkan dalam agama.
"Oke, oke," ucap Aina. Hisyam langsung mengacungkan jempolnya.
"Udah sekarang mas duduk aja di sana, sebentar lagi matang nih, jangan ganggu dulu, nanti malah jadi ngalor ngidul rasanya mas." Aina menunjuk ke arah meja makan yang ada di sebelah dapur.
Mas Hisyam menuruti perkataan istrinya, tapi sebelum itu ia mengecup pipi Aina terlebih dahulu. Aina langsung tersenyum senang.
Indah sekali rasanya. Benar apan kata Amih dulu, Orang-orang yang mengenal setelah menikah biasanya akan menjadi sebuah cinta yang paling tulus dan dapat menerima pasangan apa adanya. Baik itu kekurangan atau kelebihan dari pribadi kalian masing-masing. Kita dan pasangan juga bisa berpacaran dan bermesra-mesraan dengan status yang halal.
Aina menyelesaikan masaknya lalu segera menghidangkan di atas meja makan. Mereka sarapan nasi goreng berdua.
Hisyam menatap Aina saat Aina tengah makan. Aina kembali menatap suaminya dengan penuh tanya.
"Kenapa Mas? aku belepotan yah?" Aina mencoba menyeka mulutnya menggunakan tisyu.
Mas Hisyam menggeleng, "Mas sebel sama sendok itu," ucap Mas Hisyam sambil menunjuk sendok yang ada di tangan Aina.
"Kenapa?" tanya Aina yang kini tengah membolak-balikan sendoknya.
"Nempel di bibir kamu Na, masuk ke dalam, Mas cemburu, harusnya hanya Mas yang bisa mengeksplor bibir kamu." Mas Hisyam benar-benar memasang mimik wajah sebal.
"Mesum ih," celetuk Aina. Mas Hisyam tiba-tiba menggenggam tangan Aina.
"Na, besok mas ada tugas ke luar kota sama Adrian dan tim lainnya, mau liat proyek yang ada di Batam," ucap Mas Hisyam dengan wajah sendu.
Aina mengangguk, "Hati-hati ya mas, inget jangan nakal yah."
"Enggak dong, mas type laki-laki setia, kamu tuh yang harus jaga hati, kan di kampus ada si itu siapa? yang dulu kamu suka itu." Aina mesem manis mendengar ucapan mas Hisyam. Ada hawa-hawa cemburu dalam kata-katanya.
"Aku juga setia Mas. Janji pokoknya." Mas Hisyam tersenyum, lalu mencium punggung tangan Aina dengan lembut.
"Sudah ayo siap-siap Mas, aku mau ke kampus." Aina beranjak dari tempat duduknya menuju kamar, bersiap-siap berangkat ke kampus.
Aina berangkat ke kampus diantar suaminya. Sesampainya di kampus, Aina mencium punggung tangan suaminya, mas Hisyam mencium dahi Aina.
"Hati-hati, nggak boleh macem-macem yah!" perintah Hisyam. Aina mengangguk, mengiyakan perintah suaminya.
__ADS_1
Aina turun dari mobil lalu berjalan masuk ke dalam kampus. Baru saja sampai aula kampus, Aina dihadang oleh Anggita.
"Aina ..."
Aina menoleh ke arah Anggita sambil tersenyum.
"Iya kak."
"Aku mau ngobrol sebentar, boleh?"
Aina mengangguk, Anggita membawa Aina duduk di kursi panjang aula kampus.
"Maaf yah Na sebelumnya, ini masalah mas Hisyam."
Aina melirik Anggita, "Kenapa dengan mas Hisyam?"
"Kamu pasti sudah tau kan cerita antara aku dan mas Hisyam, aku mendengar dari mas Yoga jika mas Hisyam sudah menungguku sejak lama, dan mas Yoga bilang, mas Hisyam akan menceraikan kamu jika sudah menemukan aku," ucap Anggita. Hati Aina begitu tertohok mendengar perkataan Anggita. Apakah dirinya sedang tidak waras, mengatakan hal demikian pada Aina.
"Jangan bicara sembarangan Kak." Aina menatap tajam Anggita.
Anggita terkekeh, "Kata mas Yoga pernikahan kalian hanya karena perjodohan kan?"
"Tapi kami sudah saling mencintai, dan mas Hisyam juga sudah menerima perjodohan ini."
Anggita berdecih, "Laki-laki bisa mengatakan apapun Aina. Lihatlah, sekarang mas Hisyam sudah menemukan aku, dan aku juga lebih cantik dari kamu."
Aina terkejut, wanita yang ada di depannya ini kesurupan apa, pagi-pagi begini sudah menghalu setinggi langit.
Aina berdehem, "Terus mau kakak apa?" Aina penasaran sebenarnya wanita ini ingin apa.
"Ya nggak pengen apa-apa sih, hanya menunggu kamu dan mas Hisyam bercerai."
Aina beristighfar dalam hati, kenapa wanita ini begitu jahat, kenapa mas Hisyam bisa-bisanya menunggu wanita seperti ini, tapi untung Allah selamatkan dengan perjodohan antara Aina dan mas Hisyam.
Aina terkekeh, "Prestasi terbesar iblis itu adalah membuat pasangan suami istri bercerai."
Anggita memasang wajah marah, "Jadi kamu anggap aku iblis?"
Aina mengendikan bahunya, "Kamu simpulkan saja sendiri." Aina beranjak dari tempat duduknya, ia tidak ingin berlama-lama meladeni wanita seperti itu, rasanya buang-buang waktu saja.
__ADS_1
"Kita lihat saja nanti, mas Hisyam pasti akan memilih aku, cinta pertamanya," ucap Anggita sedikit meninggikan suaranya.
Aina menghentikan langkahnya, "Kalau kamu merasa cantik dari aku, cari yang bujangan, jangan suami orang, kalau masih terobsesi sama suami orang, tandanya kamu sampah," celetuk Aina. Aina kembali melanjutkan langkahnya. Ada rasa was-was dalam hatinya, takut jika Anggita berbuat sesuatu pada suaminya.