Cinta Pertama Di Jabal Rahmah

Cinta Pertama Di Jabal Rahmah
Biji Ketumbar


__ADS_3

...Di sini gunung di sana gunung...


...Di tengah tengahnya pulau jawa...


...Anda bingung saya pun bingung...


...ih ini pantun maksudnya apa sih🤦...


...Udah udah nggak jadi grand opening, hayo lanjut baca aja🤣...


...Typo bertebaran!!!...


Aina dan Hisyam sepakat akan menerima perjodohan ini dengan cara mereka sendiri. Mereka akan menjalinnya semengalir mungkin dengan ketentuan-ketentuan yang sudah mereka sepakati. 


Mereka berdua tidak ingin ada adegan saling siksa, saling jahat seperti cerita-cerita perjodohan di novel-novel dan sinetron. Mereka ingin menjalani takdir ini semengalir mungkin, terserah Allah mau apa kedepannya. Ingin membuat kehidupan mereka seperti apa Mereka akan mempersiapkan diri untuk menerimanya.


Setelah mengantarkan Aina pulang, Hisyam kembali lagi ke kantornya. Ia masuk ke dalam ruangan kerjanya lalu menghempaskan tubuhnya dikursi. Cukup melelahkan. Adrian sekretaris Hisyam yang saat itu ada di dalam ruangan Hisyam, sekilas melirik Hisyam.


"Kenapa Pak Bos, mukanya uring-uringan gitu, harusnya kan Pak Bos seneng, habis fitting baju pengantin buat akad kan?" Tanya Adrian. Tidak ada masalah yang Hisyam tutupi dari Adrian selama ini. Adrian adalah partner kerja terbaik juga sahabat terbaik yang Hisyam miliki, yang mau berbagi keluh kesah dengannya.


"Calon istri pasti cantik lah, Umi pasti pilihin yang pas buat Pak Bos, nggak mungkin kaleng-kaleng." Ya kali ah Sarden, pake segala kaleng-kaleng.🤭


"Haduh, entahlah, aku tuh bingung, aku setua ini, kenapa Umi jodohin aku sama biji ketumbar." Adrian memicingkan matanya. Hisyam lagi ngigo apa gimana nih, biji ketumbar dibawa-bawa.


"Biji ketumbar gimana sih Bos? Di jodohin sama bakul gorengan apa, segala ada ketumbar-ketumbarnya." Adrian malah tergelak.


"Cewe yang Umi jodohin sama aku itu masih 20 tahun, masih mahasiswa, mungil, cantik sih, cuma kan kesannya jadi kaya bocah jalan sama om nya, haduh nanti apa kata orang-orang, nanti aku disangka fedofil lagi." Hisyam lalu membuka leptopnya, ia ingin melanjutkan pekerjaannya. Dari oada terus membayangkan hal yang aneh-aneh, mendingan lanjut bekerja.


"20 tahun itu justru lagi kinyis-kinyis nya Pak Bos, lagi ranum-ranumnya. Ibarat buah mah, lagi mengkel, kalau buat rujakan kan seger banget tuh." Dih si Adrian, bayanginnya sampai ke rujakan segala.

__ADS_1


"20 tahun itu bukan anak-anak lagi lah Bos, segitu tuh diajak bikin anak juga sudah bisa, malah lebih gurih,"sambung Adrian sambil tergelak. Hisyam melempar pulpen ke arah Adrian karena kesal, kenapa pembahasannya kesana-sana.


Adrian bukannya takut, malah semakin tergelak, "Biar Pak Bos juga awet muda kalau bininya masih muda. Mana coba ih, mau liat orangnya bos, penasaran." 


Hisyam lalu membuka galeri foto di ponselnya, tadi saat fitting baju akad, Hisyam meminta foto Aina pada Mbak Asti. Hisyam gengsi kalau harus memfoto Aina di depan Aina langsung. Nanti Aina kegeeran lagi. 


Hisyam memperlihatkan foto Aina menggunakan kebaya putih. Adrian menghampiri Hisyam. Adrian berdecak lalu menggeleng.


"Kenapa?" Tanya Hisyam. Hisyam penasaran ingij tahu maksud ekspresi Adrian.


"Cantik, mungil, bisa digendong-gendong ini mah, bisa dipeluk-peluk buat bantal guling, gila cakep Bos." Hisyam menyentil kening Adrian.


"Bisa nggak sih komennya jangan menjurus kesana-sana ih." Komentar Adrian tidak jauh-jauh dari hal berbau ranjang. Adrian memang lebih faham, anaknya sudah tiga, padahal lebih muda dua tahun dari Hisyam. Sementara Hisyam, boro-boro tiga, ngadon saja belum tentu bisa.😆


"Ya terus komennya harus menjurus kemana? Ke Grogol? Ke Serpong? Apa ke celilitan? Kan bos mau nikah Bos, ya pasti ujung-ujungnya orang nikah kan nanti biar bisa olahraga bareng pasangan." Hisyam terdiam, ia belum bisa bercerita jika pernikahannya tidak ingin mengarah kesana. Kecuali kalau hilaf.


"Ya udah terserah deh ah, mau kerja lagi nih, banyak kerjaan malah bahas apaan begini." Hisyam lalu memfokuskan dirinya lagi untuk kembali bekerja dan Adrian juga kembali ke tempatnya, ia berhenti meledek bosnya.


Selesai makan malam, Aina berjalan menuju ruang keluarga, ia lalu menyalakan televisi. Amih dan Abi masih duduk di meja makan membicarakan tentang pernikahan Aina dan Hisyam.


Aina membuka aplikasi tok-tok, ia ingin melupakan sejenak tentang perjodohan di zaman milenial ini. Aina tertarik dengan jogetan yang ada di tok tok, saat akan mempraktekkannya tiba-tiba Abi langsung muncul dan berkacak pinggang. Aina tersenyum lalu mematikan ponselnya.


"Hihi maaf Bi,"ucap Aina sambil terkekeh. "Awas ya kalau joged-joged, Abi selempang nanti pakai sapu lidi. Abi kenapa sih galak banget.


Bel berbunyi, Abi lalu melirik Aina.


"Siapa Bi?" 


"Keluarga Hisyam." Seketika Aina langsung berlari ke kamarnya. Kostum Aina malam ini kacau balau, hanya memakai daster tidur sebatas betisnya.

__ADS_1


"Kenapa sih Abi nggak woro-woro dari awal kalau Keluarga Hisyam akan ke rumah," gumam Aina dalam hati. Ia segera mengganti dasternya dengan rok panjang serta kaos panjang dengan jilbab instan warna senada dengan kaosnya.


Hisyam dan kedua orangtuanya datang ke rumah Aina untuk membicarakan tanggal pernikahan. Aina dan Hisyam meminta pada orangtuanya agar tidak usah diadakan segala lamaran mewah atau pertunangan mewah. Mereka hanya ingin proses ijab kabul yang dihadiri oleh keluarga terdekat saja. 


Aina juga berencana hanya akan mengundang ketiga sahabatnya saja, dan ketiga sahabatnya pun harus bekerja sama untuk menutup rapat-rapat perihal pernikahannya. Hal ini sama juga dengan Hisyam, ia tidak mengundang banyak orang atau teman nya, ia hanya mengundang beberapa teman dekatnya saja, yang memang sudah sangat dekat.


Padahal kedua belah pihak ingin mengadakan resepsi besar-besaran tapi Hisyam dan Aina akhirnya memberi alasan jika mereka akan menggelar resepsi nanti saja. Mereka ingin fokus saling mengenal terlebih dahulu. Itulah alasan yang mereka buat. 


Hisyam juga meminta pada keluarga Aina agar membawa Aina untuk tinggal di rumah pribadi Hisyam yang sudah Hisyam siapkan jauh sebelum Hisyam bertemu Aina. Pihak keluarga justru sangat senang, karena itu akan  melatih kemandirian dan keintiman keduanya.


Keluarga Hisyam sudah menyiapkan berkas-berkas untuk mendaftarkan pernikahan Hisyam dan Aina ke KUA. Mereka sepakat akan melakukan prosesi ijab kabul satu minggu lagi karena hanya ijab kabul, tidak ada persiapan yang rumit atau berat, karena memang request dari calon pengantin juga.


Hisyam dan Aina sudah menurut jadi kedua belah pihak keluarga akhirnya ikut menurut juga kemauan Aina dan Hisyam. Yang terpenting Hisyam dan Aina menikah.


Pupus sudah harapan Aina yang memiliki mimpi menikah dengan gaun pengantin bak princess dengan dekorasi modern penuh dengan bunga mawar putih yang menghiasi setiap sudut gedung. Bukan hanya tentang mimpi tentang dekorasi pernikahannya saja. Tapi calon suaminya juga melesat dari dugaan. Bahkan tidak pernah terbayangkan sama sekali menikah dengan laki-laki yang belum kenal sepenuhnya dan terpaut usia 10 tahun.


Begitulah takdir jodoh, bagaikan prank yang terkadang membuat syok. Tapi Aina dan Hisyam akan menjalaninya dengan lapangdada.


"Na, kamu mau mahar apa? Tanya Hisyam pada Aina di depan Keluarga Aina dan keluarganya juga.


"Semampunya Mas aja, yang penting ada," jawab Aina seadanya. Bukankah sebaik-baik wanita adalah yang paling murah maharnya. Tapi jika lelaki ingin memberi sesuatu yang mahal ya tidak jadi masalah, asalkan mampu, cash, tidak hutang.


"Kalau masalah mampu sih, Hisyam juga mampu beliin Alphard buat kamu Na,"celetuk Abi Hisyam.


"Nah, itu juga boleh Bi, ide bagus itu." Semuanya malah tergelak. Hisyam melirik Aina sekilas. 


"Eh tapi jangan deh Bi, mubadzir kalau beli mobil, nanti nggak bisa Aina pakai, tapi harus bayar pajak terus kan mubadzir, mending buat beli rumah, tanah atau apa gitu yang bisa di investasi kan," sambungnya.


"Ih, jiwa emak-emak gini nih," ujar Abi Abdullah. Aina tersenyum, "Ya belajar jadi emak-emak cerdas Bi." Eh mereka semua malah tergelak lagi.

__ADS_1


☘️ Bersambung ☘️



__ADS_2