Cinta Pertama Di Jabal Rahmah

Cinta Pertama Di Jabal Rahmah
Makan Siang


__ADS_3

Setelah selesai fitting kebaya akad, Hisyam mengajak Aina makan siang. Kali ini Hisyam membukakan pintu mobil untuk Aina dan membantu menutupnya juga. Aina sampai tercengang melihat perlakuan Hisyam. Aina berpikir pasti ini hanya rasa bersalah Hisyam saja karena masalah tadi.


Hisyam masuk ke dalam mobil, sebelum menyalakan mesin mobilnya, Hisyam bertanya pada Aina ingin makan apa. Aina hanya menjawab jika ia siang ini ingin makan yang segar-segar.


"Yang seger apa sih Na? Sebutin, takut salah,"ucap Hisyam sambil menyalakan mobilnya.


"Mau sop janda Mas, seger banget tuh siang-siang makan sop janda." Hisyam mengerutkan dahinya. Apa sih nih bocah, minta makanan aneh-aneh, yang Hisyam pernah tahu itu hanya sop buntut, sop daging, sop ayam. Ini makanan apa namany aneh, sop janda.


"Sop janda?" Tanya Hisyam. Aina mengangguk cepat.


"Sop janda itu apa sih Na, aneh-aneh kamu, sop janda yang punya restoran janda gitu Na." Aina malah tergelak mendengar ucapan Hisyam. Sepertinya Mas Hisyam belum pernah makan sop janda. 


"Sop janda itu cuma nama kiasan aja Mas, isinya sama kok kaya sop daging gitu, sop janda itu sop daging sapi tapi banyak taburan cabe rawit utuhnya, seger banget tuh, minumnya es jeruk." Aina jadi ngiler kan, baru bayangin doang udah ngiler nih.


Hisyam mengangguk faham, "Kenapa sih wanita suka cari penyakit?"


Aina mengernyitkan dahinya, "Kenapa berspekulasi demikian Mas?"


"Kebanyakan wanita itu kan sakitnya lambung, tapi masih bandel, makan pedes, masih bandel minum kopi, cari penyakit itu namanya, kalau sudah sakit aja ngrengek-ngrengek." Aina tergelak, Mas Hisyam kok tahu banget sih, padahal katanya belum pernah punya cewe.


"Mas tahu dari mana? Jangan ngadi-ngadi Mas." Aina mencoba mengelak, ingin tahu saja Mas Hisyam bisa menilai demikian dari mana asal sumbernya.


"Di klinik perusahaan, kebanyak yang suka sakit itu karyawan perempuan, dan keluhannya hampir sama, sakit perut." Aina ber oh ria, kirain bisa tahu dari gebetan.


"Tapi Aina kuat kok Mas." Aina memasang wajah memohon sambil mengerlingkan matanya agar Mas Hisyam mau mengabulkannya.


"Dih, genit." Aina tergelak. Entahlah, Mas Hisyam itu kaku kaya amplas, tapi sering membuat Aina tergelak.


Dengan bantuan google Maps yang dibaca Mas Hisyam sendiri, karena Mas Hisyam tau dari pengalaman teman-temannya yang memiliki pasangan, jika wanita itu sering salah jika membaca google maps. Ya elah, Mas Hisyam, belum juga coba nyuruh Aina baca peta google maps, udah suudzon duluan.😆 

__ADS_1


Akhirnya sampai juga di tempat sop janda legendaris. Aina berlari kegirangan, Mas Hisyam hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Aina yang memang baru beranjak dewasa. Nggak ada anggun-anggunnya. Aina ingin menjadi dirinya sendiri, sekalipun itu dihadapan calon suaminya.


"Mas duduk sini Mas, lesehan aja." Hisyam mengikuti Aina dan duduk berhadapan dengan Aina. Aina memesan satu porsi sop janda, dan es jeruk. Sedangkan Mas Hisyam memesan sop biasa dengan jeruk hangat.


Saat sedang menunggu pesanan Aina menatap Mas Hisyam yang ada dihadapannya itu. Ganteng ih.


"Mas, kamu tuh ganteng tahu." Hisyam tersenyu. Haduh tambah ganteng kan jadinya.


"Hemm, baru tahu kamu kalau aku ganteng." Eh malah jadi jumawa tuh Om tengil.


"Tapi kenapa jadi bujang lapuk sih? Kenapa nggak laku gitu," ceplos Aina yang seketika membuat Hisyam yang tadinya melambung tinggi langsung terjun bebas menghantam bebatuan besar.


"Mau muji apa mau ngejek sih." Mas Hisyam menyentil kening Aina karena gemas. Gemas bin sebel pokoknya. Aina mencebikan bibirnya.


"Aina tanya, bukan muji apalagi ngejek." Aina mengelus-elus keningnya yang disentil Mas Hisyam.


"Aku lagi cari seseorang Na, kan udah pernah cerita, aku lagi cari cinta pertamaku," jawab Hisyam.


"Ya nggak tahu, kalau tahu nggak bakalan Mas cari." Aina malah semakin tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan Mas Hisyam.


"Jelasin yang bener ngapa Mas!" Pinta Aina karena Aina ingin tahu kenapa sampai 30 tahun laki-laki dihadapannya ini bertahan dengan status jomblonya. Padahal tampang bak Zyan Malik, dompetnya tebal, mapan, kurang apa coba. 


Hisyam menjelaskan jika dulu waktu kecil ia bertemu dengan gadis kecil di mekah, lalu gadis kecil itu mencium pipinya, tapi Hisyam kehilangan jejak saat mencari alamat gadis kecil itu saat ini.


Aina malah tergelak, "Dih, baperan banget, cuma di sun pipi doang juga, kebawa sampai dewasa gini."


"Namanya juga cinta pertama Na, kamu nggak ngrasain sih." Makanan datang, mereka terdiam sejenak saat pegawai sop janda menyajikan pesanan mereka di atas meja.


"Boro-boro ngrasain begituan Mas, Amih sama Abi galak." Aina menyentongkan nasi ke atas piringnya. Ia juga membantu menyentongkan nasi ke atas piring Hisyam. 

__ADS_1


Hisyam melirik Aina, "Aku juga bisa ambil nasi sendiri Na."


"Ya Elah, ketimbang ngambilin nasi doang juga Mas, nggak usah wafer deh, aku biasa gini kok, ambilin buat Mamas Ardan, Mamas Arman, jadi udah biasa"ledek Aina. Hisyam mengangguk.


"Oh ya, terus cowo yang kamu ceritain yang katanya kamu suka itu gimana?" Hisyam juga ingin tahu Laki-laki seperti apa yang membuat Aina jatuh hati.


"Oh itu kakak tingkat Aina, Kak Rasyid udah mau skripsian, kita kaya cinta lokasi gitu waktu ospek, dia jadi pembina ospek Aina." Fikiran Aina mendadak flashback, mengingat kembali kemanisan kisahnya dengan Kak Rasyid saat pertama kenalan sampai mereka berikrar akan saling menunggu di masa depan. Tapi sayangnya malah masa depan Aina tidak ada Rasyid di sana.


Aina lalu menunduk, ia memakan sop jandanya, mengunyah cabe yang masih utuh dan jelas rasanya sangat pedas. Panas pedas, tapi ada es jeruk untuk mengurangi rasa pedasnya. Ah pedasnya juga tak sebanding dengan kondisi hatinya yang panas pedas tapi tiada obatnya.


"Kamu sedih?" Aina mengangguk. Lucu sih, calon suami menanyakan tentang hati Aina yang sudah berlabuh di dermaga cinta laki-laki lain. Hisyam dan Aina adalah calon suami istri yang menceritakan kisah cintanya dengan santuy.


"Tapi nggak terlalu sedih banget kok, soalnya kak Rasyid bilang, dia mau nunggu janda aku." Hisyam tergelak. "Masa sih Na?" Aina mengangguk,"Dia sih ngomongnya gitu. Mudah-mudahan kita nggak lama-lama ya Mas sandiwara pernikahanya, semoga Mas cepat menemukan cinta pertamanya dan aku juga  bisa bersatu lagi dengan Kak Rasyid."


Hisyam tidak menjawab apapun perkataan Aina karena perkataan Aina agak menyentil hati Hisyam. Hisyam ingin menikah, tapi tidak diniatkan untuk bercerai. Tapi ya sudahlah, takdir masa depan tidak pernah ada yang tahu. Hisyam pura-pura menikmati hidangan sop yang begitu segar, walaupun obrolan mereka sebagai calon suami istri tidak begitu membuat hati segar, bahkan terkesan aneh.


Saat sedang makan, Hisyam dikagetkan dengan suara karyawannya yang ternyata sedang berkunjung ke tempat makan sop janda juga.


"Siang Bos, tumben makan di sini?" Tanya Aldi, karyawan Hisyam.


"Eh Di, lagi pengen aja yang seger-seger." Aldi lalu melirik gadis cantik yang ada disebrang Bosnya.


"Cie si Bos, tumben juga makan bareng cewe." Hisyam tersenyum lalu memperkenal Aina pada Aldi.


"Kenalin, dia Aina, sepupu aku." Aina memicingkan matanya. Sialan banget emang ya si bujang lapuk, malah memperkenalkan Aina sebagai sepupunya. Aina tersenyum pada Aldi.


"Om Hisyam, ini temennya Om?" Tanya Aina yang langsung di angguki oleh Hisyam.


"Ganteng banget temen Om." Kali ini Hisyam yang memicingkan matanya. Mendengar pujian dari Aina, Aldi malah meminta nomer ponsel Aina, dengan senang hati Aina memberikannya pada Aldi, hal ini malah membuat Hisyam semakin gemas dengan calon istrinya. Aina puas melihat wajah  Mas Hisyam yang memerah, salah sendiri hanya diakui sebagai sepupu. Rasakan pembalasan Aina.😁

__ADS_1


☘️ bersambung ☘️


(Typo bertebaran, emak ngantuk bgt, dede bayik tumben seharian ini nggak mau bobo, kayanya minta nge Mall deh, jenuh kayanya dia di rumah terus🤭🤭🤭)


__ADS_2