
"Kenapa sih kok malah lihatin Mas gitu?" tanya Hisyam yang ternyata memperhatikan gelagat Aina.
Aina mesem manis, "Mas, kalau dilihat dari dekat kok ganteng yah?" Dengan polosnya Aina berkata demikian hingga membuat Hisyam tertawa.
"Dasar ketumbar, baru tau yah kalau aku ganteng?" Hisyam semakin tergelak. Aina lalu mencubit lengan suaminya hingga Hisyam mengaduh..
"Hih, baru dipuji sekali, sombong nya udah sekebon." Aina mengerucutkan bibir.
"Kalau belajar fokus dong ih, jangan malah lihatin jenggot Mas, di kampus juga gitu ya jangan-jangan, awas kalau sama dosennya juga begitu,"ucap Hisyam sedikit mengancam Aina.
Aina malah senyum-senyum, "Mas cemburu yah?" Hisyam menyentil kening Aina, "Kuliah kamu sekarang Mas yang bayarin, jadi jangan kebanyakan main-main."
"Tapi uang jajannya tambahin ya Mas?" Hisyam mengangguk, Aina bahagia sekali sampai tidak sadar ia mencium pipi Hisyam dengan semangatnya sambil tertawa karena senang akan diberi uang jajan lebih. Seketika Hisyam seperti Dejavu, mengingat kembali gaya sun pipi ini mirip dengan gadis kecil dulu di Jabal Rahmah.
Hisyam mengelus pipinya, sementara yang mencium terlihat biasa saja malah meminta dilanjutkan lagi untuk menjelaskan soal yang belum dipahami.
Hisyam mengajari istrinya dengan telaten, sampai ia lupa dirinya juga masih banyak pekerjaan yang belum selesai.
"Alhamdulillah selesai, ih Abi tuh kalau pilihin suami buat Aina emang nggak kaleng-kaleng, pinter cuy." Aina terkekeh lalu mencium tangan Hisyam sambil mengucapkan terimakasih. Aina senang, sekarang ibarat kata sudah memiliki dosen privat.
Aina lalu merapikan leptopnya, "Mas mau kopi apa teh manis? nanti aku buatkan."
"Boleh, kopi ya Na? sama cemilan yang tadi beli di supermarket." Aina mengacungkan jempolnya. Ia lalu bergegas ke dapur, membuatkan kopi untuk suaminya. Ternyata menikah dengan Mas Hisyam tidak seseram yang Aina bayangkan, Mas Hisyam pintar juga baik, dan royal juga, itu poin pentingnya. Eh kok jadi muji-muji Mas Hisyam sih.
Selesai membuatkan kopi, Aina segera ke kamar lagi, lalu menyuguhkan cemilan dan kopinya untuk Mas Hisyam. Pekerjaan Mas Hisyam sepertinya sangat banyak hingga sampai malam hari Mas Hisyam masih berkutat dengan leptopnya. Sesekali berhenti untuk mengerjakan salat dan mengaji, setelah itu melanjutkan lagi pekerjaannya.
Aina semakin kagum dengan Mas Hisyam, selain pekerja keras, Mas Hisyam juga tidak lupa akan kewajibannya dan selalu menyempatkan membaca Alquran, pantas saja wajahnya teduh, pohon beringin aja kalah teduhnya sama wajah Mas Hisyam.😆
Aina juga menyiapkan makan malam untuk suaminya di kamar. Mas Hisyam juga merasa senang karena Aina begitu peduli dan perhatian. Tidak sia-sia umi nya menjodohkannya dengan biji ketumbar. Walaupun masih muda, tapi tidak manja dan tidak menyusahkan, bahkan Aina tergolong mandiri.
__ADS_1
Aina masih belum bisa tidur, padahal besok ada kuliah pagi jam 8, matanya belum bisa terpejam, ia malah asyik menonton drama korea.
Mas Hisyam melirik Aina yang tengah fokus menonton, "Tidur Na, Besok katanya ada kelas pagi, besok kesiangan lhoo." Aina melirik Mas Hisyam sekilas. "Nggak bakal, badan Aina itu udah kesetting sama Alrm, kalau subuh ya udah otomatis bangun Mas."
Hisyam menyesap sisa-sisa kopinya,"Kamu biasa gini?"
Aina menggeleng, "Nungguin Mas Hisyam?"
Mas Hisyam terkekeh, "Jangan-jangan kamu nunggu Mas kelonin yah?"
Aina mengerutkan dahinya, "Dih, nggak gitu Mas, justru aku takut kalau aku tidur duluan nanti Mas malah gerayangin aku lagi."
Mas Hisyam tergelak, tapi dirinya senang kok ada yang menemani, sebelumnya mana ada. Bekerja sendiri, sunyi sepi, sekarang lumayan rame, walaupun lawan berdebatnya hanya satu, tapi gadis mungil yang sedang menonton drakor itu sungguh meramaikan suasana.
Aina melanjutkan menonton drakor, walaupun mulutnya tidak berhenti menguap. Mas Hisyam yang melihatnya langsung menutup leptopnya lalu merapikan meja kerjanya, setelah itu menghampiri Aina.
"Kamu mau di atas apa di bawah?" tanya Mas Hisyam. Aina langsung melotot, ia menyilangkan dadanya dengan kedua tangannya.
Hisyam lalu menarik kasur besar yang ada di kolong ranjangnya. "Ini maksudnya, kamu mau tidur di bawah sini apa di atas ranjang, sama-sama empuknya kok, merk kasurnya juga sama, jangan mikir macem-macem atau jangan-jangan kamu ...."
"Stop Mas, hih malah jadi suudzon sama Aina, Aina di atas ya Mas, besok di bawah,"ucap Aina sambil tersenyum.
"Oke." Aina lalu memberikan bantal, selimut serta gulingnya pada Mas Hisyam. Lampu kamar dimatikan. Aina dan Hisyam terlelap dalam sekejap karena kelelahan.
***
Pagi harinya benar saja, Aina sudah terbangun terlebih dahulu, ia langsung ke kamar mandi, lalu di susul Hisyam karena mendengar gemercik air dari kamar mandi. Hisyam duduk di atas ranjang sambil menunggu Aina keluar dari kamar mandi.
Selesai mandi pagi, Aina keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk kimono sebatas lutut, rambutnya basah tergerai. Aina sesekali mengusap rambutnya dengan handuk kecil.
__ADS_1
Hisyam yang melihatnya langsung meneguk salivanya. Ia mengusap wajahnya dengan kasar lalu meremas rambutnya. Hisyam merasa dia juga laki-laki dewasa yang selama 30 tahun ini belum pernah menjamah perempuan. Dan melihat pemandangan di pagi hari yang begitu segar nan indah, membuat sesuatu yang ada di bawah sana semakin menggeliat.
"Eh Mas sudah bangun?" tanya Aina.
Hisyam mengangguk, "Bangun dua-duanya Na," ceplosnya.
"Hah?"
"Ah, emmm, iya kita berdua sudah bangun." Hisyam langsung berlari kecil menuju kamar mandi. Ia ingin curhat dengan cermin di kamar mandi, kenapa pagi ini istrinya begitu menggoda.
Aina mengeringkan rambutnya dengan hairdryer. Setelah bersih-bersih, Hisyam lalu melaksanakan salat subuh dengan Aina.
Selesai salat, Aina membuka mukenahnya. Dan Hisyam kembali disuguhkan dengan pemandangan yang indah lagi. Aina hanya memakai kaos lengan pendek warna pink, dan celana sebatas lutut.
"Na, kok pakai baju begitu, kamu nggak ada gamis lagi apa?" tanya Hisyam. Aina jika keluar dengannya begitu rapi dengan balutan rok, kaos kaki dan baju panjang.
"Aina kalau di rumah begini Mas, lagian kita udah menikah, jadi nggak dosa kan Aina pake baju begini, kecuali kalau ada tamu, baru Aina ganti baju" jawab Aina sambil tersenyum. Yang meresahkan malah tersenyum.
Hisyam bingung mau menjawab apa, yang ia tahu justru dianjurkan jika berdua dengan suami harus memakai baju-baju sexy.
"Ya udah, Aina mau ke dapur dulu ya Mas, mau masak." Hisyam mengangguk. Aina menuju dapur.
Hisyam yang jenuh hanya di kamar akhirnya keluar kamar juga, tadinya ia ingin menyiram tanaman di depan. Tapi setelah melewati dapur, Ia melihat istrinya sedang memasak, dengan rambut yang di Cepol ke atas hingga menampilkan leher jenjangnya yang sedikit berkeringat karena panasnya api kompor yang masih menyala.
Hisyam meneguk salivanya, "Kenapa sih, liat beginian doang kepengenan ih, padahal di kantor banyak yang terbuka-buka. Kayaknya mulai nggak waras nih," Gumam Hisyam lirih sambil mengetuk-ngetuk kepalanya.
☘️☘️☘️ Bersambung☘️☘️☘️
(Hayo, ketahuan lagi senyum-senyum nih, bayangin apa hayo? sapu sapu dulu itu pikirannya🤣 )
__ADS_1
Jangan lupa like komen dan Vote