
"Na, tunggu Mas di sini mau? sampai sore, Mas lagi banyak kerjaan soalnya," ucap Hisyam. Aina mengangguk. Sesekali tidak apa-apa menemani suami bekerja.
"Nggak apa-apa Mas, Aina juga mau sambil ngerjain tugas, lumayan di sini tempatnya adem kok." Aina membuka tasnya lalu mengeluarkan leptopnya.
Adrian masuk ke dalam ruangan Hisyam, matanya langsung tertuju pada gadis mungil nan cantik sedang mengetik di sofa.
"Waduh, ganggu pengantin baru nih," Celetuk Adrian. Hisyam langsung melirik tajam Adrian yang tengah memperhatikan Aina.
"Ehm, ada tugas di luar nih,"ucap Hisyam. Adrian langsung mengalihkan pandangannya, lalu menghampiri Hisyam.
"Mau berduaan yah, aku sampai di usir halus," bisik Adrian. Hisyam melotot, "Sembarangan ih." Eh Adrian malah tergelak. Bapak yang satu ini memang sangat suka meledek Hisyam.
"Oke, oke, aku siap-siap dulu,"ucap Adrian. Sedari tadi Aina memperhatikan interaksi antara Hisyam dan Adrian. Adrian berjalan melewati Aina sambil tersenyum.
Aina menundukan kepalanya, Adrian sangat asing bagi Aina sehingga Aina sangat malu mendapat senyuman dari Adrian. Adrian bersiap-siap untuk meninjau proyek di luar. Setelah bersiap-siap, ia menghampiri Hisyam lagi, berdiskusi sebentar lalu keluar dari ruangan Hisyam.
Hisyam kembali bekerja, Aina juga kembali mengerjakan tugas. Sudah satu jam berlalu, mata Aina mulai berat, apalagi ruangan Hisyam dingin dan bau nya sangat menenangkan. Aina tiba-tiba saja tertidur sambil duduk beralaskan karpet. Tangannya ia tompang di meja sebagai bantalan kepalanya.
Sepuluh menit berlalu, Hisyam yang menawarkan beberapa minuman dan jajanan pada Aina tidak mendapat sahutan dari Aina, Hisyam baru sadar jika Aina sudah tertidur dalam keadaan duduk.
Hisyam lalu memindahkan membopong Aina dan menidurkannya di atas sofa. Aina tidak bergeming. Beginilah Aina, jika sudah sangat mengantuk, ia tidak akan merasakan apapun, bahkan saat digendong.
Hisyam menatap wajah ayu Aina. Hisyam mengagumi setiap inci yang ada di wajah Aina. Apalagi pipi Aina yang gembul dan menggemaskan, jika wanita lain berlomba untuk meniruskan pipi, Aina justru percaya diri dengan pipi chubby nya.
Entah mendapat dorongan dari mana, Hisyam tiba-tiba mendaratkan bibirnya di pipi Aina.
"Gantian ya Na, semalam juga kamu mencium pipi Mas, jadi impas yah,"gumam Hisyam lirih. Baru mencium pipi Aina saja bibir Hisyam sudah gemeteran. Ini pertama kalinya Hisyam mencium wanita selain Uminya.
Hisyam kembali ke meja kerjanya, jika terus-terusan menatap Aina, ia khawatir malaikat akan mencatat ibadah lain dalam buku catatannya. 🤭
***
Sore harinya saat Hisyam dan Aina akan pulang ke rumah ternyata cuaca sedang hujan, tapi Hisyam dan Aina nekat pulang karena sudah lelah. Mereka juga menggunakan mobil, jadi cukup aman dari hujan.
Sesampainya di rumah, Aina langsung ke dapur, ia memasak air untuk mandi suaminya. Aina juga akan mandi air hangat karena cuaca cukup dingin.
Hisyam menuju kamar lalu meletakan tas kerjanya di atas meja kerjanya. Saat Hisyam akan masuk ke dalam kamar mandi, Aina mencegahnya.
__ADS_1
"Mas, mandi pakai air hangat yah? aku udah masakin di kompor, dingin, nanti Mas masuk angin," ucap Aina. Hisyam mengangguk menuruti perkataan istrinya. Aina lalu keluar dari kamar menuju dapur lagi, menunggu air sampai mendidih.
Hisyam meremas rambutnya, "Aina, kenapa kamu sebaik itu, aku tidak bisa menahan perasaan ini jika kamu sangat baik seperti ini,"gumam Hisyam begitu lirih.
Aina datang membawa panci yang berisi air panas menuju kamar mandi di dalam kamarnya. Hisyam yang melihat hanya melongo. Aina sebegitu telaten itu. Menurut Hisyam hanya lelaki bodoh yang rela melepaskan Aina. Entahlah apakah Hisyam yang akan menjadi lelaki bodoh itu nantinya.
"Sudah Mas, cepetan mandi, gantian sama aku." Hisyam mengangguk lalu mengucapkan terimakasih, Aina menjawabnya dengan senyuman manisnya. Hisyam bergegas masuk ke kamar mandi, ia segera mandi dengan cepat karena pasti Aina juga sudah kedinginan.
Selesai Hisyam mandi, kini giliran Aina mandi. Hisyam berganti baju setelah itu menuju ruang televisi, menonton televisi di sana. Aina juga tidak mandi berlama-lama. Selesai mandi dan berganti baju, Aina menuju dapur lagi.
Hisyam yang melihatnya langsung menegurnya.
"Na, mau ngapain lagi?" tanya Hisyam.
"Mau bikin mie rebus, kayanya enak Mas, Mas mau?"
"Boleh."
Aina lalu mengambil sayur sawi dan memotongnya, beberapa cabai, satu siung daun bawang dan tentunya telur ayam sebagai pelengkap.
Aina menghidangkannya di meja di depan TV.
Hisyam mengernyitkan dahinya, "Kok cuma satu Na, tadi kan Mas bilang, Mas mau."
"Ya ini untuk kita berdua Mas, masa aku makan sebanyak ini sendiri sih, sini Mas nya duduk di bawah." Aina menarik tangan Mas Hisyam agar duduk di bawah bersamanya. Aina lalu memberikan garpu dan sendok pada Mas Hisyam.
"Na, ini cabe utuh?" Hisyam menyendok cabenya lalu memperlihatkan pada Aina.
Aina mengangguk, "Aina suka Mas. Udah yuk makan."
Aina dan Hisyam makan mie dengan saling bergurau, Hisyam cukup menyukai mie instan buatan Aina.
"Enak Mas?"tanya Aina. Hisyam langsung mengangguk.
Hisyam dan Aina menyendok mie secara bersamaan. Satu helai mie yang mereka makan berada di mulut Aina dan juga mulut Hisyam. Aina dan Hisyam tertegun ketika tahu ujung mie yang mereka makan ada di mulut keduanya.
Mereka saling tatap cukup lama, Hisyam memberanikan diri menarik Mie dalam mulutnya hingga jarak bibir mereka semakin dekat. Wajah Aina mulai memerah. Hawa dingin hujan mendadak menjadi panas karena adegan yang tidak disengaja ini.
__ADS_1
Aina buru-buru memutuskan mie yang ada di mulutnya menggunakan giginya. Tapi Hisyam tiba-tiba malah menempelkan bibirnya ke bibir Aina. Aina membelalakan matanya. Aina langsung mengambil air putih yang ada di depannya. Hisyam malah tersenyum tanpa dosa. Ya memang tidak berdosa kan. Justru malah berpahala.
Aina mengelap bibirnya dengan lengan bajunya, "Mas Hisyam nyuri ciuman pertamaku ih, nakal banget sih." Aina mengerucutkan bibirnya.
"Maaf Na, Mas kira itu mie." Hisyam terkekeh. Ia lupa dengan perjanjian awal yang tidak akan menyentuh Aina. Tapi baru beberapa hari sudah berani nempel-nempel bibir. Apa kabar jika sudah sebulan dua bulan.
"Masa bibir Aina kaya mie sih, Mas modus ih." Aina mencubit lengan suaminya.
"Ini juga ciuman pertama Mas, jadi kita impas, nggak ada yang saling dirugikan."
Aina menatap suaminya, " Serius Mas? Mas juga baru yang pertama?" Hisyam menjawab dengan anggukan.
"Lagian juga tadi cuma nempel doang, kalau ciuman beneran itu nggak gitu Na?" Hisyam sangat pintar beralibi.
"Ah menurutku kalau sudah nempel ya sama aja ciuman Mas, bohongan beneran sama aja, judulnya bibirnya nyentuh,"ucap Aina ingin beradu argumen.
"Tapi menurut Mas sih nggak gitu, konsep ciuman itu nggak cuma nempel." Hisyam tidak mau kalah dengan biji ketumbar.
"Astagfirullah, ciuman aja segala pakai konsep, udah kaya belajar matematika aja. Oke oke, terus menurut Mas konsep ciuman yang benar itu seperti apa?" Aina jadi penasaran dengan pemikiran suaminya tentang kissing.
"Mau tau?" tanya Hisyam. Aina mengangguk.
"Itu tuh harus praktek, nggak bisa dijabarkan dengan kata-kata." Seorang Hisyam Alrasyid mulai modus.😆😆😆
☘️ Bersambung ☘️
.
.
.
.
.
(Part ini rasanya otor gleser gleser gimana gitu🤣 kamu gitu jg nggak)
__ADS_1