Cinta Pertama Di Jabal Rahmah

Cinta Pertama Di Jabal Rahmah
SAH


__ADS_3

"Saya terima nikahnya Alaina Abdullah Binti Abdullah Manaf dengan mas kawin seperangkat perhiasan dibayar tunai," ucap Hisyam Alrasyid dengan lantangnya. Magrib ini akhirnya waktu yang dinanti keluarga Hisyam dan Aina terwujud.


"Para saksi, Sah?" tanya Penghulu. Saksi serempak menjawab "Sah."


"Alhamdulillahirabbilalamin." Alaina lalu diapit oleh ketiga sahabatnya yang begitu ceriwis menuju tempat akad karena mulai detik ini Alaina sudah sah menjadi istri Mas Hisyam.


"Na, laki mu Na, ganteng bingit," ucap Ayu sambil mesam mesem. 


"Iya ih, aku juga mau kalau dijodohin sama model-model paripurna gini mah, nggak nolak, nggak kebayang nanti cetakan kalian seperti apa." Sheila malah terlihat histeris.


Aina berdecak kesal, "Nggak ada cetak mencetak."


Febri mencolek pinggang Aina, "Hemm, sekarang aja bilang gitu, nanti pas sampai kamar aja kalian salto bareng." Aina mengendikan bahunya, nggak ada cetak mencetak apalagi salto.


Setelah sampai di tempat ijab kabul, Aina langsung duduk di samping Hisyam. Aina berdecak dalam hati, ganteng banget, kaya pangeran arab, tapi sayangnya belum bisa bikin hati Aina jedag jedug.


Aina lalu mencium punggung tangan suaminya, setelah itu Hisyam mengecup dahi Aina sambil mendoakan istrinya. Bagi orang yang melihat pasti adegan mereka begitu sweet, tapi tidak dengan Aina dan Hisyam. Mereka melakukannya karena sedang di hadapan banyak orang saja.


"Kamu cantik Na,"ucap Hisyam sambil tersenyum pada Aina. Aina melongo, seperti tidak percaya jika Hisyam, si tengil ini memujinya. 


"Kamu juga ganteng Mas." Aina mesem manis, ih manis banget pokoknya. 


Setelah itu acara dilanjutkan dengan doa bersama dan tanda tangan buku KUA. Aina menatap fotonya dan foto Hisyam bersanding di buku nikah. Rasanya seperti mimpi, mimpi di siang bolong. Takdir memang terkadang suka bikin prank begini. Cintanya sama siapa, eh nikahnya sama siapa.


Selasai akad, semua keluarga besar makan 


bersama. Pernikahan mereka hanya dihadiri keluarga besar saja di hotel milik orangtua Hisyam.


Aina bergabung dengan sahabatnya, Hisyam juga bergabung dengan teman dekatnya. Ayu, Febri dan Sheila berselfi bersama Aina. Aina berpesan agar foto ini tidak disebar luaskan.


Saat sedang selfi menggunakan ponsel Aina, tiba-tiba notifikasi pesan masuk dari Rasyid muncul. Rasyid memberikan ucapan selamat pada Aina. Seketika itu juga mood Aina hancur lebur. Aina terdiam, semenit kemudian, matanya berkaca-kaca.


"Sabar Na, aku yakin lama-lama juga kamu cinta sama Mas Hisyam. Kita nggak pernah tau masa depan,"ucap Sheila mengelus lengan Aina. Diantara kami berempat yang paling dewasa memang Sheila, dia itu sahabat yang bisa menenangkan sahabat lainnya jika sedang galau.


"Mustahil rasanya, semoga saja Mas Hisyam nggak hilaf yah, aku pengen seluruh jiwa ragaku untuk Kak Rasyid nanti,"ucap Aina, eh Ayu langsung menonyor pelan kepala Aina.

__ADS_1


"Baru aja 15 menit yang lalu ijab kabul, ini otak masih traveling mulu ih ke Kak Rasyid, kamu harus coba jalani Na, meskipun pernikahan kalian ini tidak diharapkan, tapi setidaknya selama masih jadi istri Mas Hisyam kamu manfaatkan waktunya Na." Ayu yang biasanya paling absurd, kini memberi wejangan yang begitu meneduhkan. Kenapa nih Aina nikah, sahabatnya jadi pada penasehat dadakan.


"Iya iya ih, makasih ya, kalian semua terus dukung aku yah, ingetin kalau aku salah, apalagi salah jalan." Mereka bertiga lalu berpelukan.


"Ehm ..." Mas Hisyam tiba-tiba berdehem di belakang Aina. Aina langsung menengoknya. 


"Kenapa Mas?" 


"Kamu cape nggak Na?" Aina mengerutkan dahinya. Nggak ada pertanyaan lain apa.


"Belum sih Mas, masih pengen bareng mereka." Aina menunjuk ketiga sahabatnya.


"Tapi Mas cape, boleh minta tolong pijitin nggak?" 


Astagfirullah, ini lakik, ngomong begitu depan sahabat-sahabat Aina. Kenapa juga sih segala minta pijit, bukannya sudah sepakat ya tidak akan saling sentuh biar selalu ting-ting.


Aina meneguk salivanya. Sheila, Ayu dan Febri malah meledeknya, mencolek-colek tubuh Aina agar ikut bersama  Hisyam menuju kamar. Eh si Om tengil ini malah memanfaatkan situasi, Hisyam menarik pergelangan tangan Aina, lalu mengajaknya ke kamar.


Di dalam Lift Aina tampak cemberut, "Ih Mas, kenapa sih nggak tidur duluan aja?" 


"Mas cape, Mas mau istirahat, kalau Mas nggak ajak kamu, nanti orangtua kita curiga." Aina menepuk dahinya. Ribet banget memang jadinya.


Bunga mawar bertebaran di kasur membentuk Love, ada dua angsa yang dibentuk dari handuk. Ada lilin-lilin aroma terapi yang baunya begitu menyegarkan. Ah kenapa harus dengan Si Om tengil di kamar yang seromantis ini. Hati Aina seolah berontak.


Aina duduk di depan meja rias, kamar hotelnya begitu komplit dan besar, ada kolam renang mini juga di balkon. Aina melepaskan semua jarum pentul yang terpasang di jilbabnya. Setelah itu ia menelfon Amih, menanyakan dimana tas ransel yang Aina siapkan untuk menginap di hotel. Amih memberitahu jika tas ransel Aina sudah ada di lemari kamar hotelnya.


Aina segera membuka lemari yang ada di sebelah meja riasnya. Dan benar saja di sana ada ranselnya dan satu lagi ada koper mungkin milik Mas Hisyam.


Aina mengambil baju tidur bergambar Teddy bear, seperti daster yang hanya sebatas lutut. Aina lalu bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Sementara Hisyam, sepertinya ia benar-benar lelah, ia sudah terlelap di atas kasur dengan kaki menjuntai ke bawah.


Selesai mandi Aina lalu membangunkan suaminya karena belum salat Isya.


"Mas bangun, kamu belum salat Isya lhoo." Hisyam membuka matanya perlahan, ia terkejut melihat di depannya ada wanita cantik dengan rambut basah yang tergerai, menggunakan daster sebatas lutut.


"Ya ampun Na, kenapa pakai baju begitu." Apa iya Hisyam bisa tahan tidak menyentuh Aina kalau penampilan Aina saja seperti itu.

__ADS_1


"Apaan sih Mas, Aina kalau tidur memang begini, nyaman begini, lagian juga kita kan udah nikah, jadi Aina nggak perlu tutup aurat kan kalau di depan Mas." Mata Hisyam tertuju pada dada Aina, di sana ada sesuatu seperti biji kacang kapri, tidak tertutupi dengan semestinya.


"Aina, itu kenapa?" Aih, Hisyam bingung mau bertanya bagaimana.


"Sudah cepetan sana wudlu terus salat Isya." 


Aina lalu menggunakan mukenahnya karena dirinya juga akan melaksanakan salat isya.


"Kamu mau salat Isya kan, tunggu Mas, kita berjamaah." Haduh kok tiba-tiba Aina deg-degan, biasanya yang jadi imam kan Abi. 


Mas Hisyam keluar dari kamar mandi dengan kemeja putih yang ia gulung. Rambutnya terlihat setengah basah. Kenapa sih Mas Hisyam habis wudlu malah tambah bersinar kegantengannya. Kan Aina nggak yakin kalau bakal nggak jatuh cinta dikemudian hari.


Mereka berdua melaksanakan salat Isya berjamaah. Selesai salat mereka berdzikir dilanjut dengan berdoa. Setelah itu Mas Hisyam mengambil Al-Qur'an kecil yang ada di koper. Mas Hisyam mulai melafazkan ayat-ayat suci Alquran. Aina mendengarkan di sebelah Mas Hisyam.


Alaina menatap Mas Hisyam sesaat, "Kenapa kita tidak ditakdirkan untuk saling mencintai dulu baru setelah itu menikah,"ucap Aina dalam hati.


"Sodakallahuladzim." Hisyam lalu melirik Aina, ia meniup ubun-ubun Aina, Hisyam berharap agar istrinya dijaga oleh Allah. Walaupun belum ada perasaan diantara mereka, tapi mereka sudah sepakat akan menjalaninya dengan baik-baik.


Ya Ampun ya Ampun, Aina melongo, melongo mendapat perlakuan manis dari Mas Hisyam. Awas jangan sampai ngeces Na.🤭


☘️Bersambung☘️


Intermezzoo:


Author : Tuh Pah, Hisyam romantis banget doain Aina


Paijo : Aku juga doain kamu Bun setiap hari


Author : Emang? kok nggak kedengeran🤣🤣


Paijo : Ya masa berdoa sambil teriak-teriak


Author: Eh iya, sun dong


Paijo : 😘😘😘😘

__ADS_1


(Readers melongo) : Ora SoPAn otor


Author : 🤣🤣🤣🤣


__ADS_2