
Hisyam akhirnya mengecek semua isi dompet Aina. Hisyam begitu tercengang ketika menemukan dua foto di dompet Aina, satu foto gadis kecil berseragam SD dan satu lagi gadis kecil memakai mukenah sedang berdiri di depan ka'bah.
Seketika otak Hisyam kembali ke masa kecilnya saat dirinya sedang umrah.
Flashback On.
"Adam dan Hawa bertemu di sini, aku dan Mamas juga bertemu di sini, nanti kalau besar Mamas jadi menikaan sama aku, kaya itu lhoo yang di film pengeran sama princes."
Hisyam mengerutkan dahinya, "Apa itu menikaan?"
"Itu lhoo menikaan, yang kaya di film berbie, pakai gaun princes bagus sekali, terus mereka berdansa." Aina berusaha menjelaskan pada kakak di depannya namun dia tetap tidak mengerti.
"Aku kebawah dulu yah." Hisyam mengelus kepala Aina. Aina langsung mencium pipi kakak itu yang bernama Hisyam seperti Aina mencium pipi ketiga kakak-kakak nya.
"Hati-hati Mamas, besok gede kita ketemu lagi yah."
Flashback Off
"Aina." Tangan Hisyam mulai gemetaran saat memegang dompet Aina. Kakinya juga ikut gemetar, Hisyam berjongkok, tubuhnya lemas mengetahui kenyataan bahwa selama ini orang yang ia cari adalah istrinya sendiri.
Takdir memang selalu punya cara yang tak terduga agar selalu tampak mengejutkan.
Apakah ini permainan takdir? Tentu bukan. Takdir tak pernah mempermainkan kita. Jika ia menuntun kita pada kekecewaan yang mendalam, justru sebenarnya ia sedang mengajari kita bagaimana bisa bangkit walau dalam keadaan kecewa.
Hisyam berusaha menyemangati dirinya sendiri bahwa cobaan ini pasti akan mereda. Ujian ini pasti menemui akhirnya. Tugasnya adalah bersabar, tetap menjaga hati untuk percaya pada-Nya.
__ADS_1
Hisyam berdiri kembali, ia merapihkan ponsel dan dompet Aina, memasukannya ke dalam tas. Hisyam lalu mengirim pesan pada Adrian untuk kembali melanjutkan penyelidikan pada kasus korupsi di kantornya. Hisyam juga memberi kabar jika mertuanya meninggal dunia.
Setelah menulis pesan, Hisyam bergegas menghampiri Aina, ia naik ke atas ranjang, mendekati Aina, membelai rambut indahnya, setelah itu Hisyam ikut tertidur sambil memeluk Aina.
***
Adzan Dzuhur berkumandang, Aina terbangun dari tidurnya, ia mengejapkan matanya, Aina melihat tangan besar tengah melingkar diperutnya yang rata. Aina tahu itu adalah tangan mas Hisyam yang tengah memeluknya sambil tertidur, dan sepertinya mas Hisyam juga masih terlelap tidur.
Aina merenung sejenak, jatuh cinta dan sakit hati mungkin menjadi satu kesatuan yang sulit untuk dipisahkan. Ketika kita menyukai seseorang, maka kita juga harus siap jika nantinya akan merasa sakit hati saat si dia melakukan sesuatu yang kita tidak suka. Entahlah, Aina masih belum bisa melupakan kejadian semalam, rasanya sulit.
Aina mencoba menyingkirkan tangan mas Hisyam karena ia ingin bangun dan melaksanakan salat Dzuhur. Saat tangan mas Hisyam ingin dipindahkan, tiba-tiba tangan mas Hisyam malah semakin mengeratkan pelukannya di perut Aina.
Mas Hisyam ikut terbangun karena merasakan tangannya ada yang memegang. Saat membuka mata ternyata Aina ingin memindahkan tangannya.
Mas Hisyam lalu menyusupkan kepalanya di ceruk leher Aina. Mengendus-endus di sana, merasakan sensasi yang sudah beberapa hari ini ia rindukan.
"Mas." Hisyam begitu senang ketika Aina sudah membuka suara.
"Iya sayang."
"Bukankah Mas ingin memulangkan aku ke Abi dan Amih, mungkin ini adalah waktu yang tepat Mas, aku kekanak-kanakan kan Mas, kamu pantasnya mendapatkan yang dewasa tidak seperti aku Mas," ucap Aina. Hatinya begitu perih mengatakan hal demikian.
Mas Hisyam langsung bangun, terduduk di ranjang, begitu juga Aina, ia juga ikut bangun, ia ingin membicarakan masalah perkawinannya dengan mas Hisyam secara baik-baik.
Mas Hisyam malah kembali memeluk perut Aina, kepala ia sandarkan di paha Aina.
__ADS_1
Mas Hisyam menggeleng, "Sampai kapanpun Mas nggak akan pernah pulangin kamu Na, kamu cintanya Mas." Mas Hisyam menangis sesenggukan. Aina dibuat bingung dengan tingkah suaminya yang menangis sesenggukan. Ada rasa tidak tega, saat ingin membelai rambut mas Hisyam, Aina kembali teringat kejadian semalam, bagi Aina rasanya mas Hisyam memang sepantasnya menangis.
"Mas, dulu kita menikah karena Abi kan, sekarang Abi sudah nggak ada, sudah tidak ada rasa yang memberatkan kita lagi Mas, ini kesempatan buat kamu, apalagi sekarang kamu sudah menemukan wanita yang selama ini kamu cari." Aina berusaha kuat untuk mengatakannya walaupun rasanya hati bagaikan tercabik-cabik.
"TIDAK, Mas menikahi kamu karena Allah, Mas ijab kabul disaksikan Allah dan Malaikat-Nya, Mas tidak main-main Aina, walaupun awalnya Mas belum cinta, tapi Mas tidak main-main dengan pernikahan ini, maafkan Mas sayang, Mas sedang kalut, Mas ...." Mas Hisyam terdiam, sepertinya sudah tidak sanggup melanjutkan kata-katanya karena dadanya terlalu sesak untuk mengungkapkan masalah demi masalah yang datang silih berganti.
Mas Hisyam kembali menangis sesenggukan, Aina kali ini sudah tidak kuat lagi melihat laki-laki yang ia cintai menangis seperti itu. Aina akhirnya membelai kepala suaminya.
"Maafin Mas Na, Mas kalut, perusahaan sedang tidak baik-baik saja, ada orang jahat yang menggelapkan uang perusahaan 100 Milyar, Mas harus bertanggungjawab, Mas tidak memberitahu kamu karena Mas tidak ingin kamu ikut memikirkannya." Hisyam akhirnya berani bicara kerena belaian tangan Aina benar-benar memberikannya kekuatan.
Aina terkejut mendengar nominal 100 Milyar yang mas Hisyam lontarkan.
"Mas sedang menyelidiki Anggita, seperti apa yang kamu inginkan Na."
"Aku tidak sebenci itu dengan Anggita Mas, Aku tidak sejahat itu asal main tuduh orang, kalau Mas anggap aku seperti itu berarti Mas selama ini belum mengenalku sepenuhnya."
Aina sebal dengan perkataan suaminya, entahlah kenapa akhir-akhir ini dirinya begitu sensitif, perasaannya seperti tidak bisa disenggol sedikitpun.
Mas Hisyam mengangguk, "Iya maaf."
"Mas awas, aku mau salat." Aina berusaha menggeser tubuh mas Hisyam.
"Na, kamu sudah maafin Mas?"
"Belum." Aina masih belum luluh juga, Aina ingin melihat seberapa gigihnya mas Hisyam untuk memperjuangkan mendapatkan keikhlasan Aina untuk memaafkan agar Mas Hisyam tidak mudah untuk menyakiti lagi.
__ADS_1
Mas Hisyam akhirnya melepaskan pelukannya juga, Aina lalu bergegas menuju kamar mandi. Hisyam mengusap wajahnya dengan kasar. Ia lalu mengirim pesan pada Adrian, Hisyam ingin tahu caranya agar istrinya mau memaafkannya.
☘️ Bersambung ☘️