Cinta Pertama Di Jabal Rahmah

Cinta Pertama Di Jabal Rahmah
Pertemuan


__ADS_3

Pagi ini Amih sudah rempong dengan beberapa gamis yang ada di tangannya. Amih memilihkan gamis untuk Aina, karena siang nanti akan diadakan pertemuan antara Aina dan Hisyam. Kata Abi laki-laki itu bernama Hisyam Alrasyid. Duh Aina tambah galau, kenapa harus ada nama Rasyid di belakang namanya. Jadi gagal move on nanti.


"Yang Pink apa Biru Na?" Tanya Amih sambil melebarkan gamis yang ia pegang.


"Aina pakai rok sama kaos aja sih Mih kaya biasa, kenapa mesti rempong banget sih Amih ih,"jawab Aina sekenanya. Amih malah menabok pantat Aina.


"Siang ini mau ketemu calon suami kamu, bukan


mau ke kampus," ucap Amih sambil mendelik ke arah Aina.


"Ya justru karena ketemu calon suami, biar dia tuh nggak kaget nanti liat Aina modelan begini Mih, di rumah kaos oblong sama kolor, ke kampus cuma pake rok sama kaos panjang. Lagian juga dijodohin kan? Mau gimana pun nanti tetep Aina bakal kawin kan sama dia, Amih nggak usah rempong ih." Eh si Aina malah merajuk masuk kamar. Amih menghembuskan nafasnya dengan kasar. Aina memang sedikit susah diatur. Tapi Amih percaya, Aina akan menjadi istri yang baik nantinya.


Amih menyusul Aina ke kamarnya, kebetulan kamarnya tidak terkunci, Amih mendengar suara gemercik air dari kamar mandi di kamar Aina, Amih meletakan gamis warna biru dan juga jilbab warna biru di atas kasur Aina. Amih lalu keluar dari kamar Aina, Amih berharap Aina memakainya.


Semua anggota keluarga sudah bersiap-siap dan berpakaian rapi. Mereka tinggal menunggu Aina keluar kamar. Mas Ardan akhirnya menyusul Aina ke kamar. Sesampainya di kamar Aina, Mas Ardan melihat Aina yang sudah berpakaian rapi tengah duduk sambil menatap cermin. Aina melamun, melamunkan masa depannya yang entahlah akan terjadi apa nantinya.


Mas Ardan menghampiri Aina, "Na, kenapa melamun, nanti kesurupan lhoo," ledek Mas Ardan sambil terkekeh.


"Nggak mungkin Mas, selama ini Aina nggak pernah kesurupan, Aina jadi curiga, jangan-jangan Aina setannya," ucap Aina. Mas Ardan menyentil kening Aina hingga si empunya mengaduh.


"Kamu deg-degan yah?" Tanya Mas Ardan lagi. Aina malah mengendikan bahunya.


"Boro-boro deg-degan Mas, Aina nggak ada rasa sama om om yang mau dijodohin sama Aina. Deg degan itu kalau Aina pas papasan sama orang yang Aina suka, tuh baru deg-degan."


Mas Ardan terkekeh, "Heh, Abi tuh nggak jodohin kamu sama om om, sembarangan banget, walaupun kalian berdua terpaut usia 10 tahun, tapi Hisyam tuh nggak kelihatan tua Na, percaya deh sama Mamas."


Aina mencebikan bibirnya, "Tau ah, mau tua mau muda juga Aina nggak tertarik." 


Mas Ardan tersenyum, berlalu keluar dari kamar Aina sambil nyanyi lagu armada. Awas nanti jatuh cinta, cinta kepada dirinya. Kan memang nyebelin Mas Ardan tuh.


Aina akhirnya ikut keluar juga dari kamar, menghampiri keluarganya yang sudah menunggunya di ruang tamu. Amih sangat senang karena Aina menggunakan gamis yang Aina pilih. Tapi sengaja Aina pakai, dari pada Amih ngambek 3 hari 3 malam. Amih kalau ngambek diem, nah itu tuh justru yang paling menyeramkan.


Amih menghampiri Aina, lalu mengelus pipi Aina, "Cantik, adonan Amih sama Abi memang tidak pernah gagal,"ucap Amih jumawa. Aina hanya tersenyum sekilas.

__ADS_1


Entahlah, perasaan Aina benar-benar biasa saja. Aina memang belum bisa move on dari Kak Rasyid, Abi belum memberi waktu kesempatan untuk Aina melupakan Rasyid. Malah kata Abi, melupakan cinta itu ya dengan hadirnya cinta yang baru. Suka-suka Abi deh punya pendapat seperti itu.


Keluarga Abdulah bergegas ke restauran timur tengah yang akan dijadikan tempat pertemuan Aina dengan Hisyam.


...oOo...


Akhirnya sampai juga di restauran timur tengah. Disana ternyata Keluarga Hisyam sudah menunggu. Aina tampaknya mencari-cari dari segerombolan keluarga Hisyam yang terlihat masih muda, namun nyatanya tidak ada. Aina jadi takut, semua mirip bapak-bapak, apa Hisyam adalah salah satunya. Aina mencengkram erat baju Amihnya.


"Assalamualaikum," sapa Abi pada keluarga Hisyam. Keluarga Hisyam serempak menjawab salam dari Abi.


Aina melihat restorannya sangat nyaman. Restoran yang mengusung konsep Arab ini memang sangat nyaman untuk makan bersama keluarga. Terdapat menu andalan seperti Mandi Lahm dan Biryani Lahm yang gurih. Sepertinya keluarga Hisyam sudah memesannya. Aina juga melihat di restoran bergaya Timur Tengah ini juga menyediakan lesehan lengkap dengan bantal-bantal empuk khas Timur Tengah. Keluarga Aina dan Hisyam duduk lesehan.


"Ini putri kecil mu dulu yang begitu cerewet itu?" Tanya salah satu wanita seumuran Amih. Amih mengangguk lalu mengusap kepala Aina.


"Iya, sekarang juga masih cerewet,"ucap Amih. Aku hanya memberi senyuman pada wanita itu.


"Itu Uminya Mas Hisyam," bisik Amih pada Aina. Aina mengangguk. "Di sebelahnya lagi itu Abinya,"sambung Amih. Lagi-lagi Aina hanya mengangguk. Aina memperhatikan Umi dan Abi Hisyam cantik dan tampan dan sepertinya ada keturunan arab karena hidungnya begitu mancung. Aina jadi penasaran, seperti apa anaknya, soalnya bibitnya saja sudah menonjol begitu.


"Aina sudah semester berapa?" Tanya Umi Hisyam. Aina tersenyum, "Semester 4 Umi."


"Panggil saya Umi Khodijah, ini Abi Ahmad."


Aina mengangguk. Ah sepertinya Aina tidak perlu jaim-jaim lagi, mereka juga sepertinya keluarga yang sangat baik.


"Umi cantik banget, hidungnya mancung banget, bagi Aina ngapa Mi," celetuk Aina hingga membuat Umi dan yang lainnya tergelak.


"Kamu juga cantik Na, mungil, nggak berubah, dari kecil tetep cantik mungil." Aina jadi bingung, kok sedari tadi Umi selalu bilang waktu kecil, waktu kecil. Aina lupa, apakah pernah bertemu sebelumnya, apa karena Aina masih kecil jadi tidak ingat. Entahlah.


"Eh itu Hisyam," Ucap Umi Khodijah. Aina langsung menengok ke belakang. Laki-laki berpawakan tinggi besar, dengan hidung mancung, kumis tipis-tipis bagai parutan kelapa, jenggot tipis-tipis, mata belo, alis tebal, kulit bersih, rambut rapi, berkemeja hitam, celana hitam panjang, jam tangan yang terpasang di pergelangan tangannya. Aina melongo, benar kata Mas Ardan, Hisyam ini mirip Opa Turki, eh kok opa sih, mirip bujang turki yang ganteng-ganteng itu.


"MasyaAllah, ganteng banget, tapi Aina nggak deg-degan, jadi biasa aja." Gumam Aina dalam hati. 


Hisyam yang baru saja dari toilet kini bergabung di tengah-tengah keluarga nya juga keluarga Aina. Hisyam juga tampak meneliti satu persatu keluarga Aina. Mungkin penasaran, wanita seperti apa yang akan dijodohkan dengannya. Hingga matanya tertuju pada Aina. Aina sih kalem dong, soalnya nggak deg-degan.

__ADS_1


"Hisyam, ini Aina, calon istri kamu." Hisyam menatap Aina, lalu tersenyum sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada. Haduh kan Aina jadi bingung, yang bentukannya begini, cakep maximal, kelihatannya soleh juga karena nggak mau salaman, terus dari keluarga terpandang, masa mau sih dijodohkan. Padahal modelan Hisyam begini jual mahal juga masih banyak yang antri, apalagi tebar diskon, satu kabupaten daftar jadi istrinya.


Aina juga tersenyum, menghormati dong, udah disenyumi ya harus senyum balik, katanya senyum itu adalah ibadah kan.


Karena makanan sudah terhidang, kedua anggota keluarga makan bersama. Abi benar-benar tidak salah pilih restoran. Menu khas timur tengahnya enak semua. Selesai makan mereka melanjutkan obrolan tentang perjodohan Aina dan Hisyam.


"Umi, apa Hisyam boleh bicara dengan Aina, berdua, di lesehan sana?" Aina terkejut dengan permintaan si Om Turki ini.


Umi mengangguk lalu tersenyum, " Boleh, Umi awasi lhoo dari sini, jangan macam-macam." Hisyam lalu melirik Aina dan memberi isyarat agar berpindah tempat ke lesehan sebelah. 


☘️ Bersambung ☘️


.


.


.


.


Intermezzoo:


(Kira-kira Bule potan Turki ini mau ngomong apa yah sama Aina?)


Visual Hisyam Al-Rasyid



Eh ngomong-ngomong tampang kek Hisyam ada yg versi sachet an nya nggak mak???? emak chekout nnti.


Sachet? Emang sampo🤣


Visual Alaina

__ADS_1



__ADS_2