Cinta Pertama Di Jabal Rahmah

Cinta Pertama Di Jabal Rahmah
Perjanjian Batal


__ADS_3

"Na ..."


"Mas..."


Manik mata mereka saling bertemu.


Hisyam memajukan wajahnya ke wajah Aina, saat ingin ******* bibir Aina, tiba-tiba Adrian masuk tanpa mengetuk pintu. Hisyam dan Aina refleks terperanjat. Aina melepaskan diri dari pelukan suaminya.


Adrian terlihat gugup, "Ehm, haduh, yang manten baru, nggak lihat-lihat tempat, ampun deh, mana nggak dikunci lagi." Adrian berlalu melewati meja kerja Hisyam. Hisyam dan Aina terdiam seperti pasangan ilegal yang tertangkap basah.


Adrian menuju meja kerjanya lalu mengambil beberapa berkas yang tertinggal. Aina dan Hisyam masih terdiam. Selesai mengambil berkas yang tertinggal, Adrian menghampiri Hisyam.


"Maaf ya Bos, ganggu, sok lanjutin, jangan lupa dikunci Bos,"ucap Adrian sambil terkekeh. Ia lalu keluar dari ruangan Hisyam.


Aina menutup wajahnya, "Ah Mas, malu banget sama Mas Adrian." Aina merengek menghentakkan kakinya di  lantai.


"Udah, nggak apa-apa, kan kita bukan pasangan selingkuh," ucap Hisyam. Aina mengambil air minum dan langsung meminumnya sampai habis, ia lalu berjalan menuju sofa, Aina duduk di sana. Aina melirik suaminya, eh ternyata suaminya juga sedang menatapnya. Ah jadi malu lagi kan.


Hisyam beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan ke arah pintu, Hisyam menguncinya. Aina langsung menatap suaminya.


"Kok di kunci Mas?"


"Kata Adrian tadi kan katanya jangan lupa kunci pintu Na." Hisyam tersenyum lalu kembali ke meja kerjanya. Aina bernafas lega, Aina mengira Mas Hisyam akan berbuat macam-macam dalam ruangan ini. Eh tapi kan sudah suami istri, sah saja kan jika berbuat macam-macam.


Aina lalu mengambil leptop dalam tasnya, ia menyicil mengerjakan beberapa tugas. Karena terlalu fokus, Aina sampai tidak sadar jika Mas Hisyam sudah ada di sebelahnya sambil membawa secangkir kopi yang Aina buatkan tadi.


"Serius banget,"celetuk Mas Hisyam. Aina terperanjat.


"Ya Allah Mas bikin kaget aja." Aina menggeser tubuhnya. Hisyam duduk di sebelah Aina.


"Pijitin lagi dong Na, pekerjaan hari ini bikin pusing." Aina mengangguk, lalu memberitahu Hisyam agar membelakanginya. Aina lalu mulai memijit suaminya perlahan. Aina memijat pelipis Mas Hisyam hingga mata Mas Hisyam terpejam.


"Enak Na, Enak banget." Suara Mas Hisyam sedikit mendesis.


"Mas ...."


"Hemm..."

__ADS_1


"Nanti pulang kerja anterin Aina ke toko buku yah, mau beli buku." Mas Hisyam mengangguk.


"Mas kalau cape mending tiduran aja di sofa." Mas Hisyam mengangguk lalu merebahkan dirinya di sofa. Aina duduk di sofa single, Mas Hisyam rebahan di sofa panjang.


"Na, Bantal ini nggak empuk." Hisyam mulai modus. Aina mengernyitkan dahinya.


"Sini deh." Aina masih terdiam.


"Aina..."


Aina menghampiri suaminya. Mas Hisyam lalu mengangkat setengah badannya, Aina ia tarik duduk sofa, setelah itu Hisyam kembali tiduran di pangkuan Aina.


"Mas ih."


"Sebentar doang Na." Mas Hisyam memejamkan matanya sejenak.


Ponsel Aina berdering, kebetulan ponselnya berada di atas meja. Aina melihat ada panggilan dari Kak Rasyid. Hisyam yang baru saja memejamkan matanya perlahan membuka matanya. Aina terdiam, Hisyam akhirnya membuka suara.


"Kenapa nggak diangkat? angkat aja, nggak usah ngrasa nggak enak sama Mas," ucap Hisyam sambil melihat Aina. Aina pun menunduk melihat Mas Hisyam.


Aina akhirnya menerima panggilan telfon dari Kak Rasyid. Aina membalas salam dari Kak Rasyid. Kak Rasyid tiba-tiba meminta maaf pada Aina atas perlakuannya tadi pagi. Aina mengangguk mengerti dan memaafkan. Aina tersenyum. Hisyam tidak suka dengan senyuman Aina untuk laki-laki lain.


Rasyid yang mendengarnya langsung menutup telfonnya. Aina terkejut. Baru saja berbaikan malah terjadi masalah berikutnya.


"Kak ... Kak," Panggil Aina. Hisyam tersenyum licik, melihat wajah Aina yang terlihat lucu saat panggilan telfonnya diputus sepihak.


Aina mencubit hidung mancung suaminya, "Ini gara-gara Mas ih, rese banget sih."


Hisyam membuka matanya,"Lhoo kok Mas sih Na, cowok kamu aja yang baperan tuh."


"Mas rese, kenapa sih panggil-panggil sayang." Kali ini Aina mencubit kedua pipi suaminya. Bingung hanya ada hidung dan pipi yang bisa terjangkau tangannya.


Mas Hisyam menggenggam telapak tangan Aina yang tengah mencubit pipinya, "Ya Mas memang sayang kamu Na." Aina terdiam, tangannya tiba-tiba memaku saat Mas Hisyam mengatakan sayang padanya.


Mas Hisyam menatap Aina dalam-dalam, genggaman tangannya pada tangan Aina ia lepaskan. Hisyam kini menyentuh dengan lembut pipi mulus istrinya, kemudian turun ke bawah dagunya. Hisyam menarik pipi Aina agar Aina menunduk, mengarah ke wajahnya.


Aina menurut, tidak menolak, semakin menunduk, hidung mereka terlebih dulu yang bersentuhan, hingga akhirnya bibir mereka saling menyentuh. Kini Aina dan Hisyam sudah saling ******* satu sama lain.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian Hisyam menyudahi ciumannya, Hisyam mengusap lembut bibir Aina, lalu bangun dari tidurnya.


"Mas, kenapa kita jadi sering cium..." 


"Kita batalkan perjanjian kita ya Na," ucap Hisyam sambil menatap Aina.


"Maksud Mas?"


"Ya kita jadi suami istri sewajarnya aja, mengalir gitu, biarlah waktu yang akan menumbuhkan cinta di hati kita," ucap Hisyam masih menatap Aina dengan serius.


Aina terdiam, Aina teringat nasihat sahabat-sahabatnya, lebih baik menerima yang sudah pasti saja dari pada menunggu yang tidak pasti. Selama ini Mas Hisyam juga sudah baik, apalagi soal uang, Mas Hisyam begitu royal.


"Gimana Na?"


Aina mengangguk, "Tapi Mas, untuk masalah itu, suami istri itu Mas, aduh gimana sih aku jelasinnya."


"Apa?"


"Itu, masalah bobo bareng, aku mau kita melakukannya setelah Mas cinta sama aku." Mas Hisyam tergelak mendengar pemintaan Aina.


Mas Hisyam mengangguk, "Iya, okeh, mulai sekarang kita jangan membatasi diri lagi yah."


"Terus gimana dengan wanita yang Mas tunggu itu?" Aina penasaran dong, kenapa tiba-tiba Mas Hisyam berubah pikiran ingin menjalani pernikahan dengannya secara normal. Padahal sebelumnya Mas Hisyam hanya menerima perjodohan ini karena orang tua.


Mas Hisyam tersenyum,"Mas akan melupakannya, kamu juga harus jaga jarak sama laki-laki yang ada di telfon tadi yah, Mas percaya, kamu istri yang baik."


Aina lagi-lagi terdiam, Aina harus mulai menerima Mas Hisyam bukan karena orang tua, tapi memang karena dari hatinya. Sepertinya juga Aina mulai nyaman dengan suaminya. Tidak mungkin tidak nyaman jika bibir keduanya sering menyatu tanpa penolakan.🤭 


"Bismillah, oke, Aina akan jaga jarak, asal Mas juga melupakan gadis itu, janji?" Aina mengacungkan jari kelingkingnya. Hisyam terkekeh, ia lalu menautkan jari kelingkingnya di jari kelingking Aina sebagai tanda sebuah kesepakatan baru diantara mereka berdua.


☘️ Bersambung ☘️


,


.


.

__ADS_1


.


(Witing tresno jalaran soko kulino gaes, yah kek maksan sama paksu, bedanya klo emak san langsung mau🤣🤣🤣 eits, jangan sampai mubadzir kan, harus segera digunakan sesuai fungsinya)


__ADS_2