
[Jangan dijadikan kebiasaan kalau sedang ada konflik lantas pulang ke rumah. Abi jangan di jadikan alasan, tolong dewasa sedikit, kita sedang membina rumah tangga, bukan sedang main-main. Mas minta sekarang juga kamu pulang ke rumah]
Ada hati yang begitu nyeri saat membaca balasan pesan dari mas Hisyam. Aina menghembuskan nafasnya perlahan, ia lalu beristighfar. Mas Hisyam sedang emosi, Aina tidak boleh terbawa emosi juga. Aina tidak membalas pesan mas Hisyam lagi, ia memilih menonaktifkan ponselnya. Aina lalu kembali lagi ke ruangan Abinya di rawat.
Sesampainya di ruangan, Aina melihat Amihnya sedang duduk di samping ranjang sambil memegangi telapak tangan Abi, sesekali Amih mengecupnya. Aina dibuat terharu dengan perlakuan Amih kepada Abi.
Aina memaku di depan pintu melihat pemandangan yang mengharukan baginya. Aina tahu betul cinta Amih pada Abi, dan Amih pernah menceritakan kisah cintanya pada Aina.
Amih sangat bahagia menjalani mahligai rumah tangga dengan Abi. Kata Amih Kebahagiaan hidup berumah tangga adalah anugerah Allah Subhanahu Wata’ala yang diberikan kepada hamba-Nya setelah nikmat Islam dan iman. Cinta dan kasih sayang serta ketentraman hidup berumahtangga adalah dambaan idaman bagi setiap pasangan suami istri.
Diantara pilar terpenting bagi kebahagiaan hidup berumah tangga adalah seorang istri. Yaitu bila ia sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam
Hanyalah dunia ini semata kesenangan. Dan tidak ada kesenangan dunia yang lebih utama daripada seorang istri yang sholihah.
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam tentang sangat agungnya kedudukan suami dihadapan istrinya. Bahwa suami adalah Surga atau neraka istrinya. Artinya bila seorang istri berbakti kepada suaminya maka Surga Allah akan selalu menantinya. Sebaliknya bila seorang istri durhaka kepada suaminya, maka nerakalah ancamannya. Maka sangat mudah bagi seorang wanita untuk mendapat surga dan juga sangat mudah pula bagi seorang wanita untuk mendapat neraka.
Amih selalu menasehati Aina, entah saat bertemu ataupun ditelfon, bahwa penting sekali seorang istri untuk taat pada suaminya. Rosulullah bersabda "Seandainya aku boleh menyuruh seorang sujud kepada seseorang, maka aku akan perintahkan seorang wanita sujud kepada suaminya."
Aina jadi teringat mas Hisyam yang menyuruhnya untuk pulang ke rumah, tapi Aina ingin sekali menemani Abi di sini, Aina dilema. Di satu sisi ia takut mas Hisyam bertambah murka, tapi di sisi lain Aina ingin menemani Amih dan Abi di sini.
"Na, ngapain di situ?" tanya mas Ardan. Aina terperanjat mendengar suara mas Ardan. Aina lalu menghampiri mas Ardan, duduk di sebelahnya.
"Mas, aku nanti pulang yah, soalnya tadi mas Hisyam nyuruh aku pulang dulu, nanti pasti aku ke sini lagi kok," ucap Aina. Mas Ardan langsung mengangguk mengerti, ia bahkan mempersilahkan Aina untuk pulang sekarang saja takut Hisyam sudah pulang terlebih dahulu.
Aina lalu menghampiri Amih, Aina berpamitan pada Amih, Aina beralasan ingin mengambil pakaian ganti. Aina berencana ingin menginap di rumah sakit, tapi pulang terlebih dahulu untuk meminta izin langsung pada mas Hisyam. Amih mengerti dan langsung mengizinkan Aina.
Aina lalu bergegas pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah, ia langsung mengganti pakaiannya lalu memasak untuk suaminya. Selesai memasak Aina menyalakan televisi sambil terus bertukar kabar dengan kakaknya untuk mengetahui kondisi Abinya.
***
__ADS_1
Aina mondar-mandir di depan ruang tamu, menunggu kedatangan mas Hisyam. Ditelfon tidak diangkat, kirim pesan lewat pesan juga tidak dibaca. Aina sangat mengkhawatirkan suaminya.
Aina terus menunggu suaminya di depan ruang tamu. Namun tiba-tiba ponselnya berdering, ada pesan WhatsApp masuk, Aina kira dari suaminya, tapi ternyata dari nomor tak dikenal.
Aina langsung membukanya, Aina terkejut ada foto suaminya sedang fokus bekerja, ada pesan juga di bawah foto itu.
(Aku sedang menemani suami kamu bekerja, jadi lebih baik kamu tidur nyenyak saja yah, tidak perlu menunggu mas Hisyam pulang, karena mas Hisyam tidak akan pulang. Anggita)
Seketika dada Aina langsung bergemuruh, rasanya ingin sekali membanting ponselnya, tapi percuma, itu tidak akan bisa menyelesaikan masalah.
Aina langsung memesan taxi online, ia ingin menuju kantor suaminya. Hatinya begitu sakit membaca isi pesan dan foto mas Hisyam yang tengah sibuk berdua dengan Anggita. Tapi entah berdua atau mungkin banyak orang, yang jelas Anggita sudah sangat lancang mengirimkan pesan seperti itu.
Aina sedang dilanda cemburu yang begitu hebat. Cemburu seorang wanita pasti jauh lebih besar dari seorang laki-laki. Karena setiap perempuan itu pasti akan selalu merasa takut dikhianati, kehilangan, ditinggalkan dan diduakan.
Bahkan meski lelakinya tak mungkin menduakan pun rasa cemburu itu pasti tetap ada, begitulah wanita kalau sudah cinta. Seharusnya lelaki itu tau bahwa semua wanita itu pasti akan merasa seperti itu, lelaki harusnya bisa mengerti akan hal itu.
Taxi yang dipesan Aina datang, ia langsung saja masuk ke dalam taxi dan bergegas menuju kantor mas Hisyam. Ah rasanya Aina lelah sekali hari ini, lelah hati, lelah fikiran juga.
Sesampainya di kantor mas Hisyam, tampak kantor sudah terlihat gelap, namun masih ada satpam yang berjaga karena memang di dalam kantor masih ada mas Hisyam yang sedang lembur. Aina permisi pada pak satpam untuk bertemu mas Hisyam. Pak satpam langsung mengizinkan lalu mengantar Aina sampai depan pintu ruangan kerja mas Hisyam.
Aina mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam. Saat ada interupsi diperbolehkan masuk, Aina langsung membuka pintunya. Hisyam yang melihat Aina masuk nampak begitu terkejut, begitu juga dengan karyawan lain.
Aina tersenyum lega, setidaknya suaminya tidak hanya berdua dengan Anggita, tapi banyak karyawan lain juga yang sedang berada di ruangan mas Hisyam.
Mas Hisyam langsung bangkit dari tempat duduknya lalu menghampiri Aina. Mas Hisyam menggenggam pergelangan tangan Aina lalu membawa Aina keluar dari ruangan.
"Kamu ngapain ke sini Na?" tanya Mas Hisyam sambil melepaskan genggamannya lalu memijit pelipisnya. Raut wajah lelah mas Hisyam begitu kentara.
"Maaf Mas, aku cuma khawatir, kamu nggak ngasih kabar kalau kamu lembur. Aku dari tadi nungguin kamu Mas," jawab Aina sejujurnya.
__ADS_1
"Aku sibuk Na, aku sedang menyelesaikan masalah yang begitu pelik ini, kamu seharusnya ngerti, bukan malah nambahin masalah."
Aina tidak mengerti dengan arah pembicaraan mas Hisyam, ucapannya malah membuatnya sakit hati.
"Mas, aku khawatir, apa nggak boleh seorang istri khawatir sama suaminya. Katanya tadi Mas suruh aku pulang, aku pulang Mas, padahal aku masih mau jaga Abi, Abi sedang sakit."
"Halah, itu alasan kamu saja kan? kalau ada masalah pasti pulang ke rumah, kalau kamu mau pulang, tenang saja, nanti saya akan pulangkan kamu, biar kamu puas," ucap Mas Hisyam. Nada bicaranya begitu tinggi, membuat Aina tidak percaya jika laki-laki yang ada di depannya ini adalah suaminya.
☘️ Bersambung ☘️
Btw, emak udah nulis dari kemarin tp lulus review nya lama ini🤦
(Siap-siap dapat komentar pedas inih mas Hisyam dari emak-emak kabupaten noveltoon, hayo komen, emak suka keributan🤣)
.
.
.
.
Intermezzoo:
Seperti yang pernah emak san tulis, kapan gitulah lupa, bahwa lelaki itu manusia yang terus berproses, bisa jadi sekarang begitu terlihat mencintai, namun esok terlihat lain bahkan mengkhianati. Ya lelaki emang begitu. Ingin setia ya karena memang dia nya ingin, ingin berubah ya karena memang dirinya ingin, bukan karena alesan yang lain.
Makanya taatlah pada suami karena itu merupakan bagian dari perintah Allah, jadi bukan karena suami itu sendiri. Berekspektasi begitu tinggi pada manusia hanya akan membuat sakit hati. Percaya deh sama emak🤭🤭
Yah, namanya juga rumah tangga, pasti banyak cobaan, kalau sedikit namanya COBAIN 🤣😁🤣
__ADS_1