Cinta Pertama Di Jabal Rahmah

Cinta Pertama Di Jabal Rahmah
Deal


__ADS_3

Aina mengekori Hisyam, eh Mas Ardan ikut mengekori juga ternyata. Hisyam terkejut ketika ada Mas Ardan juga ikut bersama Aina.


"Bang, aku mau bicara dengan Aina berdua," ucap Hisyam pada Ardan.


"Nggak boleh berduaan, nanti yang ketiganya syaiton lhoo." Mas Ardan masih belum mau pergi.


Hisyam menghembuskan nafasnya dengan kasar, "Bang, tenang, aku nggak bakal hilaf sama adikmu, masih kecil begini, lagian kita bukan sedang berdua, kan Abang bisa lihat dari sana, aku nggak bakal macem-macem." 


Aina mencebikan bibirnya, sebal mendengar Hisyam mengatakan bahwa dirinya masih kecil, sialan memang, bukan kecil, tapi mungil, Si Om Turki saja yang kebesaran badannya jadi menganggap Aina kecil. Pakai segala bilang jika nggak bakal hilaf, awas nanti jika sudah berstatus suami istri, jangan kaget jika di rumah nanti melihat Aina pakai baju sexy. Lihat saja nanti. Ih kok Aina kok jadi bayangin jadi suami istri sih sama si Om Turki ini. Hadeh, konslet kan otak Aina.


Mas Ardan akhirnya meninggalkan Aina dan Hisyam duduk berdua. Seperginya Mas Ardan, Aina langsung protes.


"Heh, Om jangan panggil aku anak kecil, "ucap Aina sambil memicingkan mata bulatnya. Aina teringat film kartun Siva yang tidak suka jika dipanggil anak kecil oleh para penjahat.🤣


"Yee, jangan panggil aku Om juga keles, sembarangan." Hisyam pun tidak suka jika ia dipanggil Om.


"Ya karena kamu sudah tua," jawab Aina sekenanya. Tapi memang benar kan, jelmaan Bule Turki ini memang sudah tua, 10 tahun lebih tua dari Aina.


"Kamunya aja yang kecil-kecil ngebet kawin. Heran deh sama nenek, kenapa sih mau jodohin aku nggak pilih-pilih dulu, selektif gitu," celetuk Hisyam sambil melirik Aina. Duh Gusti baru ketemu sekali saja sudah berdebat, apalagi kalau sudah menjadi suami istri. Sepertinya akan sering perang.


"Dih pede banget sih Bambang, aku juga nggak mau nikah sekarang, aku masih muda, masih pengen kuliah, pengen kerja pengen menikmati masa muda, eh malah terjebak dengan takdir yang menyebalkan ini." Aina pun melirik sinis ke arah Hisyam.


"Panggil Mas, jangan Om apalagi Bambang," tegas Hisyam.


Aina mencebikan bibirnya, "Panggil Aina, Dek atau apalah, jangan bocil, aku bukan anak kecil, ini tuh mungil-mungil gumus tau," ucap Aina jumawa.


Hisyam malah terkekeh, "Pede banget, aku tuh sering liat cewe-cewe cantik, banyak kok yang lebih menggemaskan dari kamu."

__ADS_1


"Haduh, kamu nya aja yang segede bagong, jadi aku kelihatan kecil, ih nggak ngaca." Ampun deh keduanya malah jadi body shaming.


"Kamunya aja yang cebol." Aina memutar kedua bola matanya. Ampun ini laki-laki yang ada di depannya, apa bener sih sudah 30 tahun, kok tengil banget.


"Udah ih, kok jadi body shaming, oke oke, aku memang pendek, jelek, terus kamu mau apa? Kalau nggak sudi dijodohkan ya udah, batalin sekarang, apa kamu takut hah?" Aina mengalihkan pandangannya, matanya berkaca-kaca. Sedih rasanya, baru kali ini Aina mendapatkan perlakuan seperti ini, biasanya Rasyid selalu memujinya, sekarang, calon suaminya, boro-boro memujinya, malah mengatainya.


Hisyam terdiam, ia nampak merasa bersalah, tidak biasanya ia meladeni sebuah kekonyolan. Biasanya ia selalu serius, tapi saat Aina meledeknya, ia tidak bisa mengontrol diri untuk tidak membalasnya. Aneh.


Aina lalu memunggungi Hisyam, "Aku juga tadinya nggak setuju dengan perjodohan ini, ada hati yang sedang aku jaga, tapi demi kebahagiaan Abi, aku rela, aku pasrah dengan takdir yang sudah Allah kasih buat Aku. Merelakan dan mengikhlaskan cita dan cintaku, mengorbankan masa mudaku, karena saat sudah menikah, aku nggak akan sebebas saat aku masih lajang, ini semua demi kebahagiaan Abi, bukan dari lubuk hati aku." Air mata Aina akhirnya luruh juga. Entahlah, Aina sekarang menjadi takut menjalani hiruk pikuk rumah tangga dengan laki-laki yang ada di sebelahnya itu. Baru bertemu saja sudah tidak akur, apalagi nanti-nanti.


Ucapan Aina sedikit menyentil hati Hisyam. Biasanya wanita dengan sukarela untuk menerimanya, tapi Aina tidak, Aina sudah memiliki seseorang di hatinya. Dan Aina tidak tergoda dengan rupa Hisyam yang meluluh lantahkan iman wanita.


Hisyam menggeser tubuhnya agar bisa melihat Aina, Aina buru-buru menghapus air matanya. Hisyam terkejut melihat Aina menangis.


"Na, maafin aku, aku bercandanya kelepasan, aku juga nggak tau aku bisa kelepasan kaya tadi, mungkin karena aku jarang bercanda, maaf,"ucap Hisyam sambil menatap Aina. Hisyam mengeluarkan sapu tangannya lalu memberikannya pada Aina.


Hisyam melotot lalu beristighfar, kenapa Nenek tega menjodohkan Hisyam dengan gadis rese sepeti ini Nek. Nenek tega. Hisyam hanya bisa bergumam dalam hati, takut menyinggung Aina lagi.


"Mas kita ngomong aja yuk, kita nggak mau dijodohin!"ajak Aina.


Hisyam menggeleng, "Ini wasiat nenek, dan aku sayang banget sama nenek, Na aku juga udah punya orang yang aku suka, dia cinta pertama aku, tapi demi nenek, aku rela menunda dulu cinta-cintaan ini."


"Tuh kan, Mas juga udah punya pacar, aku juga udah suka sama orang lain, mending kita kompak batalin aja yuk." Aina terus merayu Hisyam agar membatalkan perjodohan ini, mumpung baru pertemuan awal.


"Orang yang aku suka masih dalam pencarian, tapi jika kalau sudah ketemu, baru kita akan akhiri." 


Kampret emang nih Om Turki, kamsyud Lo, Aina dijadiin cadangan gitu. Aina umik-umik dalam hati.

__ADS_1


"Curang ih, Aina jadi jendes dong. Nggak mau ah." Aina melengos.


"Dengerin dulu, kita menikah sesuai keinginan Keluarga kita, tapi hanya Keluarga kita yang tahu, bilang saja masalah resepsi mah gampang, kita tunda, agar tidak banyak yang tahu kita sudah menikah, kita jalani dengan baik, hanya saja aku janji nggak akan nyentuh kamu, jadi saat nanti kamu jadi janda, kamu masih perawan. Gimana?" 


Haduh jadi kaya judul novel, janda tapi perawan🤭 Ah penawaran macam apa itu, sungguh membagongkan.


"Jadi, kita masih bisa kita jalani dengan normal, kamu bisa kejar cintamu, aku juga bisa kejar cintaku,"Sambung Hisyam lagi.


Aina jadi melongo, ini sedikit menarik, itu artinya Aina masih berkesempatan bisa bersama Rasyid. Yah benar sekali. Walaupun Aina janda, tapi kan masih perawan. Rasyid nggak bakal nolak. 


"Okeh deh, tapi jangan sampai ketahuan yah,"ucap Aina. Hisyam mengangguk, "Kita jalani rumah tangga kita dengan baik-baik, satu kamar bersama, nanti aku akan sisipkan kasur busa dibawah kasur. Tenang, aku nggak bakal aku apa-apain, kamu bukan seleraku."


Aina melirik sinis, "Sialan emang nih bujang lapuk, bukan selera bukan selera, lihat aja nanti kalau aku pakai lingerie di depannya, kalau sampai ngiler, aku suruh rebahan nanti di kuburan,"ucap Aina dalam hati.


"Okeh, awas ya kalau macam-macam. Aku janji bakal jadi istri yang baik kok, masak segala macem kaya istri kebanyakan, kamu juga harus kasih duit bulanan ya,"ucap Aina dengan polosnya hingga membuat Hisyam tergelak.


"Tenang, jatah bulanan dari aku nggak bakal kaleng-kaleng kok, pasti cukup buat bayar kuliah sama jajan kamu, tapi kita harus rahasiakan ini sebaik mungkin, kita penuhi dulu kemauan keluarga kita."


"Okeh."


"Deal yah."


Aina mengangguk. Hisyam tersenyum. Menurut Aina Padahal Hisyam ini ganteng maksimal, tapi sayang nyebelinnya juga maksimal. Demi Abi, Aina nurut, walaupun dengan kesepakatan yang aneh ini. Maafkan Aina, Abi.


☘️ Bersambung ☘️


__ADS_1


__ADS_2