
"Halah, itu alasan kamu aja kan? kalau ada masalah pasti pulang ke rumah, kalau kamu mau pulang, tenang saja, nanti saya akan pulangkan kamu, biar kamu puas," ucap Mas Hisyam. Nada bicaranya begitu tinggi, membuat Aina tidak percaya jika laki-laki yang ada di depannya ini adalah suaminya.
Tanpa menjawab apapun, Aina langsung berlari keluar dari kantor mas Hisyam. Dada Aina rasanya sesak sekali. Ini pertama kalinya mas Hisyam mengatakan hal demikian. Apakah karena mas Hisyam sudah menemukan cinta pertamanya itu sehingga melupakan ikatan perkawinan yang sudah berbulan-bulan dibina ini.
Aina memesan taxi lagi, kali ini ia tidak ingin kembali ke rumahnya, ia ingin menemui Abinya di rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Aina langsung menuju ruang rawat inap tempat Abinya di rawat.
Aina langsung disambut oleh Amih yang tengah makan malam.
"Na, mana Hisyam? kesini sama Hisyam kan?" tanya Amih. Aina menggeleng, "Mas Hisyam lembur Mih, maaf yah, tadi juga Aina dari kantor mas Hisyam, tapi mas Hisyam masih rapat." Aina berusaha menyembunyikan kesedihannya.
"Oh ya sudah nggak apa-apa, kasihan Hisyam, pasti lelah." Aina hanya mengangguk mendengar ucapan Amihnya.
"Abi belum siuman Mih?" tanya Aina. Aina melihat Abinya masih terlelap.
Amih menggeleng, kesedihan tergambar begitu jelas di raut wajah Amih. Aina mengelus lengan Amihnya.
"Amih sekarang istirahat yah, gantian Aina yang jaga." Amih mengangguk. Amih pasti sangat lelah seharian menjaga Abi.
Aina lalu duduk di kursi dekat ranjang tempat Abinya berbaring. Aina menggenggam tangan Abinya. Ingin sekali rasanya mencurahkan semuanya pada Abi, tapi apalah daya, Aina bukan istri yang seperti itu.
Aina ingat pesan Abi, dalam berumah tangga, pastinya tidak bisa terlepas dari masalah yang melibatkan konflik antar pasangan. Ada begitu banyak perkara yang bisa muncul, entah itu disebabkan oleh suami ataupun oleh istri. Barangkali perkara itu berupa ketidakpuasan atau ketidaksenangan seseorang terhadap kekurangan yang dimiliki oleh pasangannya.
Walau demikian, sebagai pasangan suami-istri yang bijak, maka perkara sedemikian rupa sudah seharusnya diselesaikan oleh pihak yang terlibat saja, yakni suami dan istri. Bukan malah membeberkan masalah tersebut dengan menceritakannya pada pihak yang tidak seharusnya.
Aina mencoba menahan diri untuk tidak mengeluarkan air mata, dan itu rasanya begitu sesak. Aina menciumi tangan Abinya. Aina melihat ke arah Amih, Amih ternyata sudah selesai makan, Amih saat ini sudah merebahkan tubuhnya di atas sofa. Amih pasti sangat lelah.
"Abi, Aina kangen," ucap Aina begitu lirih. Aina tidak ingin Amih mendengar.
"Abi, Abi mau cucu dari Aina kan? Abi cepet sembuh dong, Abi kita harus saling menyemangati, Aina butuh semangat dari Abi." Aina menidurkan kepalanya di tepi ranjang. Aina sedang berusaha menenangkan diri agar tidak mengeluarkan air mata.
__ADS_1
"Assalamualaikum." Aina langsung menengadahkan kepalanya saat mendengar suara salam. Ternyata ketiga kakaknya datang. Mereka langsung menghampiri Aina, Aina mencium punggung tangan ketiganya sekaligus Aina berpesan agar jangan berisik karena Amih baru saja tertidur.
Mas Ardan duduk disebelah Aina, sedangkan kedua kakaknya yang lain duduk di sofa.
"Na, kok kamu di sini? ini udah malam lhoo, kasihan Hisyam," ucap Mas Ardan. Aina mengerucutkan bibirnya. Kenapa semua mengkhawatirkan mas Hisyam, padahal mas Hisyam juga mungkin tidak perduli dengan dirinya.
"Mas Hisyam sedang sibuk, masih di kantor, katanya mau lembur gitu, aku udah izin kok." Mas Ardan mengangguk mengerti.
"Mas Ardan, Aina boleh tanya nggak?"
Mas Ardan tersenyum, "Tanya apa?"
"Emmm, istri mas kalau cemburuan gimana sih?"
Mas Ardan malah tertawa mendengar pertanyaan adiknya.
"Kamu lagi cemburu ya?"
"Adanya rasa cemburu merupakan 'bumbu' dalam suatu rumah tangga. Pasangan suami-istri yang tidak memiliki rasa cemburu sama sekali akan membuat hubungan keduanya terasa dingin. Dalam ajaran Islam, cemburu dipandang sebagai sesuatu yang penting. Kecemburuan itu ada yang disukai, dan ada yang dibenci Allah. Di antara sikap membanggakan, ada yang disukai dan ada yang dibenci Allah. Adapun kecemburuan yang disukai Allah ialah cemburu dalam perkara yang mencurigakan, sedangkan cemburu yang dibenci Allah ialah cemburu dalam perkara yang tidak mencurigakan. Istri mas juga sesekali pernah cemburu, tapi ya Mas berikan penjelasan, mas komunikasikan dengan baik. Yang paling terpenting adalah sabar." Aina menunduk mendengar jawaban mas Ardan. Cemburu Aina dibalas dengan emosi oleh suaminya.
"Kalau suaminya emosian gimana?" Mas Ardan terkekeh, "Ya rayu dong, kamu kan jago merayu, sama mas-masmu aja semuanya dirayu." Aina tersenyum lalu mencubit pinggang Mas Ardan. Aina melirik ke arah sofa, ada mas Arka sedang memijat kaki Amih yang sudah tertidur pulas.
Malam ini anggota keluarga berkumpul. Ini pertama kalinya semenjak Aina menikah. Sudah jarang sekali bisa berkumpul dengan formasi lengkap, ada saja yang sedang sibuk, atau keluar kota, atau seperti Aina ini, sibuk mengurus kuliah dan suami.
***
Malam harinya keluarga Abdullah semuanya tertidur di rumah sakit menemani Abi. Menunggu Abi itulah hal yang sangat dinantikan.
Aina merasa baru terlelap sebentar, ia merasa ada suara nafas yang tersengal-sengal. Aina yang tidur sambil duduk berbantalkan tangan langsung terbangun, Aina melihat ke arah Abinya yang ternyata nafasnya sudah tersengal-sengal.
"Abi..." Suara Aina mengagetkan semua kakaknya dan juga Amih. Ketiga kakaknya langsung terbangun, Amih juga langsung terbangun lalu menghampiri Aina.
__ADS_1
Nafas Abi seperti sudah di ujung tenggorokan, Mas Ardan lari keluar mencari dokter, sedangkan Amih mengelus kepala Abi sambil mengucapkan lafadz tahlil.
Tangan Aina gemetar, Aina menggenggam pergelangan tangan Abinya. Air mata Aina akhirnya luruh juga. Disaat genting seperti ini, ponsel Aina malah berdering, Aina tidak menghiraukannya. Mas Arka yang mengambil ponsel Aina.
Melihat dilayar ponsel Aina tertera nama Mas Hisyam, mas Arkan memberikan ponselnya pada Aina. Aina lalu keluar ruangan terlebih dahulu, berbarengan dengan masuknya dokter yang akan memeriksa kondisi Abi.
Aina menerima panggilan telfon dari mas Hisyam.
(Assalamualaikum mas) Suara Aina sedikit parau karena menahan kesedihan melihat kondisi Abi yang semakin parah.
(Waalaikumsallam, kamu tidak pulang Na? kamu benar-benar yah)
(Maaf Mas, Abi sedang sakit parah)
(Jangan terus beralasan kamu, saya pulang dini hari biar bisa mendapatkan ketenangan dari kamu, tapi yang ada malah kamu nggak ada di rumah)
(Maaf Mas, besok aku pulang)
(Tidak usah pulang sekalian)
Ucapan di sebrang sana benar-benar semakin menyakitkan hati Aina.
(Itu kan yang kamu mau?) Aina menggeleng. Air matanya sudah mengalir deras membasahi pipinya.
Mas Ardan menghampiri Aina yang belum selesai menelfon.
"Na, Abi udah nggak ada," ucap Mas Ardan.
☘️ Bersambung ☘️
(Haduh. Nyesek, Saat ini hati Aina pasti semendung Desember Januari 😁, jangan lupa diresapi bacanya, biar nyeseknya terasa, kalau gemas, gebug sajalah sesiapa yang ada di sebelahnya🤣)
__ADS_1