
...Typo bertebaran...
Aina terdiam sejenak. Apakah Mas Hisyam benar-benar di kantor, atau ke kantor untuk alasan menemui gadis yang dikatakan temannya itu?
"Kenapa Na?" tanya Ayu yang peka dengan lamunan Aina.
"Eh, emm, nanti aku jelaskan." Aina sengaja tidak bercerita di kantin karena di sebelahnya ada Kak Rasyid. Untung saja sahabat-sahabatnya mengerti.
Pesanan makanan datang, mereka lalu segera menyantap makan siang sambil mengobrol hal lain.
Selesai makan Aina dan sahabatnya keluar kampus memesan taxi online, mereka berencana pergi ke Mall yang ada toko bukunya, mereka juga sudah lama tidak pergi bersama. Aina meminta izin ke Mas Hisyam lewat pesan WhatsApp tapi tidak dibalas juga.
Di dalam mobil Aina terlihat kesal. Ayu, Febri serta Sheila mencoba menenangkan Aina.
"Aku tuh khawatir sama Mas Hisyam, tapi orangnya malah ke kantor, kemarin sore sampe malam itu demamnya tinggi, baru aja adem tadi pagi, udah main pergi aja, padahal janjinya mau di rumah nggak kemana-mana, susah banget sih dikasih taunya laki-laki itu," cerocos Aina. Aina seperti istri pada umumnya yang mengkhawatirkan kondisi suaminya.
"Lain kali kalau suami sakit, kamu jangan masuk aja Na, nanti kita kasih tau kok materi perkuliahannya, dari pada kabur begitu," usul Ayu. Aina mengangguk, sepertinya usul Ayu ada benarnya juga.
***
Sampai juga akhirnya di Mall yang mereka tuju. Mereka langsung turun dari mobil lalu berjalan menuju toko buku. Harus ke toko buku dulu, agar tidak gelap mata. Tahu sendiri lah, perempuan banyak hilafnya jika sudah cuci mata di pusat perbelanjaan. Manusiawi.🤭
"Nanti habis dari sini kita makan dulu yah," usul Sheila sambil memilah milih buku.
"Nanti aku yang traktir," ucap Aina.
__ADS_1
"Cie, Aina kan sudah ada yang nafkahi," ledek Ayu sambil mencolek dagu Aina. Selama menjadi istri Mas Hisyam, Mas Hisyam tidak pernah pelit soal uang, bahkan bisa dibilang sangat royal.
Selesai membeli buku, mereka berempat menuju restoran langganan, restoran yang pas di kantong mahasiswa.
Baru saja sampai depan restoran, Aina di kejutkan dengan pemandangan yang membuat dadanya nyeri. Aina seketika mematung melihat suaminya dan wanita entah siapa sedang duduk berdua sambil mengobrol.
Ketiga sahabat Aina melihat ke arah pandang Aina, mereka juga terkejut melihat suami Aina sedang makan berdua dengan wanita lain.
Ayu langsung merangkul Aina, lalu membawa Aina keluar dari restauran itu. Aina diam, matanya mulai berkaca-kaca, entahlah kenapa bisa sesakit ini melihat Mas Hisyam makan berdua dengan wanita lain, padahal Mas Hisyam dalam kondisi sakit.
Febri yang pemberani ingin sekali melabrak suami Aina, tapi Sheila tahan. Sheila tidak mau menimbulkan keributan di tempat umum, kasihan Aina juga nanti malah jadi berbuntut panjang. Mereka Akhirnya masuk ke restoran lain.
"Na, mungkin itu tadi rekan kerja Mas Hisyam, nggak boleh suudzon dulu." Ayu berusaha menenangkan Aina. Aina masih saja tetap terdiam.
"Iya Na, mungkin juga itu teman Mas Hisyam," ucap Sheila yang ikut menenangkan Aina sambil mengusap-usap lengan Aina.
"Maksud kamu apa Na? nggak boleh ngaco, apa aku samperin sekarang aja suamimu itu mumpung masih ada di sana?" tanya Ayu. Aina menggeleng, Aina lalu menceritakan kejadian pagi tadi saat harus terpaksa mengangkat telfon dari teman Mas Hisyam.
Ketiga sahabatnya langsung terdiam, bingung harus berbuat apa, mereka juga belum berpengalaman dalam hal berumah tangga.
"Tapi barang kali bukan itu, coba deh kamu telfon Mas Hisyamnya, pura-pura tidak tahu kalau Mas Hisyam ternyata tidak di rumah." Sheila masih berusaha berprasangka baik agar Aina tidak sakit hati. Sheila faham betul dari gelagat Aina tadi, Aina sudah mulai menyukai suaminya.
Aina menyetujui usul Ayu, Aina segera mengambil ponsel yang ada di dalam tasnya, lalu menelfon Mas Hisyam. Panggilan Aina tidak langsung diangkat. Tapi setelah panggilan kedua kalinya akhirnya diangkat juga.
Di sebrang sana terdengar suara Mas Hisyam mengucapkan salam. Aina menjawab salam Mas Hisyam. Aina menanyakan kondisi Mas Hisyam, dan jawaban Mas Hisyam adalah badannya sudah membaik, sudah tidak pusing lagi.
__ADS_1
Aina menanyakan makan siang, lalu sedang apa Mas Hisyam saat ini, namun jawaban Mas Hisyam membuat Aina kecewa. Mas Hisyam berbohong, Mas Hisyam menjawab sedang menonton TV.
Mendengar kebohongan dari jawaban Mas Hisyam, Aina langsung mengakhiri panggilan telfonnya tanpa memberi salam. Aina kembali memeluk Ayu yang ada di sebelahnya. Ayu mengelus punggung Aina dengan lembut dan menasehati Aina agar lebih bersabar lagi.
"Kenapa sih Mas Hisyam mesti bohong," celetuk Aina. Siapa sih orang yang suka dibohongi? Setiap orang pasti nggak senang dibohongi, apalagi oleh pasangan yang sangat disayangi. Apalagi dibohongi oleh suami sendiri, wajar kalau merasakan marah, kecewa, dan sedih yang bercampur aduk. Nggak hanya itu, rasa kepercayaan pun semakin memudar. Padahal, kepercayaan adalah kunci utama dalam membangun suatu hubungan.
"Dia nggak tau apa kalau perempuan itu mudah banget dalam hal memberi kepercayaan, tapi susah untuk mengembalikannya kembali jika sudah dibohongi," cerocos Aina. Ponsel Aina berdering, ada panggilan dari Mas Hisyam, tapi Aina enggan mengangkatnya.
"Suami kamu telfon Na," ucap Febri. Aina melirik ponselnya, ini adalah panggilan telfon yang ketiga kalinya dari Mas Hisyam tapi Aina masih saja mengabaikannya.
"Na, masih mau makan apa pulang?" tanya Ayu. Aina dengan berat hati memilih untuk pulang saja ke rumah, tapi ke rumah Amih. Aina kangen Amih dan Abi.
"Aku pulang duluan boleh? aku kangen Amih." Aina menatap ketiga sahabatnya.
"Nggak, ketika kesini tuh bareng-bareng jadi harus pulang barengan juga, kita nggak mau makan enak di sini tapi disisi lain kamu lagi bersedih Na, kita pulang sama-sama yah, tapi sebelum pulang ke rumah Amih mending kamu cuci muka dulu deh," ucap Febri. Ayu dan Sheila mengacungkan jempol ke arah Febri. Aina merangkul ketiga sahabatnya.
Karena merasa tidak enak hati sudah duduk lama di restoran ini, akhirnya sebelum pergi mereka memesan makanan terlebih dahulu tapi di bungkus. Selesai dilayani, mereka menuju toilet untuk menghilangkan jejak air mata di pipi dan mata Aina. Baru setelah itu mereka pulang menggunakan taxi.
Hisyam merasa gusar karena telfonnya tak kunjung diangkat. Sudah sampai sepuluh kali telfonnya tidak diangkat. Saat akan menelfon Aina kembali, Hisyam malah mendapat telfon dari Uminya, Uminya memberi tahu jika tadi Aina menelfonnya, dan Umi menjawab dengan jujur jika tadi bertemu Hisyam di kantor. Hisyam mengusap wajahnya dengan kasar. Ia sadar diri jika dirinya tengah berbohong dan sialnya langsung ketahuan, Hisyam memang tidak punya bakat dalam berbohong.
Satu kali berbohong, eh Allah tidak meridhoi, langsung terbongkar saat itu juga. Anggita dan Bayu memperhatikan Hisyam yang gelisah.
"Kenapa Syam?" tanya Bayu. Hisyam melirik Bayu, "Bay, kayaknya aku mesti pulang deh, aku akan lanjutkan pertanyaan berikutnya nanti aja yah, darurat soalnya."
Bayu mengangguk, Hisyam berpamitan pada Bayu dan Anggita, Hisyam beralasan ada urusan mendadak yang harus ia selesaikan secepatnya.
__ADS_1
☘️ Bersambung ☘️
(Akan ada bau-bau negara api mulai menyerang 😁🤣🤣🤣 Eh btw mksh yg udah doain emak, tapi emak itu sbenere nggak sakit, cuma lemes aja, kaget mengASIhi anak lanang, beuh lama bgt klo lagi *****, bisa buat pulang pergi umroh🤣 saking lamanya, emak udah makan bnyk, jajan bnyk juga, d kasih duit bnyk🤣 tapi badan tetep rungkad gaes, alias ambrol, alias remuk gitulah)