Cinta Pertama Di Jabal Rahmah

Cinta Pertama Di Jabal Rahmah
Masak Bersama


__ADS_3

Kini Hisyam dan Aina sudah berada di kamar. Mereka nampak canggung karena kejadian sore tadi. Aina mengurangi rasa canggungnya dengan menggarap beberapa tugas dari dosennya. Hisyam juga sibuk melanjutkan kerjaan kantor di meja kerjanya.


Aina tidak tersadar jika dirinya tertidur berbantalkan lengan tangannya. Hisyam yang saat itu juga sudah mengantuk akhirnya mematikan leptopnya lalu merapikan meja kerjanya.


Saat beranjak dari meja kerjanya, Hisyam melihat Aina yang sudah tertidur pulas. Hisyam berdecak sambil tersenyum. Aina kenapa mudah sekali tertidur jika sedang mengerjakan tugas.


Hisyam menghampiri Aina, Ia menatap wajah istri mungilnya. Hisyam bergumam dalam hati memuji kecantikan dan kebaikan istrinya. Apakah ini yang sudah menjadi takdirnya untuk melupakan gadis kecilnya. Hisyam mulai ragu dengan tujuan awalnya.


Bagaimana tidak ragu, Aina di dalam rumah selalu mengenakan daster. Tak tahukah kamu Na, jika daster adalah rahasia penakluk laki-laki terampuh.


Puas memandangi Aina, Hisyam akhirnya menggendong Aina ke atas kasur. Ia menggeleng pelan. Aina jika sudah tertidur, bisa sampai tidak terasa apa-apa. Tapi herannya ia selalu tepat waktu bangun subuh walaupun tidurnya seperti orang pingsan.


Hisyam menyibakkan rambut indah istrinya. Lalu mengecup kening Aina, setelah itu mengecup bibir Aina sekilas.


"Maaf ya Na, Mas sekarang jadi kalap bukan khilaf lagi, pengennya sun sun kamu terus,"ucap Hisyam lirih. Hisyam lalu tidur disamping Aina. Ia tidak tidur di bawah sesuai dengan aturan awal. Sepertinya dirinya benar-benar kalap.😆


Laki-laki dan perempuan ibarat magnet kutub utara dan selatan yang akan saling tarik menarik jika berdekatan. Masa iya sih bisa tahan, akhirnya nempel juga kan.


Hisyam tertidur di samping Aina. Hanya tidur biasa, mungkin lain waktu bukan hanya tertidur, tunggu saja waktunya Aina khilaf khilaf dan khilaf sampai pada titik akhir yaitu pasrah.


***


Pagi harinya Aina terperanjat saat terbangun. Yang ia ingat ia sedang mengerjakan tugas. Aina lebih terkejut lagi saat melihat Mas Hisyam tidur di sebelahnya, tidur dengan posisi miring menghadap dirinya. Aina melihat ke arah dirinya sendiri, ia lega karena masih mengenakan pakaian lengkap.


Jantung Aina berdetak lebih kencang saat melihat wajah gagah suaminya saat terlelap. Mata Aina tertuju pada bibir sexy suaminya. Aina meneguk salivanya. Pengalaman pertama sore kemarin tiba-tiba terlintas di otaknya. Aina segera menepuk kepalanya.

__ADS_1


"Haduh, kok jadi keingetan terus sih, kenapa juga sih kok enak banget," gumam Aina sambil menepuk-nepuk kepalanya. Apakah pikirannya mulai konslet membiarkan Mas Hisyam menyentuhnya. Tapi enak, tapi kan perjanjian awal tidak seperti itu. Aina menggeleng pelan, ia segera membuang jauh-jauh pikiran anehnya. Aina beranjak dari tempat tidurnya, ia lalu bergegas menuju kamar mandi, membersihkan diri sekalian berwudlu.


Saat Aina tengah mandi, Hisyam terbangun karena mendengar suara gemercik dari kamar Mandi. Ia lalu duduk di atas kasur sambil menunggu Aina keluar dari kamar mandi.


Beberapa menit kemudian Aina keluar dari kamar mandi, seperti biasa mengenakan daster, rambutnya tergelung oleh handuk. Hisyam mengernyitkan dahinya.  Ia bertanya-tanya kenapa setiap pagi Aina selalu keramas, padahal di jamah juga tidak.


"Sudah bangun Mas? Kok semalam Mas tidur di atas?" tanya Aina sambil membuka handuknya. Lalu mengusap-usap rambutnya menggunakan handuk agar cepat kering. Kepala Hisyam mendadak cenad cenud, atas bawah lagi, kenapa pemandangan subuh ini begitu epik. Biji ketumbar dengan style dasternya, rambut setengah basah tergerai, bau harum mewangi. Benar-benar begitu menggoda iman.


"Cape gendong kamu, terus Mas juga udah ngantuk banget, jadi nggak sempet siapin kasur bawah,"ucap Hisyam berbohong.


"Bener nih? Kamu nggak modus kan Mas?" Aina menatap Hisyam sambil menyibakkan rambutnya.


Hisyam menggeleng cepat. Sebelum benar-benar kalap, Hisyam buru-buru masuk ke dalam kamar mandi. Adzan subuh sudah berkumandang, jangan sampai ada genderang perang pagi ini.


***


"Mas mau apa? mau kopi kah?" tanya Aina yang langsung dijawab Hisyam dengan gelengan.


"Terus ngapain Mas?"


"Mau bantuin kamu masak," ucapnya sambil tersenyum.


"Emang bisa?" tanya Aina. Hisyam menggeleng, "Makanya mau belajar, waktu aku kecil, Umi marah kalau aku masuk dapur, katanya nanti cuma berantakin aja." Hisyam mengingat masa kecilnya. Memang benar, saat kecil Hisyam selalu merecoki Uminya saat masak, entah menaburkan tepung ataupun mengacak-acak bumbu dapur.


Aina tergelak, "Mas rese kali waktu kecil. " Hisyam terkekeh lalu mengangguk.

__ADS_1


"Ya udah sekarang Mas kupas bawang nih, aku mau racik sayuran dulu sama potong-potong." Aina memberikan beberapa bawang merah dan putih serta pisaunya. Hisyam menerimanya. Aina memberitahu Hisyam cara mengupas bawang. Setelah itu Hisyam melakukannya sendiri.


"Mas kenapa mau belajar masak segala sih?" tanya Aina penasaran.


"Ya biar kalau kamu nggak masak atau sakit kan bisa gantian Mas yang masak Na,"jawab Hisyam. Jawaban Mas Hisyam membuat hati Aina terenyuh. Seorang Mas Hisyam mau terjun langsung ke dapur untuk dirinya ketika suatu saat nanti misalnya sakit.


Aina tersenyum, ia melanjutkan memotong sayuran dan meracik bumbu juga saat Mas Hisyam sudah selesai memotong bawang.


Mas Hisyam terus memperhatikan gerakan Aina memasak. Mas Hisyam lalu meminta Aina agar mengajarinya menumis sayuran. Aina memberikan sodetnya pada Hisyam. Aina mulai memberikan interupsi, apa saja bumbu-bumbu yang harus di masukan.


Saat Hisyam memasak, Aina mengambil beberapa lembar tisyu lalu mengusapkannya di dahi Hisyam yang berpeluh. Hisyam terdiam melihat gerakan Aina saat mengusap keringatnya.


Manik mata mereka bertemu, Aina jadi ikut terdiam. Hisyam meletakan sodetnya di atas wajan. Tangan satunya merengkuh pinggang Aina, tangan satunya lagi mengusap bibir Aina yang kini sudah tepat berada di depan matanya.


Aina diam membisu, tubuhnya memaku, tidak bisa menolak pesona Mas Hisyam. Ketika wajah Mas Hisyam semakin mendekat ke wajahnya. Aina reflek memejamkan matanya.


Mas Hisyam tidak lupa mematikan kompor yang saat itu masih menyala. Untung saja ingat, tidak lucu dong jika pagi ini hanya sarapan bibir Aina saja. Kompor mati seketika, Hisyam langsung mengecup perlahan bibir Aina. Ciuman mereka semakin memanas seperti wajan yang ada di samping mereka. Aina sudah mulai sedikit belajar dari pengalaman kemarin. (Ceileh belajar 🤭)


Hawa dapur semakin panas, kemesraan pasutri ini memang tidak ada duanya. Rencana mereka tidak sama dengan rencana Allah yang maha kuasa. Allah sang pemilik hati seluruh umat manusia, yang bisa membolak-balikan kapan saja sesuai kehendaknya.


Hisyam menyudahi ciumannya karena merasakan istrinya sudah kehabisan nafas. Aina tampak malu, ia tidak mau menatap suaminya, ia malah menyusupkan wajahnya di dada suaminya sambil memukul-mukul kecil.


"Mas Hisyam, kenapa kita melakukannya lagi sih,"ucap Aina lirih.


Hisyam terkekeh, "Nggak tau Na, Mas refleks, kamu juga nggak menolak."

__ADS_1


Seketika wajah Aina memerah, ia benar sekali, dirinya memang tidak menolak. Ah kenapa tidak menolak sih, apa jangan-jangan sudah mulai candu?


☘️ Bersambung ☘️


__ADS_2