Cinta Pertama Di Jabal Rahmah

Cinta Pertama Di Jabal Rahmah
Candu


__ADS_3

Pagi harinya keduanya sudah berani mandi berdua, lalu melaksanakan salat subuh bersama. Selesai salat berdzikir dan berdoa. Aina mencium punggung tangan suaminya.


Mas Hisyam malah tiduran di pangkuan Aina. Mas Hisyam mengelus perut Aina, "Di dalam sini, sedang menyeleksi bibit terbaik yang nanti akan jadi anak kita yang hebat."


Aina membelai kepala suaminya sambil tersenyum, "Biarlah Allah yang bekerja, tugas kita adalah belajar sabar, menanti dan menikmati setiap proses yang Allah beri." Mas Hisyam mengangguk, tapi tanpa dipungkiri, diusianya yang sudah kepala tiga, ia ingin sekali secepatnya memiliki buah hati. Tapi ya benar apa yang dikatakan Aina tadi, harus belajar sabar.


"Mas udah, sana tiduran di kasur aja, aku mau masak lhoo," ucap Aina. Eh Mas Hisyam menggeleng pelan.


"Nggak mau, masih mau berdua." Aina tersenyum, sekalinya nempel, malah kecanduan kan.


"Kamu nggak lapar apa Mas, semalaman sudah bekerja keras." Mas Hisyam malah tergelak. Semalaman Aina melayani Mas Hisyam sampai beberapa kali, entahlah Mas Hisyam menggunakan ramuan ampuh apa.


"Tapi kamu suka kan Sayang," tanya Mas Hisyam. Wajah Aina langsung memerah.


"Kamu semalam juga sudah bekerja keras, pasti lelah, kita pesan makanan dari luar aja yah, ini perintah suami." Mas Hisyam malah memejamkan matanya. Aina akhirnya nurut saja.


"Mas nggak boleh tidur habis subuh ih, ayo bangun, kita jalan-jalan pagi depan komplek aja yuk," ajak Aina.


Aina memang sudah dibiasakan tidak boleh tidur setelah subuh karena tidur setelah subuh mencegah rezeki, karena waktu subuh adalah waktu makhluk mencari rezeki mereka dan waktu dibagikannya rezeki. Tidur setelah subuh suatu hal yang dilarang (makruh) kecuali ada penyebab atau keperluan. Ya walaupun kali ini karena kelelahan setelah semalaman beribadah juga.🤭 Tapi kan semalam masih sempat tidur juga.


Banyak tidur ada yang termasuk dilarang dan ada pula yang dapat menimbulkan bahaya bagi badan. Tidur pagi juga menyebabkan berbagai penyakit badan di antaranya adalah melemahkan syahwat. Haduh bahaya sekali bukan.


Mas Hisyam membuka matanya lalu duduk, mencubit hidung istrinya yang mungil, mencium pipinya yang kenyal. Mas Hisyam berdiri sambil menggandeng Aina juga agar berdiri juga.


"Ya udah ayo, kita jalan-jalan pagi sekalian kenalan juga dengan tetangga," ucap Mas Hisyam. Aina mengangguk, ia melepaskan mukenahnya lalu mengganti bajunya, begitu juga dengan Hisyam.


"Sekalian kita beli sarapan ya Mas." Hisyam mengangguk. Mereka berdua keluar dari rumah, melihat sekeliling komplek masih agak gelap, udaranya juga masih dingin namun sangat segar.


Hisyam dan Aina berkeliling komplek, tidak lupa membeli sarapan juga. Saat sampai di depan rumah, tetangga rumah sebelah, pas sekali sebelah rumah Hisyam dan Aina juga baru saja pulang dari joging. Akhirnya Aina dan Hisyam berkenalan terlebih dahulu.


"Eh, ada tetangga baru, akhirnya ketemu juga, kemarin bu rt cerita, katanya ada tetangga baru, tapi kok jarang kelihatan," ucap ibu-ibu setengah baya.


Aina tersenyum lalu mengulurkan tangannya untuk berkenalan, " Aina Bu." Sedangkan Hisyam menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya, " Hisyam."


"Bu Rika." Hisyam dan Aina mengangguk.


"Pengantin baru yah?" tanya Bu Rika.  Aina dan Hisyam kembali mengangguk. Ya memang benar kan, walaupun baru beberapa bulan, tapi tergolong masih baru lah, baru buka segel juga.🤣

__ADS_1


"Sudah hamil belum?" tanya Bu Rika. Aina menggeleng. Baru saja proses produksi, nggak mungkin langsung tekdung saat itu juga dong.


"Mumpung masih muda, jangan ditunda, kalau tunda malah nanti jadi susah punya anaknya." Bu Rita ternyata cerewet juga. Aina mengerutkan dahinya. Tetangganya modelan mak lambe ternyata yang doyan mengurusi hidup orang lain.


"Bu, kami ke dalam dulu yah, saya juga mau siap- siap kerja," ucap Mas Hisyam. Hisyam sepertinya faham jika istrinya mulai tidak nyaman.


"Oh iya iya." Bu Rika juga membuka gerbang rumahnya. Hisyam menggandeng Aina masuk ke dalam rumah.


"Na, jangan kaya ibu itu yah. Berhenti bertanya " kapan" pada seseorang tentang hal yang dia belum dapatkan. dia mungkin sangat ingin, tapi belum bisa mendapatkan atau mungkin tidak ingin sama sekali. apapun itu, kamu tidak berhak tau alasannya," ucap Hisyam menasehati istrinya. Aina mengangguk mengerti.


Aina lalu menuju dapur, mengambil piring dan gelas untuk persiapan sarapan. Hisyam menunggunya di meja makan. Saat Aina sedang menyiapkan sarapan, Hisyam menarik tangan Aina. Aina terjatuh di pangkuan Hisyam.


"Sayang nanti nggak usah kuliah ya?" ucap Hisyam sambil mesem manis. Aina geleng-geleng.


Hisyam mengerucutkan bibirnya, "Kenapa?"


"Nanti ada kuis Mas." 


"Ya udah deh, nanti Mas antar yah."


Aina menganguk, "Mas juga kerja kan hari ini?" 


"Kok gitu?" tanya Aina dengan polosnya.


"Ya Mas ngerjain kamu aja lah," ucap Hisyam sambil memeluk Aina dengan erat. Aina melepaskan pelukan suaminya. Haduh Mas Hisyam ini tidak ada lelahnya atau bagaimana sih.


"Ayo ah sarapan." Aina turun dari pangkuan suaminya. Lalu duduk di kursinya. Siap menyantap sarapan yang tadi dibeli.


Selesai makan, Hisyam dan Aina ke kamar, bersiap-siap melakukan aktivitas seperti biasanya. Aina ke kampus, sedangkan Mas Hisyam ke kantor.


***


Aina diantar Mas Hisyam ke kampus. Sampai di depan kampus, Mas Hisyam seperti tidak rela melepaskan Aina pergi.


"Na, jangan nakal yah, inget lhoo, kamu istri aku," ucap Mas Hisyam. Aina terkekeh, "Dari sejak ijab kabul juga aku sadar Mas, aku istri Mas."


"Tapi sekarang kan kamu sudah jadi milik aku seutuhnya." Mas Hisyam menggenggam jemari Aina lalu mengecupnya.

__ADS_1


"Mas juga jangan nakal di kantor yah, kan sekarang ada cinta masa kecil Mas dulu." Hisyam langsung mengangguk, ia sudah berusaha melupakan gadis kecilnya yang dulu selalu ditunggu-tunggu kehadirannya.


"Yang penting saat ini dan masa depan kita, bukan masa lalu," ujar Mas Hisyam. Aina langsung mengacungkan jempol ke arah Mas Hisyam.


"Ya udah ya Mas, aku turun yah." Mas Hisyam mencegah Aina. Ia langsung menarik lengan Aina agar semakin dekat dengannya setelah itu mengecup bibirnya sekilas. Di depan kampus gaes, tidak boleh berlebihan.🤭


Aina tersenyum lalu mencium punggung tangan suaminya, setelah itu memberi salam. Aina turun dari mobil dan masuk ke dalam kampus.


Saat memasuki kelas, Aina mengembangkan senyuman yang begitu merekah. Dirinya begitu bahagia karena tidak menyangka akan melakukan penyatuan dengan suami perjodohan. 


Segalanya tak mungkin disatukan, tapi cinta membuat dua orang berjuang bahkan untuk hal yang mustahil. Itulah gambaran Aina dan Hisyam.


"Wih, ukhti bercahaya bener, kaya habis dapet durian runtuh," celetuk Sheila.


"Bukan durian runtuh, lebih tepatnya belah durian, haha," ucap Aina dalam hati. Hemm kalau sampai sahabatnya tahu pasti bakal heboh. Ketiga sahabatnya akan berubah menjadi reporter.


"Roman-romannya kaya habis keramas," celetuk Febri.


Hemm, si Febri ini, perawan tapi hafal banget masalah keramas per keramasan.


"Memangnya kenapa kalau habis keramas?" ucap Aina. Eh ketiganya langsung mengerumuni Aina.


"Cius Na habis keramas?" tanya Ayu.


Aina mengangguk, "Rambut aku kotor ya keramas dong."


Ketiga sahabatnya langsung menepuk dahi, "Yah..." serempak.


☘️ Bersambung ☘️


.


.


.


.

__ADS_1


Intermezzoo: Berhenti bertanya " kapan" pada seseorang tentang hal yang dia belum dapatkan. dia mungkin sangat ingin, tapi belum bisa mendapatkan atau mungkin tidak ingin sama sekali. apapun itu, kamu tidak berhak tau alasannya.


Yah begitulah kehidupan, klo nanya pada serem kaya malaikat Munkar Nakir 🤦


__ADS_2