
"Bukan di isi nasi Na, tapi di isi dede bayi." Aina yang semula menatap Mas Hisyam, kini mendongakkan kepalanya, Aina mesam mesem mendengar perkataan Mas Hisyam.
"Udah, jangan ngomong macem-macem, istirahat aja Mas." Hisyam memejamkan matanya, menuruti perkataan istrinya. Setelah terlelap, Aina mengangkat kepala suaminya, mengganti paha nya dengan bantal.
Aina menatap wajah suaminya sambil tersenyum. Ia menatap wajah suaminya dengan detail. Tak secuil pun yang terlewatkan. Aina begitu mengagumi ketampanan suaminya.
Puas melihat wajah suaminya, Aina lalu merapikan nakas, membawa piring bekas ke dapur. Setelah membersihkan dapur, lalu makan sup yang tadi ia masak. Jangan sampai lupakan makan agar kuat menghadapi suaminya yang begitu manja.
Selesai makan, Aina kembali lagi ke kamarnya untuk mandi. Mas Hisyam ternyata sudah terlelap, mungkin efek dari obat yang Mas Hisyam minum membuat kantuk.
***
Adzan magrib berkumandang, Aina membangunkan suaminya terlebih dahulu. Hisyam pun terbangun, kepalanya sudah lumayan enak, tidak sesakit tadi. Aina memapah suaminya ke kamar mandi. Saat sudah di kamar mandi, ia segera keluar, namun Hisyam menahan tangan istrinya.
"Tungguin nya di dalam aja Na."
Aina memicingkan matanya lalu menggeleng.
"Nggak mau, ih Mas Hisyam, aku tunggu di depan pintu kamar mandi aja." Aina berusaha menarik lengannya, tapi cengkraman Mas Hisyam benar-benar kuat. Padahal sedang sakit.
"Nanti kalau Mas jatuh gimana," ucap Hisyam sambil menaik turunkan alisnya.
"Kalau jatuh ya tinggal bangun Mas," jawab Aina sekenanya. Aina benar-benar masih malu jika harus berduaan di kamar mandi. Apalagi takut Mas Hisyam ingin buang air kecil. Ia tidak mungkin dong menyaksikan. Ah Aina benar-benar masih belum siap.
"Tega." Mas Hisyam mengerucutkan bibirnya.
"Kalau mau cuci muka sama wudhu doang, aku temenin, tapi kalau buang air kecil, aku di luar aja Mas." Mas Hisyam menghembuskan nafasnya dengan kasar lalu mempersilahkan istrinya keluar dari kamar mandi. Aina menunggui suaminya di depan pintu kamar mandi, takut Mas Hisyam jatuh karena belum benar-benar pulih.
Selesai membersihkan diri dan berwudhu, kini giliran Aina yang berwudhu. Mereka berdua melaksanakan salat Magrib di rumah.
Walaupun dalam keadaan sakit, salat tetap harus dilaksanakan. Hal yang paling berdosa adalah meninggalkan salat tanpa rasa bersalah atau sesal.
Selesai salat, Aina menawarkan makan lagi pada suaminya tapi malah dijawab dengan gelengan kepala. Mas Hisyam kembali lagi ke atas kasur, merebahkan diri di sana.
Aina mengecek suhu tubuh Mas Hisyam dengan punggung telapak tangannya. Suhu tubuh Mas Hisyam masih hangat. Aina pun berinisiatif mengompres suaminya.
Hisyam memperhatikan istrinya saat sedang mengompresnya. Aina benar-benar telaten merawatnya. Hisyam semakin mengagumi istri kecilnya itu.
"Mas, aku sambil jaga Mas, sambil ngerjain tugas yah," ucap Aina. Hisyam tersenyum lalu mengangguk. Aina selalu meminta izin padanya, hal ini membuat Hisyam merasa sangat dihargai sebagai suami.
__ADS_1
"Maaf ya Mas, jadi kurang fokus ngurusin Mas, soalnya ada tugas Mas, dan dikumpulkan besok,"ucap Aina memasang wajah memelas.
"Iya nggak apa-apa, Mas juga sebentar lagi tidur nih."
"Tapi jangan lelap banget yah, nanti jam 9 harus makan obat lagi, biar besok sembuh." Hisyam berdecak, ia sangat tidak suka mendengar kata obat. Mendengar kata minum obat, Hisyam langsung memejamkan matanya. Aina tersenyum karena lucu melihat kelakuan suaminya.
Aina membuka leptopnya lalu mulai mengerjakan tugasnya. Saat itu sahabat-sahabatnya juga sedang mengerjakan tugas. Mereka sudah ribut di grup chat WhatsApp yang berisi mereka berempat tentang kesulitan tugas dari Bu Rita. Aina tersenyum saat melihat isi chat sahabatnya itu. Mereka mencari-carinya sedari tadi.
[ Aina, tanyain suami kamu dong, susah nih tugasnya]
[ Aina kamu lagi dimana? kok di chat nggak di bales, di telfon nggak di angkat]
[ Hola, Hola, Aina, pingsan yah]
[Lagi kelon jangan-jangan]
[Iya lagi mesra-mesraan kayaknya, mana suasana syahdu gini lagi]
[ Na, lagi praktekin nasehat kita yah]
[Sompret dasar, bener-bener pingsan berdua di kasur sama suaminya kayanya]
Aina pun segera membalas bahwa dirinya sedang mengurus suaminya yang sedang sakit. Dan mereka serempak menjawab dengan kata Oh.
***
Saat sudah jam 9, Aina membangunkan suaminya. Sebelum itu terlebih dahulu Aina sudah merendam obat di dalam sendok agar saat Mas Hisyam terbangun, sudah bisa langsung diminumkan tanpa menunggu, jadi suami manjanya bisa langsung istirahat lagi.
Wajah Mas Hisyam nampak murung saat di bangunkan, karena ia tau sudah waktunya minum obat. Aina tersenyum lalu membelai pipi suaminya. Aina harus mengeluarkan lagi jurus merayu si jabang tua suaminya ini.
"Ayo Mas, buka mulutnya." Hisyam menatap Aina dengan tatapan sendu.
"Mas mau minum obat itu, tapi nanti kamu tidur di sini nemenin Mas yah, kata Umi, kalau Mas sakit, Mas suka ngigo." Aina menimbang-nimbang permintaan suaminya. Orang sakit permintaanya suka aneh-aneh.
Aina mengangguk, "Iya nanti aku tidur di sini, jagain Mas, tapi Mas minum obat dulu yah." Mas Hisyam tersenyum lalu mengangguk. Mas Hisyam segera meneguk obatnya.
"Sini Na, tidur sini." Mas Hisyam menepuk-nepuk tempat tidur sebelahnya. Aina mendadak deg-degan. Aina berusaha menetralisir hatinya.
Tenang Na, orang sakit tidak akan macam-macam.
__ADS_1
Sebelum tidur, Aina ke kamar mandi terlebih dahulu, Ia biasa tidur tidak memakai penyangga kedua bukitnya. Aina melepaskannya.
Keluar dari kamar mandi, Aina lalu naik ke atas kasur, merebahkan tubuhnya di samping Mas Hisyam. Mas Hisyam langsung memeluk Aina, kepalanya ia selipkan di lengan Aina. Aina terkejut dengan perlakuan Mas Hisyam.
"Mas nggak bakal ngapa-ngapain Na, Mas nggak berdaya." Aina mengangguk perlahan. Mas Hisyam malah memiringkan badannya, lalu kepalanya ia tompang dengan tangannya sambil menatap Aina. Aina meneguk salivanya sendiri.
"Mas Hisyam ganteng begini, rasanya jadi pengin di apa-apain," ucap Aina dalam hati, namun ia segera menggelengkan kepalanya, berharap pikiran anehnya segera lenyap. (WOY LAH AINA🤣)
"Kamu ngarep banget ya Mas apa-apain," ledek Mas Hisyam sambil terkekeh. Lagi sakit aja masih bisa meledek. Kan Aina jadi kaget , Mas Hisyam kok bisa tau isi hati Aina.
Aina menggeleng, "Udah tidur, nanti aku pindah di bawah nih." Eh Mas Hisyam langsung memeluk perut istrinya.
"Jangan, tidur di sebelah Mas aja, awas kalau sampai pindah ke bawah, besok Mas kunciin nggak boleh keluar kamar." Ancaman Mas Hisyam membuat Aina heran, sakit tapi malah semakin aneh tingkahnya.
"Ya udah bobo dong Mas." Aina ingin cepat-cepat menetralisir jantungnya yang jedag-jedug sedari tadi.
"Tapi Mas bobonya peluk kamu boleh Na." Aina memutar bola matanya. Suaminya mulai modus. Tapi mengingat nasihat dari Sabahatnya jika ia juga harus terbuka menerima Mas Hisyam menjadi suaminya.
Aina mengangguk, Hisyam langsung ndusel-ndusel di lengan Aina. Aina mengusap-usap kepala suaminya dengan lembut.
Aina memiringkan tubuhnya juga. Hisyam terdiam, saat ini di depan matanya bukan lagi lengan Aina, tapi dada Aina, apa Aina sedang menggodanya? Hisyam melihat sesuatu yang membuat darahnya mendidih, rasanya mubadzir jika di diamkan, tapi badan tidak punya kekuatan untuk meraihnya. Situasi yang membagongkan.🤣
☘️ Bersambung☘️
.
.
.
.
.
Mas Hisyam : Tega banget kamu Thor, aku nggak berdaya tapi di suguhkan dua bukit indah
Author : Tinggal comot aja, nggak pake tenaga jg bsa lhoo🤣
__ADS_1