
Syaza melangkah lesu memasuki apartemennya. Dia melihat Anita sedang duduk di atas sofa sambil menonton kartun di siaran cartoon network. Sahabatnya ini memang gila menonton cerita kartun. Release tension, katanya. Syaza tersenyum mengingat kata-kata Anita itu.
"Assalamu'alaikum, Nita !" Syaza memberi salam sambil berjalan ke kamarnya. Dia ingin segera membersihkan tubuhnya yang lengket karena berkeringat semasa bermain skuasy tadi. Setelah keluar dari kamar mandi, dia memakai piyama. Dia segera manunaikkan sholat isya yang terlambat ditunaikan. Hampir sepuluh menit setelah itu, dia sudah duduk menghadap meja riasnya. Syaza menyapu krim malam ke mukanya. Dibelek-belek muka yang terpamer di cermin. Dia memiliki mata bundar berwarna coklat, bulu mata yang lentik dan lebat, hidung yang sedikit mancung, bibir yang sedikit merah dan pipi yang tembem. Anita selalu mengatakan dia menyembunyikan segala kecantikan wajah di balik penampilannya yang tomboi itu. Dan seperti biasa dia hanya tersenyum dengan kata-kata sahabatnya itu. Entahlah ? Dia sendiri tidak tahu sampai kapan dia akan berpenampilan seperti lelaki itu. Semenjak menginjak usia remaja hingga sekarang, rambutnya tidak pernah dibiarkan panjang. Selama ini dia nyaman dengan penampilannya. Dia mau laki-laki yang berkawan dengannya kerana sikap dan perangainya sekarang dan bukannya kerana kecantikan atau keseksian yang selalu ada pada seorang wanita.
Syaza membaringkan diri di atas kasurnya. Tangannya mengambil ponsel yang terletak di atas meja di tepi kasurnya. Nomor telepon Najwan ditekannya. Sore tadi dia sudah berjanji untuk menelepon lelaki itu untuk memberitahu akan persetujuannya dan Daniel untuk keluar bermain boling besok sore. Dia tahu sekarang ini sudah terlewat untuk dia memberitahu Najwan apabila matanya melihat waktu di ponselnya yang sudah menunjukkan pukul dua belas setengah. (Semoga si Naj belum tidur) hatinya berharap.
"Assalamu'alaikum !" Syaza memberi salam setelah suara lelaki itu kedengeran di corong teleponnya.
__ADS_1
"Maaf, aku mengganggumu di tengah malam. Kamu belum tidur, kan ?"
"Apa ! Ini sangat berisik ! Aku tidak bisa mendengar apa yang kamu katakan."
"Kamu dimana?"
"Hah ! Kamu di disko. pantas saja Sangat berisik."
__ADS_1
"Oke, aku tidak akan mengganggu kesenanganmu. Sampai jumpa besok. Sampai jumpa !"
Syaza memutuskan panggilan. Dia menyandarkan diri pada kepala ranjang.
* * *
Fikirannya menerawang jauh ke kampung halaman. Seperti apa kabar umi, Abah, Abang Ammar dan adik Ammir sekarang ? Dia begitu rindu kepada mereka semua. Sudah enam bulan dia tidak pulang ke rumah keluarganya di Bagan Serai. Umi selalu bertanya kapan dia akan pulang ke kampung melalui Ammir yang selalu meneleponnya.
__ADS_1
Hatinya begitu berat untuk pulang ke sana. Dia tahu jika dia berhadapan dengan umi, wanita yang disayanginya itu akan selalu mendesak agar dia menikah dengan anaknya pak Dhe Kamal, kakak dari lelaki yang dibencinya sampai sekarang. Kebenciannya dengan keluarga itu sebagaimana dia benci pada ayahnya. Baginya sikap dan watak seluruh keturunan lelaki itu sama saja. emosional dan suka memukul.
Walaupun umi sudah berkali-kali memberitahu soal sepupunya itu tidak seperti ayahnya, tetapi semua itu tidak dapat membujuk hatinya yang masih sakit dan dendam terhadap perbuatan ayahnya dulu. Masih terbayang-bayang di ruang matanya peristiwa yang terjadi delapan tahun lalu.