Cinta Syaza

Cinta Syaza
Episode 37


__ADS_3

"Naj, lagu ini adalah lagu favorit Daniel kan ? Kau ingat tidak waktu kita rayakan ulang tahun dia tahun kemarin, dia paling bersemangat waktu nyanyi lagu ini denganku," jelas Syaza sambil membenarkan tempat duduknya.


"Betul katamu, Syaz. Kawan kita satu itu memang minat sekali ke lagu ini. Aku lihat kau dengan dia seperti pasangan yang sedang jatuh cinta waktu nyanyi lagu ini. Sangat menyentuh hati !"


"Aku cuma menghayati lirik lagu saja, bukannya ada apa-apa."


"Yang benar saja."


Syaza melirik Najwan yang tersenyum simpul mengejeknya. Dia hanya membangunkan bibirnya.


Satu jam kemudian mereka sampai di rest area seperti yang dijanjikannya, Syaza mentraktir Najwan sarapan pagi. Mereka menikmati sarapan pagi sambil sedikit ngobrol-ngobrol.


#1 jam kemudian...


Mereka pun meneruskan kembali perjalanan setelah setengah jam berhenti istirahat. Lagu-lagu yang terdengar di radio menemani kesepian yang menguasai ruang dalam perjalanan mereka.


"Syaza, kau sudah ada rencana untuk memulai drama swasta kita sebentar lagi ?" Tanya Najwan dalam nada mengusik.


Syaza sedikit ketawa mendengar usikan Najwan itu. Najwan ikut serta tertawa melihat reaksi Syaza.


Setelah itu mereka kembali bicara cepat. Syaza mulai menceritakan semua kisah tentang keluarganya. Najwan hanya menganggukkan kepala dan sesekali mulutnya bertanya jika ada yang kurang faham.


Syaza menahan debar yang bertandang dalam hatinya ketika mereka Mendekati kota Bagan Serai.

__ADS_1


"Syaz, kita sudah sampai di kota Bagan Serai. Sekarang kau mau aku belok kanan, kiri atau lurus ?" Tanya Najwan sambil matanya melihat sekeliling persimpangan kecil itu.


"Kau belok kanan, setelah itu terus setir sampai di satu persimpangan dan setelah itu kau belok kiri." Syaza memberi arahan sambil tangannya menunjuk arah. Dia masih menahan debaran di dadanya.


"Syaz, kau bicara satu-satu, bisa tidak ? Aku sudah kebingungan ini ! Nanti kalau kita kelewatan sampai ke Pulau Pinang, bagaimana ?" Najwan berkata kesal lalu memberhentikan mobil di tepi jalan. Dia menoleh dan melihat gadis di sebelahnya itu kelihatan gelisah.


"Maaflah, Naj ! Sebenarnya aku sangat gugup. Kalau kau mau tahu, ini pertama kalinya aku bawa pria pulang bertemu keluargaku," jelas Syaza sambil tersenyum kecut pada Najwan yang memandang heran ke arahnya. Tiba-tiba pria itu ketawa terbahak-bahak. Syaza kesal dengan kelakuan Najwan.


"Syaz, kau ini lucu sekali ! Sepatutnya aku yang gugup sebab ini pertama kalinya mau ketemu 'calon mertua', tapi ini malah terbalik," ujar Najwan yang masih ketawa.


"Amboi, sombongnya !" Syaza berkata kesal lalu mencubit lengan Najwan. Dia ketawa melihat pria itu mengaduh sambil menggosok-gosok lengannya.


"Syaz, aku tak tahu selama ini kau punya seni bela diri kepiting. itu menyakiti lenganku." Najwan menyindirnya.


"Lain kali sombong lagi. Tapi tak apa, aku mau lihat sebagus apa sandiwaramu nanti. Jangan sampai umi aku syok yang bukan-bukan. Sekarang kau setir lagi mobilmu ini, nanti aku tunjukkan arahnya satu per satu."


"Dan yang paling penting, kau mesti ingat nama semua keluargaku," pesan Syaza lagi.


Najwan menganggukkan kepala tanda memahami semua kata-kata Syaza dan meneruskan setirannya. Dia mengikuti segala arahan dari Syaza. Akhirnya mereka sampai di depan sebuah rumah batu bercat putih kekuningan. Syaza keluar dari mobil sambil memandang ke arah rumah yang amat dirinduinya itu. Matanya melirik Najwan yang turut sama memandang ke arah rumahnya itu.


"Umi, kak Jaja sudah sampai !" Jeritan dari seorang remaja pria yang melongok di depan pintu membuat Syaza nyengir. Badannya mendekati Najwan yang sedang mengukirkan senyuman.


"Naj, sekarang kita akan mulai bersandiwara. Kau jangan berlebihan ya," Najwan nyengir mendengar bisikan Syaza di telinganya. Dia mengangguk perlahan tanda setuju.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, Mir ! Apa kabar adik kak Jaja ini ?" Tegur Syaza sambil mengulurkan tangannya pada adiknya yang sedang tersenyum.


"Wa'alaikum salam, Mir sehat ! Kak Jaja Siapa ini ? Pacar ya ?"


Najwan hanya tersenyum simpul mendengar kata-kata adik Syaza yang bernama Ammir. (Sepertinya ini adik tiri Syaza yang diceritakan padaku sewaktu dalam perjalanan kita tadi. Terlihat lebih matang dari usianya yang sebenarnya) kata hati Najwan.


"Mir ! Ini abang Najwan, teman kak Jaja. Naj ! Ini Ammir, adikku yang aku ceritakan padaku itu." Syaza melihat kedua lnya bersalaman sambil tersenyum.


"Sudah sampai rupanya anak umi ini ?" Suara dari sekujur tubuh yang muncul di depan pintu mengejutkan mereka.


Syaza tersenyum melihat wanita yang amat dirinduinya itu. Dia berjalan ke arah uminya lantas menyalami tangan dan memeluk wanita itu.


Najwan hanya memerhatikan gelagat kedua ibu dan anak itu meluahkan kerinduan mereka. Dia menahan debar di dada menunggu untuk diperkenalkan pada umi Syaza.


"Ehem... Kak Jaja ! Kaka Jaja sudah lupa dengan abang Najwan ya ? Kasihan dia ! Menunggu di ujung mobil !" Teguran Ammir di belakangnya membuat Syaza tersadar. Dia tersenyum pada umi lalu berpaling berjalan ke arah Najwan yang berdiri kaku memandangnya.


"Naj, mari aku kenalkan kau dengan umiku. Ingat, sandiwaramu nanti jangan berlebihan !" Najwan nyengir mendengar ancaman dari gadis itu. Dia mengikuti langkah Syaza menghampiri wanita tua yang sedang memandang mereka.


"Umi, ini teman Jaja yang Jaja kabarkan ke umi dalam telepon hari itu. Nama dia Aizad Najwan !"


"Apa kabar, Bibi ?" Ucap Najwan lembut sambil menunduk menyalami tangan dan mencium tangan wanita itu dengan penuh sopan. Dari lirikan matanya dia merasa Syaza tersenyum sinis melihat perbuatannya.


"Bibi baik-baik saja ! Mari masuk, Najwan ! Kalian berdua pasti sudah lelah perjalanan jauh itu," sambut Hajah Hawa. Pertama kali bertemu dia dapat merasakan pemuda itu memang sesuai untuk anaknya itu.

__ADS_1


Najwan melangkah masuk ke dalam rumah sambil melihat ke sekeliling ruang dalam rumah itu. Walaupun perabot dan hiasannya bukanlah dari barang-barang import seperti yang ada di Bungalow keluarganya, tapi dia cantik di mata.


"Najwan duduklah dulu. Maaflah ! Rumah kami ini biasa saja. Bibi pergi ke dapur dulu ya ! Ada sedikit kerja belum selesai di belakang," ujar Hajah Hawa lembut sambil berjalan ke dapur. Dia merasa mata pemuda itu meliar memandang ke sekeliling sewaktu awal-awal masuk ke dalam rumahnya. Dipandangnya pemuda yang bernama Aizad Najwan itu dari kejauhan. (Apa Dia anak orang berada ?) Fikir hatinya.


__ADS_2