
Syaza melangkah ke kantornya pagi itu dengan wajah yang lesu. Dia hanya dapat melelapkan mata pada pukul 3 karena mencari kata-kata yang sesuai untuk diucapkan pada Najwan ketika mereka bertemu nanti. Sewaktu dalam perjalanan tadi dia sudah menghubungi pria itu untuk membuat janji temu mereka dan kebetulan Najwan memang ingin mengajaknya keluar makan karena sejak permainan bowling antara mereka dulu, pria itu belum berkesempatan untuk mentraktirnya makan.
"Pagi, Syaz ! Mari temani aku pergi sarapan," ajak Daniel yang tiba-tiba duduk di depan mejanya. Syaza mengangguk lalu melangkah beriringan dengan pria itu menuju ke lift.
"Daniel, kamu pergi kemana cuti dua hari kemarin ? Kamu tahu ? Aku benar-benar sunyi waktu kamu tidak ada ! Biasanya kamulah tempatku melepaskan beban apabila ada masalah dalam kerja," kata Syaza sambil menyuap nasi uduk berlauk sambal sotong kesukaannya.
"Kalau kamu merasa sunyi dengan ketiadaanku, aku juga setiap saat merindukan wajah dan suaramu itu," Daniel membalasnya sambil menyedot teh tariknya.
Syaza tersedak dengan tiba-tiba lalu segera mengambil es Milo lalu menyedotnya cepat. Dia melihat Daniel tertawa melihatnya. Pipinya sudah merah karena malu.
"Kamu ini ya, pandai sekali dalam bab-bab mengusik orang. Karena itulah kataku tadi waktu kamu tak ada, aku merasa sunyi sekali," ucap Syaza menyembunyikan segannya.
"Mari kembali ke kantor ! Sudah mendekati pukul 9 ini. Hari ini biar aku traktir kamu." Syaza melambaikan tangannya pada pegawai kedai itu lalu membayar makanan dan minuman yang mereka makan tadi. Daniel terpaksa membiarkan Syaza membayar karena gadis itu sudah mengulurkan uangnya sebelum sempat dia mengeluarkan uang.
Syaza melihat jam di pergelangan tangannya. Lega rasanya hati karena hari ini dia bisa menghabiskan waktunya di kantor saja. Dia sibuk memeriksa laporan menit meeting yang diadakan kemarin. Semenjak pagi tadi Arif tidak menegurnya. Syaza merasa pria itu hanya duduk di dalam ruangannya.
"Hoi, mood Tuan arif tidak baik hari ini ! Aku kena marah dia tadi waktu aku memberikan dia laporan penjualan."
"Aku juga kena marah, dia bilang aku terlalu menyepelekan tugasku. Surat yang disuruh cepat kirim tapi terlambat sampai katanya."
"Dia kerasukan setan kayaknya !"
"Aku juga merasa seperti itu, lawak antar bangsa."
Syaza ikut ketawa mendengar kata-kata teman kerjanya yang bicara sesama mereka. Banyak hal mereka mengutuk Tuan Arif tapi hanya di belakang mereka berani mengutuk. Kalau di depan, melempem.
Kakinya berjalan ke mushola yang ada di belakang kantor untuk menunaikan sholat Dzuhur serta mengistirahatkan dirinya sekalian. Perutnya yang masih kenyang membuat dia menolak ajakan Daniel untuk keluar makan siang bersama.
"Ya ampun, enaknya dia istirahat di sini. Tauan Arif kamu itu sedang mengamuk di dalam kantor sekarang ! Semua orang terkejut. Kamu kan asisten dia, cepat pergi tengok !" Syaza yang baru saja terlelap setelah selesai menunaikan sholat Dzuhur terengah-engah ketika bahunya ditepuk kuat. Dia terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Amira. (Tuan Arif mengamuk ? Seperti tidak percaya !) Desis hatinya. Dia bergegas keluar dari mushola itu.
__ADS_1
"Mana Syaza ? Saya suruh kamu cari dia, kan ? Sudah habis waktu istirahat siang masih belum kembali ke kantor juga ! Dia kira kantor ini milik ibu bapaknya ? Kalau dia kembali nanti suruh dia menemuimu. Faham !"
Syaza berdiri di balik dinding yang memisahkan ruang kantor dengan kantin. Dia terkejut ketika mendengar kata-kata yang keluar dari mulut bosnya itu. Dia bersembunyi di situ sambil menunggu pria itu masuk ke ruangannya lagi.
"Hah, muncul juga kamu akhirnya ! Kita semua di sini kena marah... Semuanya karena kamu. Sekarang kamu pergi menghadap si singa jantan itu ! Berdoalah supaya kamu tidak ditelan olehnya," Aliah menyindirnya. Syaza merasa semua yang ada disitu memandangnya dengan pandangan kesal. Dia berjalan perlahan menuju ke ruangan bosnya itu. Tangannya mengetuk pintu ruangan tersebut dengan pelan-pelan.
"Masuk !" Jantungnya terasa berdegup kencang mendengar arahan dari suara kasar pria itu.
"Tuan Arif, kata Aliah anda mau ketemu saya ?" Tanya Syaza berhati-hati. Dia merasa pria itu berwajah serius sambil meneliti file di depannya.
"Kamu tahu, Syaza ! Karena kesalahanmu kita sudah melewatkan satu proyek besar !" Syaza terkejut dengan bentakan bosnya itu. Selama dia bekerja sebagai asisten priabdi dari Arif, inilah pertama kalinya dia dibentak sangat kasar.
"Apa kesalahan saya, Tuan Arif ? Proyek yang mana ?" Tanya Syaza perlahan.
"Masih muda tapi sudah pikun ? Kamu lihat sendiri apa yang kamu tulis dalam file ini !" Kata Arif sambil melempar file ke arah gadis di depannya itu.
"Kenapa kamu tulis harga lain dari yang aku suruh ? Kerja gampang seperti itu malah ceroboh. Ini asisten yang mamaku puji itu ?" Syaza menahan hati dengan sindiran pria itu.
"Saya tulis seperti yang anda tulis di kertas yang anda berikan pada saya waktu itu, Tuan Arif ?" Ucap Syaza membela dirinya. Dia tahu dia tidak salah karena dia hanya mengikuti apa yang pria itu tulis dan arahkan.
"Maksudmu, ini semua salahku ? Apa maksudmu, Syaza !" Arif membentak. Hatinya panas dengan kata-kata gadis itu.
"Saya akan tunjukkan kertas yang anda kasih ke saya itu kalau anda tidak percaya, Tuan Arif. Tunggu sebentar !"
Syaza bergegas keluar. Diambilnya selembar kertas yang tersimpan rapi di dalam file yang bertuliskan "private adn confidential". Syaza duduk seketika di kursi sambil memegang dahi yang berdenyut kuat. Tangannya meraba dahi yang terasa sedikit pusing. Kepalanya tiba-tiba pusing lalu dia segera mencari minyak angin yang terletak di dalam tas.
"Mana minyak ini ?" Syaza mengomel perlahan. Sambil menahan sakit di kepala, Syaza kembali ke ruangan bosnya sambil membawa kertas yang penting itu.
"Ini dia kertasnya, Tuan Arif !"
__ADS_1
Arif meneliti kertas yang diberikan oleh Syaza. (Ya Allah ! Rupanya kesalahanku !) Arif mengeluh dalam hati.
"Tuan Arif, apakah saya boleh keluar sekarang ? Ada banyak kerja menunggu di luar itu. Kalau tidak diselesaikan nanti kena marah lagi. Iya lah... Kantor ini bukan punya ibu bapak saya," Syaza berkata sambil keluar dari situ. Kepalanya yang sakit tadi semakin kuat berdenyut. Tanganny memijit perlahan kepala yang terasa sakit sambil berjalan cepat ke kamar mandi. Dia ingin melihat sebesar apa luka yang ada di dahinya.
Arif terkesima mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Syaza tadi. Dia merasa gadis itu asyik memegang dahinya waktu masuk ke ruangannya untuk kedua kalinya. Wajah gadis itu kelihatannya berkerut-kerut dan nampak pucat.
"Hah ! File yang aku lempar tadi apa kena dahi dia ? Sepertinya luka dahi dia tadi ?" Arif menebak-nebak sendiri. Arif terus melangkah keluar dari ruangannya. Syaza tidak ada di tempat duduknya.
"Aliah, Syaza ke mana ?" Tanyanya pada gadis penyambut tamu itu yang sedang memandangnya dengan pandangan cemas. Ingin sekali Arif menenangkan rasa takut Aliah kepadanya setelah semua orang dibentaknya tadi, tapi itu semua tersangkut di tenggorokannya.
"Dia ke belakang, Tuan Arif. Ke toilet sepertinya ?" Jelas gadis itu takut sambil memandangnya heran.
Perasaan ingin tahu apa yang terjadi dengan Syaza membuat Arif berjalan cepat ke belakang. Waktu dia melintasi kantin, dia melihat Syaza sedang meletakkan sesuatu pada dahinya. Arif berhenti dibalik pintu sambil melihat perlakuan gadis itu. Sesekali dia mendengar Syaza mengaduh kecil ketika meletakkan benda yang dipegangnya ke dahi. Arif sangat terkejut ketika gadis itu menunduk.
"Ya Allah, apa yang sudah kulakukan ?" Dia mengeluh kesal. Karena kesalahannya sendiri, gadis itu menjadi mangsa amarahnya.
"Syaza... Saya minta maaf. Saya tak bermaksud membuatmu seperti ini !" Teguran dari pria yang muncul secara tiba-tiba di belakangnya membuat Syaza terkejut. Dia keberata untuk berbalik ke arah suara itu karena dia tidak mau pria itu melihat luka kecil yang ada di dahinya.
"Mari saya antar ke klinik. Luka ini harus di obati, kalau dibiarkan akan bengkak nanti. Nanti semakin memburuk," bujuk Arif sambil membalikkan badan Syaza supaya menghadapnya. Dia merasa gadis itu menolak dari memandangnya.
Arif menyilak helaian rambut yang menutupi luka di dahi Syaza itu. Perasaan kesal dan bersalah muncul bertubi-tubi ketika melihat kesan dari perbuatan kasarnya terhadap hadis itu.
"Saya tunggu kamu di bawah. Kita pergi ke klinik. Kamu jangan membantah. Cepat sedikit ya !" Arif berjalan meninggalkan Syaza yang tercengang mendengar arahannya.
Syaza menutup lukanya itu dengan rambutnya. Dia terpaksa mengikuti arahan bosnya karena pria itu sudah menunggunya di lantai bawah.
Arif melirik gadis yang duduk di sebelahnya. Sepanjang perjalanan pulang dari klinik, mereka hanya berdiam diri. Arif tahu dia bersalah dan dia sudah berulang kali meminta maaf pada gadis itu, tapi Syaza hanya membisu seribu bahasa. Dia bersyukur karena luka di dahi Syaza tidak akan meninggalkan bekas seperti yang diberitahukan oleh dokter di klinik tadi. Dia tahu jika itu terjadi, dia tentu tidak akan tenang sepanjanga hidupnya.
"Tuan Arif, anda tidak perlu risau ! Saya takkan memberitahu siapapun apa yang terjadi tadi," Syaza bersuara perlahan waktu mereka berjalan beriringan keluar dari lift. Syaza merasa semua mata memandangi mereka dengan tanda tanya. Dia berjalan menuju ke mejanya, sementara Arif melangkah terus memasuki ruangannya.
__ADS_1