
Syaza berjalan lesu ke ruang tamu. Matanya melirik Anita yang sedang asyik melihat adegan romantis antara Hero dengan heroin film Maid In Manhattan itu. Dengan malas dia melabuhkan punggungnya di sebelah Anita. Sesekali keluhan kecil keluar dari bibirnya yang merah alami itu.
Anita yang duduk di sebelahnya geran mendengar keluhan sahabatnya itu. Dari ekor matanya dia melihat Syaza berkerut-kerut.
"Kenapa ini, Syaz ? Ada masalah di kampung ?"
"Bukan masalah di kampung tapi aku yang ada masalah sekarang !"
"Kamu cerita padaku ? Siapa tahu, aku bisa tolong."
"Kalau kamu dengar masalah aku, tentu kamu juga ikut pusing seperti aku sekarang."
"Kamu harus cerita dulu padaku."
Dengan terbata-bata Syaza menceritakan semua yang dia bicarakan dengan umi melalui telepon dan juga cerita bohongnya. Dia kesal ketika melihat sahabatnya ketawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Syaz, masalahmu tidaklah besar. Kamu mau dengar saranku ?" Anita bersuara setelah tawanya selesai.
"Kamu jangan bercanda, Nita ! Masalahku ini berat, kamu tahu ?"
"Kamu dengar dulu saranku, setelah itu fikirkan mau mengikutinya apa tidak."
"Oke ! Sekarang silahkan kemukakan saran anda, Kak Anita Nordin !"
"Kamu mintalah tolong teman-teman priamu berakting jadi pacarmu. Selesai !" Kata Anita sambil tersenyum.
"Kamu harus pilih salah satu dari mereka... Setelah itu kamu beritahu kalau kamu perlu bantuan. Tapi siapa tiga orang pria yang akrab denganmu ? Apa aku kenal mereka ?"
"Aku akrab dengan Najwan dan Daniel, kamu kenalkan dengan mereka berdua ?" Tanya Syaza. Anita mengangguk.
"Dan satu lagi bos baru ku, Tuan Arif. Aku baru akrab dengannya dua bulan belakangan ini karena aku jadi asisten pribadinya," jelas Syaza.
__ADS_1
"Kalau kamu pilih Daniel, pasti umi awal-awal sudah tidak setuju karena dia bukan muslim. Bosmu juga, aku tidak kenal tapi aku rasa kamu tak boleh minta tolong dia sebab pertama, dia bosmu. Kedua, kamu baru kenal dia dan dia juga baru mengenalmu. Nanti ada masalah baru lagi."
"Jadi, kamu rasa aku harus pilih Najwan ? Itu maksudmu ?" Tanya Syaza setelah mendengar penjelasan yang diberikan Anita.
"Ya ! Pasti umi kamu akan suka dengan dia. Dia punya pekerjaan yang baik. Tampan juga ! Kamu bayangkan ketika bibirnya yang seksi itu mengukirkan senyuman... Aduh, bisa melelehkan hati wanita ! Belum badannya yang tegap... Machonya !"
"Hoi, terlalu banyak memuji dia ! Sadar dirilah sedikit, kamu kan sudah tunangan. Puji si Najwan sampai segitunya. Melambung tinggi aku. Genit sekali ! Kalau si Kamil dengar ini, mesti akan perang," kata Syaza lalu melemparkan bantal sofa ke arah sahabatnya itu.
"Eleh... Bukannya senang. Kenapa ? Kamu cemburu ya ? Aku kira tomboi sepertimu ini, tak ada perasaan apa-apa ke pria itu, rupa-rupanya..." Anita berlari cepat memasuki kamar tidurnya ketika melihat Syaza ingin menangkapnya.
"Syaz, kalau kamu dengan Naj itu benar-benar jadi suami istri apa salahnya, kan ? Kamu berdua juga sama-sama jomblo. Aku harap mulutku ini Masin. Siapa tahu aku akan jadi pengiringmu suatu hari nanti. Atau kamu dulu yang nikah." Syaza mendengar Anita berkata dengan suara keras dari dalam kamarnya sambil ketawa.
Syaza tersenyum sendiri dengan kata-kata Anita. (Aku dengan Najwan jadi suami istri. Lucu sekali. Kalau benar, menangis tak berlagulah si Melinda yang suka berpura-pura itu, kalau pacarnya yang tampan di tikung gadis tomboi) Syaza tersenyum sendiri ketika membayangkan usikan Anita tadi.
Dia mematikan tv dan lampu di ruang tamu lalu bangun dan berjalan menuju ke kamar tidurnya. Dia men-set alarm pada ponselnya dan menutup lampu kamar. Dipejamkan matanya untuk tidur tapi tidak juga berhasil. Hampir 15 menit dia seperti itu. Kemudian dia bangun bersandar pada kepala kasur. Matanya yang masih segar merenung kegelapan malam. Kepalanya memikirkan kembali saran Anita tadi.
__ADS_1