Cinta Syaza

Cinta Syaza
Episode 28


__ADS_3

Dia menyandarkan badan pada kursi sambil memejamkan matanya. Dia hampir terlelap sebelum dikagetkan dengan deringan ponselnya. Bibirnya menjawab panggilan itu tanpa melihat siap pemanggilnya.


"Halo !"


"Elaine ! Aku baik-baik saja !"


"Kamu ingin aku menemanimu ke pesta malam ini ?"


"Aku minta maaf, Elaine ! Aku tidak bisa. Aku ada urusan lain."


"Akan aku telepon kamu nanti. Sampai jumpa !"


Daniel cepat-cepat memutuskan panggilan sebelum Elaine mulai merayunya. Dia malas melayani wanita itu lagi. Sudah berulang kali dia coba mengelak panggilan wanita itu, Elaine masih juga meneleponnya.


Daniel memasuki mobilnya. Dia mengambil ponsel lalu menekan nomor telepon Syaza.


"Halo, Syaz ! Gimana kabarmu ?" Daniel bersuara gembira setelah mendengar suara gadis yang sudah satu hari tidak ditemuinya itu.


"Kamu tidak menjawab panggilanku siang tadi ?"


"Kamu sedang tidur waktu itu ?"


"Terus, gimana keadaanmu sekarang ?"


"Okelah, aku tak mau mengganggu istirahatmu, sampai jumpa besok di kantor kalau kamu sudah sehat. Jangan lupa minum obat. Sampai jumpa !"


Daniel merenung ponselnya setelah selesai bicara dengan Syaza. Dia memakai kacamata hitamnya. Pada saat itu terbayang di ruang matanya kata-kata Syaza waktu gadis itu menemaninya membeli kacamata hitam tersebut.


*FLASHBACK ON


"Daniel, aku rasa tak perlulah kamu beli kacamata hitam ini. Sayanglah, mata kamu yang seksi itu kamu mau sembunyikan. Kamu tahu tidak, aku rasa banyak gadis terpikat padanya sebab matamu yang seksi itu," kata Syaza sambil memilih-milih kacamata di depannya.

__ADS_1


"Oh ! Jadi kamu pun terpikat juga padaku sebab mataku ini. Benarkan ?" Dia mengusik Syaza. Dia melihat gadis itu terdiam.


"Lihat, kamu tersipu !"


"Mana ada ? Kamu ini pandai sekali membuat cerita."


Daniel terkekeh mendengar kata-kata Syaza itu.


"Syaz, sebenarnya matamu yang lebih cantik daripada mataku... Dan aku rasa matamu yang cantik itu lebih cantik kalau kamu tidak pakai kacamata," dia berkata sambil mencoba kacamata hitam yang dipilihnya.


"Aku kan rabun. Kalau tak pakai kacamata nanti aku tidak melihat berjalan, aku masuk lubang. Itu baru aku jalan kaki, kalau aku nyetir bagaimanalah jadinya ?"


"Kamu kan bisa gunakan kontak lensa. Sekarang kan tern orang pakai benda itu. Kamu mau pakai warna apa... Semuanya ada."


"Bukannya aku tak mau, tapi aku tak suka dengan cara pakainya yang ribet itu. Belum lagi soal penjagaannya."


Daniel yang kebetulan membalikkan wajahnya untuk melihat kacamata yang sedang dicoba oleh Syaza terpaku memandang mata gadis itu yang kebetulan sedang Buka kacamatanya.


*FLASHBACK OFF


Daniel tersenyum sendiri mengingat peristiwa itu. Dia segera menyetir mobilnya keluar dari kawasan tersebut. Hasratnya untuk pergi apartemen Syaza dibatalkan saja setelah dia dapat berbicara dengan gadis itu tadi. Hatinya merasa lega karena keadaan gadis itu tidaklah separah yang disangkanya. Tapi dia masih bertanya-tanya tentang Cedera di dahi Syaza semalam. Mungkinkah itu salah satu sebab Syaza tidak bisa masuk kerja pada hari ini ? Tidak sabar dia menunggu Syaza sehat kembali untuk mengetahui apa yang telah terjadi pada dahi gadis itu semalam.


Syaza menyuap nasi uduk perlahan-lahan. Sesekali matanya memandang jalan raya yang sedang sibuk dengan kendaraan yang buru-buru untuk sampai ke tujuan masing-masing. Dia bernasib baik hari ini karena Anita mau mengantarnya ke tempat kerja. Sahabatnya itu dengan rela hati mau berbuat demikian karena masih risau dengan keadaannya yang masih belum sehat sepenuhnya. Secara kebetulan gadis itu bercuti hari ini.


Dia mengelap dahi yang berkeringat setelah selesai menghabiskan nasi uduk dan es Milo kesukaaannya itu. Syaza pergi dari kedai tersebut setelah selesai membayar harga makanannya. Langkah kakinya diatur pantas menuju ke bangunan selebas tingakat temoat terletaknya Prima Holdings Company, Yang menjadi Sumber rezekinya selama dua tahun ini.


Arif melabuhkan punggungnya di atas kursi. Keresahan yang mencekam jiwanya semalam semakin berangsur hilang. Teringat dia akan kata-kata mamanya tadi malam.


"Arif, tadi siang mama pergi ke rumah Syaza !" Kata Ny. Maznah sambil matanya menatap berita yang di siarkan di televisi.


Dia yang turut sama menonton tv terkejut dengan penjelasan mamanya itu. Direnung wajah mamanya dengan pandangan yang tidak percaya.

__ADS_1


"Apa benar apa yang mama katakan ini ?" Soal Arif tidak percaya. Namun, anggukan kepala mamanya membuktikan segala kata-kata wanita itu benar.


"Masalah Arif itu mama sudah tolong selesaikan."


"Dia baik-baik saja, mama ? Luka di dahi dia itu bagaimana ?"


"Luka di dahi dia sudah sedikit membaik, tapi muka dia mama lihat masih sedikit pucat. Dia demam terkejut kayaknya lihat Arif yang seperti singa lapar itu." Ny. Maznah tersenyum.


"Mama ini sudahlah ! Bukannya arif sengaja mau buat seperti itu !" Arif merebahkan diri di atas sofa.


"Terus, Syaza sudah memaafkan Arif ya ?"


"Sepertinya ! Nanti kalau dia sudah masuk kerja, Arif harus minta maaf dengan dia sendiri."


"Excuse me, Tuan arif !"


Arif tersentak dari lamunannya. Dia melihat Aliah sedang berdiri di depan mejanya.


"Kenapa kamu masuk tak ketuk pintu dulu ? Sudah tak punya tangan untuk ketuk pintu ?" Arif menegur dalam nada serius untuk menyembunyikan rasa malunya karena gadis itu melihat dia masih sempat melamun waktu sedang bekerja.


"Saya sudah ketuk berapa kali tapi Tuan Arif yang tidak dengar. Saya masuk sebab lihat pintu ruangan terbuka sedikit. Saya minta maaf, Tuan Arif."


"Tak mengapalah ! Mana file yang saya minta tadi ?" Tanya arif sambil memandang wajah Aliah.


"Ini filenya ! Kalau tak ada apa-apa lagi, saya permisi dulu."


"Terima kasih, Aliah !"


"Err... Aliah, Syaza masuk kerja tidak hari ini ?" Tanya arif lagi pada gadis itu. Dia melihat Aliah menganggukkan kepalanya sebelum menghilang di balik pintu.


Arif tersenyum sendiri. Hatinya senang karena Syaza sudah sehat dan kembali kerja. Arif menyandarkan badannya pada kursi sambil otaknya berpikir keras memikirkan cara untuk berbaikan dengan gadis itu.

__ADS_1


"Yes ! Aku sudah dapat satu ide," Arif berbisik pada dirinya sendiri. Bibirnya mengukirkan senyuman memikirkan ide yang datang secara spontan itu. Dia berharap semoga idenya itu akan berhasil nanti.


__ADS_2