
Syaza tersenyum tipis lantas mulai bercerita. Hampir setengah jam dia menceritakan semuanya. Anita menghapus air mata yang bergenang. Barulah dia tahu kini kenapa sahabat di hadapannya bersikap seperti lelaki. Kasar dan tidak lembut seperti dia dan gadis-gadis lain. Rupa-rupanya Syaza banyak menyimpan kenangan pahit di usia remajanya.
"Kamu sudah dengar semua ceritaku, kan ? Jadi tentu kamu tahu kenapa hatiku ini berat untuk menjenguk umi di kampung. Aku tidak bisa melupakan apa yang ayahku lakukan dulu."
"Aku faham, Syaz. Kamu bilang kamu rindu umi, kan ? So, kamu harus selesaikan masalah ini. Kalau kamu tidak setuju dengan usulan umi kamu, bicara saja padanya kalau kamu sudah ada pilihan sendiri. Mesti dia tidak memaksamu lagi."
"Kamu kira umi akan percaya apa yang aku bilang, watakku yang seperti lelaki siapakah yang mau."
"Kamu cobalah dulu ! Masa kamu membiarkan masalah ini berlarut-larut sampai mengganggu hubunganmu dengan umi. Syaz, err... Boleh aku tanya sedikit ? Aku harap kamu tidak marah dengan pertanyaanku ini."
"Nita, tanyakanlah. Untuk apa aku marah kalau kamu sekedar bertanya."
"Kemana ayah kamu sekarang ? Dia pernah mencarimu tidak setelah bercerai dengan umimu delapan tahun lalu ?"
"Lelaki itu ? Aku benci jika ingat kalau dia adalah ayahku. Perasaan dendam masih membekas di hatiku sampai sekarang. Kalau diberi pilihan, aku akan pilih Abah daripada pilih lelaki kejam itu. Malah, aku sangat bersyukur waktu dia menceraikan umi," kata Syaza lagi. Dia perasan Anita memandangnya heran.
__ADS_1
"So, sampai sekarang dia tak pernah mencari kamu dan umi ?"
"Kami pernah bertemu dia tapi..."
"Tapi apa, Syaz ? Dia masih suka memukul seperti dulu ?" Tanya Anita tidak sabar tanpa menunggu Syaza menghabiskan kata-katanya dulu.
"Kamu ini. Aku belum selesai bicara juga... Kenapa kamu memotongnya."
"Sorry ! Lanjutkan lagi ceritamu tadi."
"Eh, kamu tidak boleh bicara seperti itu ! Walaupun ayahmu itu kejam terhadap kamu dan umi, tapi dia kan wali kamu. Nanti kalau kamu mau menikah harus cari dia juga."
"Helo... Helo... Kak Nita ! Aku kan belum selesai cerita. Kamu memotongnya lagi ini, kenapa ?"
Anita tertawa kecil lantas mengangkat tangan meminta maaf. Dia merasa Syaza melirik tajam ke arahnya.
__ADS_1
"Rupa-rupanya, lelaki yang aku benci itu mau bertemu dengan kami untuk terakhir kalinya sebelum dia menjalani hukuman gantung karena membunuh temannya. Dia mau minta maaf atas kesalahan yang pernah dia lakukan terhadap kami dulu. Tapi, cuma umi yang pergi menemuinya sebab aku tidak mau ketemu dia dan memaafkan segala kesalahannya. Walaupun umi memujukku untuk melupakan semua peristiwa pahit dulu dan bertemu untuk terakhir kalinya, namun rasa sayangku sudah tiada lagi untuk seorang lelaki yang bergelar ayahku itu."
"Aku simpati kepada kamu, Syaza. Maaf karena membuatmu mengungkit segala kisah pahitmu dulu. Aku harap suatu saat nanti, hatimu yang terluka itu akan disembuhkan oleh lelaki dan aku harap pangeranmu itu akan mengubah sifat tomboimu ini."
"Ya ampun, sudah bicara sampai kesitu juga ! Belum tidur tapi sudah mengigau."
"Semoga mulutku ini Masin. Okelah, Syaz... Mataku pun sudah mengantuk. Aku pergi dulu."
"Thanks, Nita... Sebab mau dengar ceritaku yang membosankan tadi. Aku akan fikirkan cadanganmu itu." Kata Syaza kepada sahabatnya itu.
"Tak usah berterima kasih, apa gunanya teman baik jika tak sanggup mendengar masalah sahabatnya," Anita berkata lembut sambil melangkah keluar dari kamar itu.
Syaza mengambil foto keluarganya yang terletak di atas meja. Matanya melihat sayu gambar umi yang sedang tersenyum memeluknya di samping Abah, Abang Ammar, dan adik Ammir.
"Umi, anakmu ini akan pulang juga tidak lama lagi," Syaza berkata perlahan sambil memeluk gambar tersebut. Dan malam itu tidurnya ditemani mimpi indah bersama umi tersayang.
__ADS_1