
Najwan melihat gadis itu menyedok nasi uduk dan memasukkan sambal ikan bilis ke piringnya. (Seperti layanan Istri terhadap suaminya juga si Syaz layani aku ini ! Sekarang sandiwaraku yang berlebihan atau sandiwara dia yang keluar dari skrip ?) Najwan berkata dalam hati sambil meneguk kopi.
Setelah selesai sarapan, Najwan mengikuti Ammir berjalan-jalan di sekitar kampung itu. Dia gembira dan senang ketika melihat kebanyakan penduduk kampung itu menyapanya dengan ramah walaupun ini pertama kalinya dia menginjakkan kakinya ke kampung yang asing itu. Kadangkala dia malu sendiri ketika Ammir memperkenalkan dirinya sebagai calon Abang ipar.
* * * * * * #syaza pov...
Sesekali Syaza mengaduk gulai kerang ikan keli yang mendidih di atas panci sambil menumbuk parutan kelapa campur cabe rawit dan udang kering untuk membuat kerapu pucuk ubi tanpa menyadari Najwan yang sedang menghampirinya.
__ADS_1
"Hai ! Boleh aku membantumu ?" Sapa Najwan ketika melihat Syaza terkejut akan kehadirannya di dapur.
"Tak mengapa... Sudah mau selesai juga. Kau pergilah duduk di depan. Tak enak juga nanti ketika orang lihat kita berduaan di dapur. Kebetulan umi tak ada di rumah sekarang."
"Aku bosanlah duduk di depan sendirian. Kalau di sini bisa sambil melihat seorang gadis tomboi menunjukkan kemahirannya dalam bidang memasak untuk 'calon suaminya'."
Siang hari itu dia, Najwan dan adiknya, Ammir yang makan bersama-sama. Matanya sesekali melirik ke arah Najwan yang sedang menyuap nasi. Lucu juga dia melihat pria itu yang malu-malu kucing ketika memintanya untuk menambah nasi untuk kedua kalinya. (Baru tahu kau betapa seramnya aku memasak. Dikira tomboi sepertiku ini tak pandai memasaka ya ?) Hatinya puas.
__ADS_1
Najwan tidak menyangka kalau Syaza pandai memasak. Karena itu, dia terpaksa menahan malu untuk meminta Syaza menambahkan nasinya untuk ketiga kali. Dia merasa Syaza tersenyum sinis setelah dia menghabiskan nasinya.
Setelah makan siang, Najwan mengistirahatkan diri di atas sofa ruang tamu. Dia mulai memgingat kembali semua sikap Syaza yang ditunjukkannya waktu mereka di kampung ini. Panggilan manjanya Jaja. Lembut dan manja ketika bersama keluarganya. Pandai memasak. Melayaninya dengan begitu baik. Dan untuk pertama kalinya dia melihat gadis itu begitu ayu dan manis dengan baju kurung Kedah berkain batik. Tapi, yang membuat hatinya begetar ketika melihat sopan dan lembutnya Syaza dengan mukenanya pagi tadi. Sejuk matanya memandang.
"Ah ! Kalau sedikit lama lagi aku disini, pasti hatiku bisa terpikat padanya," Najwan berbisik sendiri.
Terasa cepat waktu berlalu ketika kesenangan senantiasa disekeliling. Najwan melirik Syaza yang duduk di sebelahnya. (Ayunya dia ketika berbaju kurung seperti ini). Desis hatinya sambil menumpukkan perhatian pada setirannya.
__ADS_1
Sepertinya kalau tidak ada acara tahlilan yang berlangsung di rumah nenek guru Syaza tadi, dia tentu tidak akan dapat melihat gadis itu berpakaian baju kurung besertakan selendang yang menutupi rambut pendeknya itu. Najwan tersenyum sendiri apabila teringat kata-kata nenek tiri Syaza waktu mereka ngobrol-ngobrol untuk sebentar sebelum dia dan Syaza pamitan pulang ke Kuala Lumpur.