
"Syaza, tunggu sebentar !"
"Kita berteman kembali ?" Tanya Arif yang sudah berdiri di sebelahnya. Arif menutup pintu ruangan kembali. (Apa yang dia lakukan ?) Syaza jadi gemetar tiba-tiba.
"Kapan aku bilang aku tak mau berteman denganmu. Kamu yang salah ang..." Kata-kata Syaza terhenti apabila Arif memegang tangannya tiba-tiba. Badan pria itu kian dekat dengannya. Syaza merasa jantungnya berdegup kencang seolah-olah baru selesai lari seratus meter.
"Terima kasih karena Sudi memaafkanku dan Sudi menerimaku kembali sebagai sahabatmu," ucap Arif sambil mengecup tangan Syaza. Tangan gadis itu dirasakannya gemetaran.
Syaza terkesima dengan perbuatan Arif yang tidak disangkanya itu. Dengan spontan dia menarik tangannya kembali. Wajahnya sudah merah merona karena menahan kesal. Dia merasa Arif tersenyum memandangnya. Syaza segera membuka pintu lalu berjalan cepat ke mejanya tanpa menoleh ke belakang.
Arif sedikit tersenyum mengingat gelagatnya tadi. Dia tidak menyangka kalau dia bisa jadi seberani itu. Untungnya Syaza tidak mengamuk dan menamparnya. Kalau tidak gawat jadinya. Tidak pasal-pasal timbul kontroversi, dia melakukan pelecehan seksual terhadap pekerjanya. Namun, Arif merasa raut wajah Syaza yang terkejut dan kesal dengan perbuatannya.
Syaza melabuhkan punggungnya di atas kursi. Dia masih mengelap tangannya yang dikecup oleh Arif tadi dengan tisu. Terbayang-bayang kembali peristiwa dia dan Arif melintas jalan dulu.
"Hai ! Kelihatannya sangat jauh melamun ? Aku yang berdiri di sebelah pun tak kelihatan." Syaza memandang pria yang berdiri di sebelahnya itu. Matanya melirik kesal pada Najwan yang sedang tersenyum sini. (Patutlah waktu keluar dari ruangan Tuan arif tadi hidung aku mencium bau parfum CK di ruang kantor, rupa-rupanya manusia ini yang datang) kata hati Syaza.
__ADS_1
"Kapan kamu datang ?"
"Waktu kamu di dalam ruangan bosmu tadi. Sebenarnya aku ada sedikit hal mau ketemu Ny. Maznah," jelas Najwan sambil menarik kursi lalu duduk di depan Syaza. Dia merenung wajah gadis itu.
"Aku lihat mukamu pucat ! Kamu sedang tidak sehat ya ?" Tanya Najwan sambil memerhatikan di sekitar meja Syaza. Pandangan matanya terhenti pada sebuket bunga mawar putih yang terletak di sudut meja gadis itu.
"Kemarin aku cuti sakit... Sedikit demam," jelas Syaza sambil menyusun file yang berantakan di atas mejanya. Dia melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 4.30 sore.
"Aku harus telepon Anita nih ! Tadi dia pesan kalau aku mau pulang, telepon dia dulu !" Syaza mengambil ponselnya yang terletak di atas meja.
"Syaz, kamu bilang hari itu kamu tidak punya teman pria kan ?" Tanya Najwan sinis.
"Jadi, siapa yang hantar bunga yang cantik itu padamu ?" Soal Najwan sambil mulutnya memoncong ke arah sejambak bunga mawar putih itu. Dia melihat Syaza ketawa kecil.
"Oh, soal Bungan mawar putih itu ! Sebenarnya, seorang teman yang ngasih. Dia mau minta maaf atas kesalahan yang telah dia lakukan terhadapku. Itu saja !"
__ADS_1
Syaza mencoba sekali lagi menekan nomor telepon Anita dan nomor apartemennya, tapi sahabatnya itu masih belum juga dapat di hubungi. Syaza mengeluh perlahan. (Bagaimana ini ? Kalau tidak bisa dihubungi juga si Nita, sore ini aku pulang naik bus lah kayaknya !).
"Syaz, kamu baik-baik saja? Aku lihat kamu seperti nya resah ! Pertanyaanku sampai tidak di jawab," ucap Najwan heran.
"Tadi pagi aku datang kerja Nita yang antar. Dia pesan kalau mau pulang telepon dia dulu, nanti dia akan datang menjemputku. Sekarang jariku ini sudah pegal menekan nomor telepon tapi masih tidak dapat menghubungi dia," luah Syaza dalam nada kesal.
"Laa... Itu ternyata masalahnya yang buat kamu susah hati ? Kan ada aku ! Kebetulan juga aku mau ajak kamu keluar malam ini. Kamu ada waktu tak ?" Soal Najwan lagi.
"Kenapa kamu mau ajak aku keluar malam ini ?"
"Aku mau bicara soal rencanamu hari itu !"
Syaza terdiam memikirkan ajakan Najwan. (Bagus juga rencana dia ini, aku tidak usah repot-repot mau naik bus pulang nanti. Kata orang rezeki jangan ditolak, maut jangan dicari).
"Oke ! Aku setuju tapi aku mau tanya bosku dulu kalau dia perlu aku untuk kerja lembur. Kamu tunggu sebentar ya !" Syaza melangkah ke ruangan Arif tapi langkahnya terhenti tiba-tiba apabila pintu ruangan Arif itu dibuka dari dalam. Dia dan Arif sama-sama terkejut memandang antara satu sama lain.
__ADS_1
"Err... Tuan arif ! Kalau tak ada kerja aku pulang dulu ya !" Syaza bersuara setelah rasa terkejutnya hilang. Dia tersenyum apabila pria itu menganggukkan kepalanya.
"Naj ! Kamu belum kenal dengan Tuan Arif, kan ?" Tanya Syaza setelah kembali ke mejanya. Tangannya mengambil tas yang terletak di atas meja.