
Syaza menekan perutnya yang terasa menusuk itu. Semenjak sampai ke rumah petang tadi, tiba-tiba penyakit maag nya kembali menyerang. Sudah dua kali dia ke kamar mandi karena tenggorokannya yang terasa mual dan pahit. Tubuhnya direbahkan dia atas kasur sambil tangannya asyik menggosok perut. Dilihatnya jam di dinding yang sudah menunjukkan hampir pukul 8 malam.
"Sebentar lagi Naj sampai... Bagaimana ini ? Mana si Daniel tidak bisa ikut lagi..." Syaza mengomel sendiri.
Najwan yang berada di bawah bangunan Apartemen Mutiara sudah resah menunggu Syaza.
"Mana Syaza ini ? Tadi dia juga yang pesan suruh aku datang sebelum pukul setengah delapan... Sekarang sudah pukul delapan lebih, batang hidungnya pun tak terlihat !" Najwan merungut sendiri.
Belum sempat dia menekan nomor telepon wanita itu, tiba-tiba ponselnya berbunyi nyaring.
"Syaz, kenapa kau tak turun ? Aku sudah lama tunggu kau di bawah nih. Cepatlah sedikit !"
"Naj, tolong aku. Aku sudah tak bisa untuk pergi kemana-mana. Perutku sangat sakit sekarang. Tolong antarkan aku ke klinik, Nita pulang kampung. Please !"
Ketika terdengar esakan Syaza melalui corong ponselnya, Najwan menjadi gelisah.
"Alamak ! Bagaimana ini ? Masa aku harus naik ke apartemennya ?"
"Syaz, aku tak..." Kata-kata dari bibirnya tidak dapat diselesaikan ketika sambungan terputus tiba-tiba.
__ADS_1
"Penyakit dia sudah sangat parah kah ?" Najwan menggaruk-garuk kepalanya memikirkan perasaan serba salahnya dan mau naik ke apartemen Syaza atau tidak.
Setelah berfikir selama beberapa menit, akhirnya dia mengambil keputusan untuk menolong temannya itu. Najwan berlari-lari kecil mencari nomor apartemen Syaza setelah kakinya melangkah keluar dari lift yang berhenti di tingkat delapan.
"Hah ! Ini dia apartemennya." Najwan menekan bel yang berada di dekat pintu.
"Untung dia pernah beritahu aku nomor apartemennya, kalau tidak sampai kapan aku akan mencarinya."
Syaza di rumahnya sudah tidak bisa bertahan lagi. Dia menekan perutnya yang terasa menusuk itu dengan telapak tangannya. Dia coba menahan tekaknya yang terasa mual tiba-tiba sambil Coba melelapkan mata untuk meringankan kesakitan yang semakin buruk.
"Mana Naj ini ?"
(Sepertinya itu Naj ?) Dia menebak dalam hati. Dia lalu membuka pintu.
Najwan terkejut memandang wajah Syaza yang kelihatan begitu pucat dan lesu. Tapi belum sempat dia berkata apa-apa, Syaza berlari kencang menuju ke arah dapur sambil menutup mulutnya. Najwan mengikuti langkah gadis itu setelah menutup pintu Apartemen.
Melihat Syaza yang muntah, Najwan mengurut lembut belakang gadis itu untuk melegakan kesakitan. Dia tersadar akan perbuatan yang tidak disengaja itu ketika melihat wajah Syaza yang menoleh ke arahnya dengan pandangan terkejut.
"Ops.... Sorry, tak sengaja. Cepatlah bersiap-siap. Aku bawa kau pergi ke klinik sekarang," katanya sambil tersenyum sinis ketika melihat gadis itu hanya memakan baju T ketat dengan celana selutut.
__ADS_1
(Terlihat seksi juga dia ini !) Hatinya berkata nakal.
Syaza terus melangkah ke kamar tidurnya untuk mengganti baju. Tiba-tiba telinganya terdengar ketukan di depan pintu.
"Siapa juga yang datang nih tak bisakah dia tekan bel yang ada di situ ?" Syaza sedikit mengomel sambil kakinya melangkah ke arah pintu. Dia tahu bukan teman serumahnya, Anita yang mengetuk pintu tersebut karena Anita punya kunci apartemennya sendiri. Perutnya yang terasa menusuk-nusuk tadi rasanya sudah berangsur membaik.
Tanpa melihat lubang kecil di pintu apartemennya, Syaza terus saja membuka pintu. Syaza merasa nafasnya seakan-akan terhenti ketika melihat lima orang pria sedang berdiri di depan pintu apartemennya.
"Dik, kami dari Departemen Islam. Kami dapat aduan mengatakan di rumah ini terjadi maksiat."
Kata-kata dari salah seorang pria yang memakai songkok membuat Syaza diam seribu bahasa. Dia serasa ingin menunduk di atas lantai, namun tangannya segera memegang pintu Apartemen. Perutnya yang sakit tadi dirasakannya sembuh seketika karena kejutan yang tida terduga itu.
"Tapi saya tak berbuat apa-apa, Tuan." Dia coba menerangkan hal yang sebenarnya. Pada kala itu juga terbayang-bayang wajah umi dan keluarganya di kampung. Syaza menjadi sebak.
"Kamu tak tahu adik berkata benar atau tidak. Boleh kamu masuk ke dalam apartmen adik untuk periksa apa dakwaan maksiat ini benar atau salah ?"
Syaza tidak bisa berkata-kata lagi lalu hanya mengganggukkan kepala dapat diberikannya saat itu.
Najwan yang sedang berjalan keluar dari kamar mandi terkejut ketika melihat lima orang pria berpakaian seragam seperti orang bekerja di departemen agama sedang memandangnya tajam. Dan di belakangnya itu dia melihat Syaza sedang memandangnya sayu. Nampaknya apa yang ditakutinya tadi sebelum melangkah memasuki aoartemen Syaza benar-benar telah berlaku. Sekarang sudah sah mereka berdua ditangkap basah. Najwan mengesat keringat yang mengalir tiba-tiba di dahinya. Dia tahu itu bukan keringat karena kepanasan, tapi keringat ketakutan. Terbayang-bayang di ruang mata imej kerjanya yang bersih selama ini akan tercemar tidak lama lagi.
__ADS_1