Cinta Syaza

Cinta Syaza
Episode 41


__ADS_3

"Sudahlah, Naj ! Malas aku mau tanggapi lawak antar bangsa kau ini. Lebih baik aku kedapur. Kau mau air tidak ?"


Najwan menggelengkan kepala dengan senyuman yang masih terukir di bibirnya. Syaza berjalan ke dapur. Najwan merebahkan dirinya di atas sofa sambil menonton tv yang terpasang.


Hampir pukul 8 malam, Haji Hamzah Hajah Hawa pulang dari supermarket karena membeli sedikit barang untuk acara tahlil yang akan diadakan di rumah ibu Haji Hamzah. Mereka berdua terkejut melihat Najwan yang berjalan berjinjit-jinjit waktu berjalan ke meja makan.


"Kenapa dengan kakimu, Najwan ? Kau jatuh dimana ?" Tanya Haji Hamzah penasaran. Dia melihat Syaza dan Ammir nyengir-nyengir sewaktu menyedok nasi ke dalam piring. (Ini pasti ada sesuatu yang mencurigakan ! Kalau tidak, kedua anak ini tidak akan nyengir-nyengir seperti kerang busuk) hati Haji Hamzah berkata.


"Saya jatuh dari pohon rambutan, Paman," kata Najwan tersipu malu. Dia merasa ada raut risau pada wajah ibu bapak Syaza.


"Kau mau apa panjat pohon rambutan itu ? Kalau kau mau makan buahnya, biar Ammir ini panjat. Dia ini bisa panjat apapun. Cuma satu saja Paman harap dia tak panjat."

__ADS_1


"Apa itu, Paman ?" Najwan bertanya tiba-tiba. Perasaan ingin tahu segera datang dalam hatinya. Dia melihat semua orang memandang ke arah Haji Hamzah dengan perasaan ingin tahu, termasuk Ammir sendiri.


"Jangan sampai dia panjat anak gadis orang, sudahlah !" Penjelasan Haji Hamzah itu meletuskan tawa mereka, cuma wajah Ammir saja yang masam cuka tiba-tiba.


"Kalau dia panjat juga, kita nikahkan saja dia, Abah !" Usik Syaza sambil menyendok kan lauk ke piring Najwan. Najwan memandangnya dengan senyuman yang terukir di bibir.


"Eleh ! Mir masih di bawah umur ! Kalau Kak Jaja dengan abang Najwan, bolehlah. Sekarang juga Mir bisa panggil Pak imam untuk nikahkan Kak Jaja. Benar tak, Abah ?" Kata Ammir sambil nyengir-nyengir.


"Memang dasar Mir ini ya ! Dari sore tadi tak habis-habisnyab mengusik Kak Jaja," Syaza berkata kesal lalu tangannya cepat menarik telinga Ammir yang kebetulan duduk disebelahnya.


"Apalah Kak Jaja ini, sakit tahu !" Ammir lalu menggosok-gosok telinganya.

__ADS_1


"Tahu rasa... Lain kali kalau mau bicara, difikir dulu."


"Sudah-sudahlah ! Kita ini di meja makan. Tak baik berbicara. Najwan sudah menambah nasi dia. Kalian berdua dari tadi asyik dengan sepotong itu saja !" Teguran Haji Hamzah membuat mereka berdua terdiam. Najwan yang sedang asyik menyuap nasi hanya tersenyum malu mendengar kata-kata bapak tiri Syaza. (Malunya... Seperti orang kurang makan saja aku ini ! Tapi mau bagaimana lagi, masakan yang terhidang di depanku ini sungguh lezat).


Setelah makan, Najwan minta izin untuk masuk tidur lebih dulu. Dia melihat Syaza sedang duduk di luar rumah sambil membuka ponselnya. (Apa yang sedang dilakukan Syaza dengan ponselnya itu ? Tak perlulah kepo... Lebih baik aku tidur dulu) kata hati Najwan. Dia lalu masuk ke kamar untuk Istirahat.


Di luar rumah Syaza menekan tombol di ponselnya untuk membaca kiriman WhatsApp yang baru diterima.


[Hai, sudah tidur ya ? Maaf mengganggumu. Aku cuma mau bilang aku merindukanmu ! Apa kau merindukanku ? Semoga mimpi indah malam ini. Selamat malam ! Bye !]


Dia tersenyum tipis setelah melihat chatt yang dikirim oleh Daniel. "Sudah mabuk cinta di makhluk satu ini ? Kirim chatt konyol juga. Aku merindukanmu, apa kau rindu aku ? Eee... Romantisnya chatt dia kali ini. Seperti aku ini pacarnya dia saja," bibir Syaza mengomel perlahan sambil melangkah ke ruang tamu. Dia merasa Najwan tiada di ruang tamu bersama keluarganya.

__ADS_1


__ADS_2