
"Daniel, kenapa kenapa kau jadi buyar tadi pagi sampai salah tempat meeting, apa kau ada masalah ?" Soal Syaza pada pria yang sedang duduk bertentangan dengannya di dalam ruangan Daniel. Dia sebenarnya mau bertanya soal itu pada Daniel sewaktu mereka makan bersama siang tadi, tapi karena Najwan ada bersama, pertanyaan itu terpaksa disimpannya.
Daniel serba salah mau berterus terang karena takut Syaza akan menertawakannya. Tapi, dia tahu, jika dia tidak berterus terang sekarang, pergolakan dalam jiwanya tidak akan reda sampai kapanpun.
",Syaz ! Aku sebenarnya mau..." Kata-kata yang mau diluahkannya pada gadis itu terhenti serta-merta apabila pintu ruangannya di ketuk dari luar.
"Maafkan aku ! Syaz, ada telepon dari temanmu, penting katanya."
Kata-kata Aliah itu membuat Syaza melangkah cepat meninggalkan ruangan Daniel.
"Assalamu'alaikum, Nita ! Temanku bilang ada hal penting, ada apa ?"
"Apa ? Nenekmu sudah meninggal dunia ? Kapan ?"
__ADS_1
"Tadi pagi ? Nita, aku harap kamu bersabar oke ! Terus, berapa lama kamu di kampung ?"
"Oke, aku faham. Aku minta maaf karena tak bisa pergi menziarahi jenazah nenekmu. Kita jumpa kalau kau pulang ke sini nanti, oke !"
"Bawa bersabar ya ! Assalamu'alaikum ! Sampai jumpa !"
Syaza menyandarkan badannya pada kursi. Dia meraup muka dengan tangannya. Kasihan Anita. Nenek yang amat disayanginya sudah menyahut panggilan ilahi. Syaza teringat betapa baiknya perlakuan nenek Anita kepadanya sewaktu dia berkunjung ke kampung Anita waktu majlis pertunangan sahabatnya dulu. Sebak rasanya ketika mengingat kata-kata nenek Anita.
*FLASHBACK ON
*FLASHBACK OFF
Air mata yang mengalir di pipi diseka dengan jarinya. (Maafkan Syaza, nek ! Syaza tidak dapat mentakziahi nenek untuk terakhir kalinya. Syaza hanya bisa menghadiahkan Al-Fatihah dari kejauhan ini, nek ! Insya Allah, akan sampai juga suatu hari nanti, Syaza akan berubah dari kehidupan yang Syaza jalani sekarang. Syaza akan ingat pesan nenek itu), dia berbisik dalam hati setelah selesai membaca Al-Fatihah secara perlahan.
__ADS_1
Najwan yang baru keluar dari ruangan Ny. Maznah geran melihat Syaza yang sedang merenung sayu layar komputer tanpa berbuat apa-apa. Siang hari tadi baru saja bergelak tawa, kenapa sekarang jadi bersedih ?
"Syaz, ada masalah ? Terlihat sedang sedih kau ini."
"Sebenarnya, baru tadi aku dapat telefon dari Anita. Dia beritahu aku kalau nenek dia baru saja meninggal dunia pagi tadi. Aku dekat juga dengan nenek dia, tapi waktu ini aku tak bisa ambil cuti untuk bertakziah jenazahnya. Aku banyak kerjaan sekarang. Sebab itu aku sedih."
"Inna ilaihi wainnailaihi rojiun, nanti tolong sampaikan ucapan takziahku pada Anita ya ! Okelah, aku mau pergi dulu, sampai jumpa Minggu depan sebelum kita pergi pulang ke kampungmu. Setelah aku menyelesaikan pekerjaanku. Sampai jumpa !" Ujar Najwan sambil berjalan meninggalkan kantor tersebut.
Syaza hanya memerhatikan langkah pria itu menghilang di baluj pintu kantor. Dia kembali menyambung kerjanya yang terbengkalai tadi karena mengingat kenangan bersama arwah nenek Anita.
# 1 Minggu kemudian...
Anita sudah kembali bekerja setelah hampir seminggu cuti dan Syaza sendiri sibuk menghitung hari untuk pulang ke kampung bersama Najwan. Dia merasa lega karena permohonan cutinya di terima, cuma sebelum itu lelah juga mulutnya menjawab pertanyaan dari Tuan Arif. Sikapnya semakin aneh belakangan ini. Syaza dapat merasakan jika mereka cuma berdua saja di dalam ruangan ataupun waktu dia menemani pria itu bertemu klien yang telah di jadwalkan, perlakuan pria itu semakin mesra. Dari perlakuan Tuan Arif, Syaza dapat merasakan kalau pria itu ingin berhubungan lebih rapat dengannya.
__ADS_1
Setelah selesai menunaikan sholat subuh, Syaza mengambil kemeja berwarna biru soft yang baru dibelinya dua hari lalu dan dikenakan dengan jeans berwarna hitam. Walaupun dia tahu dia akan merasa risih dengan pakaian itu, tapi terpaksa dipendamkan dalam hati karena memikirkan mulut uminya yang akan bising jika melihat dia asyik memakai baju ataupun kemeja longgar seperti tomboi kalau pulang ke kampung.
Kemudian Syaza mengikat kepalanya dengan kain bandana biru sambil sesekali meneliti wajahnya yang hanya dipoles tipis. Jarum jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 6.40 pagi. Kemudian dia terus menuju ke kamar Anita.