Cinta Syaza

Cinta Syaza
Episode 40


__ADS_3

"Naj, bisakah kau tolong ambilkan buah rambutan yang matang di atas pohon itu ?" Tanya Syaza sambil jarinya menunjuk ke atas pohon rambutan.


Najwan mengerutkan dahinya. (Dia mau suruh aku panjat pohon itu ? Yang benar saja ! Aku tidak mahir dalam bidang panjat-memanjat) hati Najwan resah.


"Tolonglah, Naj. Di rumah ini tak ada galah buat kait buat itu. Si Ammir juga malas. Tolong..."


(Aduhai... Terpaksalah aku panjat juga pohon rambutan ini. Masa iya aku menunjukkan padanya kalau aku tak bisa panjat pohon. Hilang juga macho aku!) Najwan berkata dalam hati.


Najwan lalu memanjat dahan pohon rambutan yang rindang itu dengan hati-hati. Walaupun pohon itu terlihat rendah tapi di hatinya tetap ada perasaan takut. (Ya Allah ! Jangan sampai terjadi apa-apa padaku !) Dia berdoa dalam hati. Jika salah langkah tubuhnya yang tegap akan jatuh ke tanah seperti nangka busuk. Dia pasti akan malu kalau benar-benar terjadi di hadapan Syaza.


Syaza tersenyum lucu ketika melihat Najwan ragu-ragu untuk memijakkan kakinya ke setiap dahan pohon. (Naj ini tidak pernah panjat pohon rupanya. Sombong mau menunjukkan macho padaku rupanya) Syaza berkata dalam hati.


Najwan menarik dahan kecil untuk memetik buah rambutan tanpa menyadari kakinya tidak memijak dahan dengan benar. Tiba-tiba dia merasa badannya sudah tidak dapat diimbangi lagi lalu dengan sekap mata saja dirinya sudah jatuh di atas tanah.


"Ya Allah !" Syaza menjerit melihat tubuh pria itu jatuh di depan matanya. Dia segera menghampiri Najwan yang sedang mengerang kesakitan sambil memegang kaki kirinya.


"Naj, apa kau baik-baik saja ?" Hanya itu yang bisa dikatakan. Dia masih tercengang dengan apa yang terjadi sehingga membuat lidahnya kelu.


"Kakiku sedikit sakit. Mungkin keseleo."

__ADS_1


"Mir, tolong Kak Jaja ! Abang Naj jatuh !" Jerit Syaza pada adiknya yang berada di dalam rumah.


Ammir berlari cepat mendapati mereka. Terlihat Najwan sedang mencoba berdiri sambil dibantu oleh kakaknya. Mereka berdua membantu Najwan masuk ke rumah. Syaza lalu mencari minyak urut di dalam lemari di dapur untuk merawat kaki Najwan yang keseleo.


"Naj, apa benar kakimu hanya keseleo... Bukannya patah ?" Tanya Syaza bimbang. Matanya sudah digenangi air mata menahan sebak melihat kesakitan yang dialami Najwan. Dia menyesal. Kalau bukan dia yang menyuruh Najwan, sahabatnya itu tidak akan cidera seperti itu.


"Kau jangan khawatir ! Memang kakiku ini cuma keseleo saja," bujuk Najwan setelah melihat wajah sayu dan takut Syaza ketika melihat kecederaannya. Dia merasa ada air mata yang bergenang di kelopak mata gadis itu.


Syaza lega mendengar penjelasan Najwan. Sambil duduk bersila dia memegang kaki pria di depannya itu. Digosoknya kaki kiri Najwan. Dia mengoles kaki kiri Najwan dengan minyak urut dan mengurutnya dengan hati-hati.


Najwan terkesima dengan perlakuan Syaza itu. Dia mau menolak perbuatan Syaza tapi urutan lembut dari tangan Syaza mengurungkan niatnya. Direnung wajah Syaza yang tunduk mengurut kakinya. Dia tidak menyangka sahabatnya yang tomboi itu mempunyai sifat kelembutan yang sejati.


""Aku sangat-sangat minta maaf, Naj. Karena aku, kau jadi begini," kata Syaza dalam nada sesal. Terlihat dahi Najwan berkerut-kerut menahan sakit karena urutannya.


"Kau tak salah. Aku yang berlagak pintar. Sombong mau tunjukkan macho padamu... Tiba-tiba terjatuh seperti nangka busuk," jelas Najwan sambil sedikit ketawa. Dia melihat Ammir yang duduk disisi mereka ikut ketawa.


"Abang Naj mau tahu tidak ? Kak Jaja ini memang pandai mengurut. Dia belajar dimana kami semua tak tahu. Dan kalau Abang mau tahu, sepanjang Ammir tumbuh bersama... Ini pertama kalinya kakak kesayangan Ammir ini menangis karena seorang pria. Sepertinya Abang ini memang pria yang beruntung dapat membuat Kak Jaja mengalirkan air mata. Seram sekali Abang Naj ini !" Usikan Ammir membuat pipi Syaza merah merona karena malu. Dia melirik tajam pada Ammir. (Awas kau Mir !).


"Mir ini mau tahu !" Belum sempat Syaza mencubitnya, Ammir segera bangun dan berlari ke dalam kamarnya sambil ketawa terbahak-bahak.

__ADS_1


Najwan hanya tersenyum memerhatikan gelagat Syaza dan adiknya. Memang terlihat keakraban mereka yang senantiasa bersenda gurau.


"Kaki kau masih berasa sakitkah, Naj ? Kalau sudah mendingan, aku mau ke dapur dulu."


"Aku sudah merasa agak mendingan... Terima kasih karena urut kakiku."


"Baiklah ! Tapi setelah ini kau harus kasih aku pengerasnya."


"Apa ? Upah ? Seperti apa bentuknya itu ? Kau mau mengeraskan apa ?"


Syaza ingin ketawa dengan pertanyaan Najwan yang bernada lucu itu. (Memang benar-benar bocah kota si Naj ini. Pengeras pun tak tahu) hatinya berkata lucu.


"Naj, kalau kau mau tahu... Pengeras itu seperti bayaran untuk tukang urut di kampung. Okelah, aku oergi ke dapur dulu. Kau mau minum air apa ? Nanti aku bisa buatkan."


"Syaz ! Kau mau minta apa sebagai pengerasnya ?" Tanya Najwan sambil tersenyum sinis. Dia sengaja ingin mengusik gadis tomboi itu. Matanya melihat Syaza sedikit ketawa sambil menutup botol minyak urut.


"Kalau aku minta mobil kau yang di luar itu sebagai pengerasnya, apa boleh ?"


"Amboi, mak urut ! Berlebihan sekali pengeras yang mak minta. Masa sekedar mengurut sedikit kaki saya, Mak mau minta mobil ? Mak urut mintalah benda-benda yang sedikit kecil seperti duit sepuluh ribu ? Atau dua puluh ribu ? Kalau Mak mau, sekarang juga saya bisa kasih. Lagipula mobil saya itu belum lunas, Mak !" Kata Najwan datar.

__ADS_1


"Ewah... Ewah... Tuan Aizad Najwan kira gampang mau memperoleh pijat urut dari Mak urut tomboi seperti saya. Kalau sekedar duit sepuluh dan duapuluh ribu itu, lebih baik saya simpan di tabungan gajah di dalam kamar saya," balas Syaza berpura-pura serius, tapi melihat gelagat Najwan yang tersenyum mengejek, dia akhirnya menghamburkan tawa bersama dengan pria itu.


__ADS_2