
(Tok... Tok... Tok...) Syaza terbangun dari tidur apabila ketukan pada pintu kamar mengejutkannya. Cahaya matahari yang memancarkan sinarnya menembus tirai jendela kamar itu terasa menerangkan suasana.
"Alamak ! Pukul berapa sekarang ?" Syaza menggosok-gosok matanya yang kelam. Dia lantas mengambil ponselnya.
"Pantas saja aku terlewat bangun sampai subuh pun aku langgar, telepon ini sudah habis beterai rupanya," Syaza merungut perlahan lalu mencampakkan telepon itu di atas kasur. Buru-buru dia melangkah ke pintu kamar apabila ketukan tadi masih berbunyi. Di depan pintu kamar yang dibukanya, berdiri Anita dengan muka yang kesal.
"Ada apa, Nita ?" Syaza bertanya dengan nada malas sambil menutup mulutnya yang sedang menguap. Dia mengukir senyuman sumbing ke sahabatnya itu.
"Kamu baru bangun ya, Syaz ? Biasanya kamu orang terawal bangun dari tidur. Kayanya subuh pun kamu telat ya ?" Tanya Anita sinis walaupun dia sendiri telat subuh tadi. Dia melihat Syaza menganggukkan kepala sambil tersengih-sengih.
__ADS_1
"Aku pasang alarm di handphone aku pukul enam tapi rupanya baterainya sudah habis... Jadi faham-faham sajalah. Oh, ya ! Kenapa kamu ketuk pintu kamar aku tadi ?"
"Ada call untuk kamu, dari Daniel. Cepatlah ! Mamat tu sudah lama tunggu," kata Anita lantas berjalan menuju ke kamarnya. Dia ingin menyambung kembali tidurnya yang terganggu karena deringan telepon tadi. Untungnya hari ini libur, jadi dia bisa tidur sampai tengah hari.
"Helo, Daniel. Mimpi apa kamu telpon aku pagi-pagi buta ?" Syaza bertanya sambil memandang jam dinding. Sudah pukul delapan ternyata.
"Apa ! Kamu tak jadi ikut aku dan Najwan pergi main boling ? What's going on ?"
"Okelah, aku terima alasanmu itu tapi Senin depan jangan lupa kamu cerita padaku soal kencanmu. Have fun... Bye !" Syaza meletakkan telepon. Bibirnya masih tersenyum mengingat perangai Daniel. Kasihan lelaki itu. Sampai sekarang masih belum bertemu dengan wanita idaman hatinya. Tidak lelah mencari. Mentang-mentang mukanya tampan, mau cari pacar pun harus yang cantik. Sama seperti Najwan. Sepertinya kebanyakan lelaki lacak ini memang bersikap seperti itu.
__ADS_1
(Kalau seperti aku yang tomboi ini rasa-rasanya mereka awal-awal lagi sudah reject mungkin !) Kata hati Syaza.
Syaza melangkah malas ke kamarnya. Tangannya tangkas merapikan kasur serta menarik tirai yang menutupi jendela kamar. Cahaya matahari pagi menerjang terus ke wajahnya. Syaza memang suka dengan suasana begitu. Baginya cahaya matahari pagi yang bersinar ke kamarnya setiap hari seakan-akan memberi tenaga yang istimewa padanya untuk menjalani kehidupannya sepanjang hari. Dan karena itulah dia terpaksa mencabut undi dengan Anita untuk memilih kamar tidur di apartemen mereka karena Anita juga berkenan dengan kamar yang dihuninya ini.
Syaza mengambil handuk lalu menuju ke kamar mandi. Setelah selesai membersihkan diri, dia duduk menghadap cermin. Disapu sedikit lip gloss ke bibirnya. Pipinya yang bersih tanpa ditumbuhi jerawat dibiarkan tanpa sapuan Compact powder. Syaza mengambil kain skaf dan mengikatnya di kepala. Dia bangun sambil meneliti tubuhnya dari bawah ke atas. Dengan seluar kaki serta baju T bertuliskan santa Barbara, Syaza puas dengan penampilan simpelnya itu. Dia segera mengambil dompet dan kunci mobilnya lalu melangkah keluar dari kamar.
"Tidur lagi ya si Nita ini ?" Syaza meneka sendiri apabila melihat Anita tiada di ruang tamu atau di dapur.
"Nita, aku mau keluar sarapan, kamu mau ituk tidak ?" Syaza bersuara sambil mengetuk pintu kamar sahabatnya itu. Hampir lima menit dia mengetuk pintu itu tetapi Anita masih belum juga membuka pintu, atau menyahuti panggilannya. Akhirnya Syaza membuat keputusan untuk membiarkan saja Anita menyambung tidurnya di kamar. Dia mengatur langkah ke pintu.
__ADS_1
"Syaza, tolong belikan aku nasi uduk lauk ayam. Pakai uang kamu dulu ya !" Jeritan Anita menerjah gendang telinga Syaza semasa dia sedang memakai sendal. Syaza berpaling ke arah kamar Anita dan dilihatnya kepala gadis itu keluar di muka pintu kamar sambil tersengih.
"Oke... Aku keluar dulu !" Syaza bersuara kuat membalas kata-kata Anita. Dia menarik gagang pintu lalu berlari kencang menuju ke lif apabila dilihatnya pintu lif itu sedang terbuka karena ada beberapa orang penghuni tingkat yang sama dengannya itu juga hendak turun ke bawah.