
"Okelah ! Ada roli ada bas, ada hari bisa balas... Kau tunggu saja !" Syaza kembali ketawa dengan aksi Najwan yang seperti mengancamnya itu. Dia melihat dahi Najwan berkerut-kerut menahan sakit.
Suasana sepi menghiasi keadaan sewaktu mereka sedang asyik mengahadap makanan. Syaza fokus memotong daging steak dan menyuapnya ke dalam mulut.
"Naj, kamu benar-benar mau menolongku ?" Tanya Syaza setelah mereka selesai makan.
"Kau kan sudah mengenalku, Syaz ! Kau kan tahu aku tipe orang tak suka main-main dengan apa yang aku katakan. Kau jangan risau. Jika saya berjanji, saya akan melakukannya ! Cuma aku mau tahu apa yang kau mau aku lakukan waktu aku bertemu dengan umi kamu nanti."
Syaza yang sedang menyedot minumannya memandang Najwan sambil nyengir-nyengir. Dia tahu pria itu tentu bertanya-tanya apa rencananya. Akhirnya dia membuka mulut menceritakan segala rencananya.
"Jadi kita pulang kampungmu akhir bulan ini ? Berapa hari ? Jangan lama-lama sebab aku ada kasus yang mau aku tangani awal bulan depan."
__ADS_1
"Aku ingat kita pulang kampungku hari Sabtu dan pulang ke sini hari Senin. Maknanya kita harus ambil cuti hari Senin saja. Kau setuju tidak ?" Tanya Syaza sambil mengesat mulutnya dengan tisu.
"Aku setuju !"
Najwan dan Syaza keluar dari restoran itu setelah hampir dua jam berada disitu. Mereka berdua mulai memikirkan apa yang akan mereka lalui dua minggu kedepan.
Daniel mengintai Syaza dari balik tirai jendela ruangannya. Kelihatan ceria gadis itu. (Kemarin mukanya sangat pucat tapi hari ini sudah kelihatan lain. Ada apakah ? Mungkin karena kiriman bunga semalam kayaknya ? Tapi siapa pengirim bunga itu ?) Hatinya tiba-tiba dibaluti rasa cemburu. Dia mengambil Tas kantor dan ponselnya lalu berjalan keluar.
"Syaz, kasih tahu bos, aku keluar dulu."
Daniel merenung orang yang lalu-lalang di luar restoran itu. Hatinya panas ketika memikirkan Syaza tak memperhatiannya padanya hari ini. Dia menyedot jus orange untuk melegakan perasaan yang berkecamuk itu.
__ADS_1
"Mana Tuan Arif dan Tuan Mukhtar ini ? Kemarin janji mau rapat disini," Daniel merungut sendirian. Jarum jam di pergelangan tangannya menunjukkan mereka yang ditunggu itu sudah telat setengah jam.
Daniel mengambil ponselnya untuk menelepon kantor. (Sudah habis baterai rupanya. Kenapa sekarang telepon ini membuat masalah juga ?) Perasaan kesal kembali muncul dalam hatinya. Kakinya diatur cepat ke kasir restoran itu.
"Permisi ! Boleh saya pinjam telepon untuk sebentar saja ? Saya ingin membuat panggilan Mendesak," ujar Daniel pada pekerja yang berada di kasir sambil tersenyum manis walaupun hakikat sebenarnya mukanya sudah terasa tebal karena malu. Anggukan gadis itu melegakan hatinya.
"Syaz, aku mau tanya. Tuan Arif sudah keluar belum ?" Soal Daniel setelah mendengar suara gadis yang menyebabkan hatinya gundah-gulana hari ini menjawab panggilannya.
"Kau dimana, Daniel ? Tuan Arif dan Tuan Mukhtar sudah lama tunggu kau di restoran Century."
Daniel menepuk dahinya setelah mendengar jawaban dari gadis itu. (Patutlah seperti orang bodoh aku tunggu di sini, rupa-rupanya aku salah tempat) kata hati Daniel kesal.
__ADS_1
"Err... Sebenarnya aku salah tempat, Syaz ! Okelah, aku harus mengembalikan telepon ini dulu. Sampai jumpa !" Daniel meletakkan gagang telepon lalu membayar harga jus orangenya tadi. Langkah kakinya di atur cepat setelah mengucapkan terima kasih pada gadis itu. Dia merasa gadis itu mengukirkan senyuman manis padanya sebelum dia pergi.
Syaza merenung gagang telepon sebelum meletakkannya kembali. Lucu rasanya mendengar kata-kata Daniel melalui telepon tadi. Sepanjang hari itu Syaza masih memikirkan kembali kisah lucu Daniel yang salah tempat meeting itu.