
"Syaz... Syaz... Bangunlah ! Sudah jam 7 nih. Kamu tidak kerja hari ini ?" Anita menepuk badan Syaza yang berselimut menutupi badannya hingga ke kaki.
(Eh, badan dia panas nih !) Anita berkata dalam hati setelah tangannya menyentuh leher Syaza yang tidak diselimuti oleh bedcover.
"Syaz, kamu demam ! Mau ku antar kamu ke klinik ?" Tanya Anita dalam nada risau. Dia melihat sahabatnya menggelengkan kepala.
"Nita, kamu jangan risau. Aku demam biasa saja. Tapi, bisa tidak kamu ambil telefon di atas meja rias itu. Aku mau telefon orang kantor sebentar lagi untuk memberitahu hari ini aku izin."
Anita meninggalkan rumah itu setelah menyediakan sarapan untuk Syaza. Waktu dia membawa sarapan ke dalam kamar Syaza, gadis itu kembali menyelimuti dirinya. Dia ingin memohon izin untuk menemani Syaza, tapi gadis itu bersikeras supaya dia membatalkan saja hasratnya. Anita merasa ada kesan lebam kebiruan di dahinya. Dia berharap semoga Syaza tidak mengalami masalah apapun.
__ADS_1
Daniel sampai di kantor setelah jarum jam menunjukkan pukul 9.01 menit. Dia dan Syaza selalu berlomba siapa yang datang duluan ke kantor sebelum jam 9 dan hari ini dia tahu dia kalah lagi. Ketika dia melalui Jalan Klang Lama menuju ke Syed Putra, ada kecelakaan di Siputih. Karena kecelakaan itu, jalan tersebut mengalami kemacetan yang parah.
Waktu dia berjalan melintasi meja Syaza, dia melihat meja gadis itu kosong. (Dia pergi sarapan kayaknya ?) Daniel menebak dalam hatinya. Dia terus masuk ke ruangannya. Tangannya menarik korden yang menutupi jendela ruangan itu. Punggungnya direbahkan di atas kursi. Setelah 5 menit berlalu dia mengambil file yang mengandung berkas cadangan untuk produk proyek Prima Holdings Company Yang dia dan Arif bicarakan kemarin sore. Matanya meneliti kembali cadangan-cadangan itu.
Dia dalam ruangan arif, kelihatan pria itu bersandar lemah menatap ponselnya. Dari raut wajahnya terpancar kerisauan yang dalam. Dia tahu alasan Syaza mengambil cuti sakit adalah karena perbuatannya pada gadis itu kemarin.
"Apa parah sakitnya ?" Arif bertanya-tanya sendiri. Dia merasa serba salah apa mau telepon gadis itu atau tidak.
Arif merenung ponselnya. Panggilannya langsung ditolak oleh gadis itu. (Mungki dia masih marah padaku sepertinya ?) Arif cepat bangun menuju ke ruangan mamanya. Dia berharap agar mamanya tidak sibuk untuk sekarang.
__ADS_1
"Bisa Arif bicara dengan mama sebentar ?" Tanyanya sambil menutup pintu. Dia melihat mamanya memandangnya dengan pandangan kesal.
"Lain kali sebelum masuk, ketuk pintu dulu ! Jangan main masuk saja ! Arif harus tunjukkan contoh yang baik pada pekerja-pekerja yang lain," Ny. Maznah bicara tegas.
"Ada hal apa arif mau bicarakan sama mama ? Cepat sedikit ! Mama ada pertemuan sebentar lagi."
Ny. Maznah memasukkan file-file penting ke dalam briefcase-nya. Sesekali dia melirik anaknya yang duduk di depannya. Dari raut wajah Arif, dia tahu anaknya sedang mengalami masalah yang berat.
"Ma, sebenarnya Arif membuat satu kesalahan. Akibatnya ada seseorang yang tak bersalah menjadi mangsa karena perbuatan Arif itu !" Ujar Arif perlahan.
__ADS_1
"Apa yang kamu bicarakan, Arif ? Apa yang telah Arif lakukan dan siapa yang jadi mangsa atas perbuatan Arif itu ?" Tanya Ny. Maznah ingin tahu. Tiba-tiba timbul perasaan bimbang di hatinya.